Kepala BKKBN Ingatkan Dampak Buruk Menikah Muda

Selasa, 27 Agu 2024, 03:03 WIB

BKKBN mengingatkan dampak buruk pernikahan dini karena menyebabkan anak yang lahir berisiko mengalami stunting dan meningkatnya perceraian.

JAKARTA - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengingatkan dampak buruk menikah muda. Harapannya, pernikahan yang ada bukan pernikahan yang terlalu dini, bukan terpaksa menikah kemudian putus sekolah.

Ket. Foto: Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo. — Sumber: Koran Jakarta/M.Ma'ruf

"Kita sedang memasuki bonus demografi. Sebetulnya penentu mau sukses atau tidak, mau sejahtera atau sengsara, tergantung remaja-remajanya," ujar Hasto, dalam keterangannya kepada awak media, di Jakarta, Senin (26/8).

Dia mengimbau, jangan sampai pernikahan menghasilkan kehamilan terlalu banyak, terlalu sering sebab dapat menambah angka stunting. Menurutnya, penting untuk tetap menjaga agar pertumbuhan penduduk tumbuh seimbang.

Hasto melanjutkan, rata-rata perempuan diharapkan punya anak 2,1 atau memiliki dua anak lebih sedikit. Di sisi lain, jarak kehamilan harus diatur dengan jangka waktu tiga tahun.

"Perhatikanlah bahwa usia pernikahan penting sekali karena banyak perceraian diakibatkan kurang dewasa," jelasnya.

Dia juga menyinggung angka perceraian yang naik pesat sejak tahun 2014. Sebelum tahun 2013, angkanya hanya 250 ribu dan saat ini sudah lebih dari 500 ribu perceraian.

Hasto mengungkapkan, gugatan cerai paling banyak berasal dari perempuan dengan persentase sebanyak 70 persen lebih gugatan. Meski demikian, bukan berarti Istri tidak baik, tapi justru karena suami kurang bertanggung jawab.

"Kalau kita lihat sebab perceraian itu karena masalah kecil yang berkepanjangan. Kalau masalah ekonomi nomor dua," ucapnya.

Gandeng Tokoh Agama

Hasto menyatakan pihaknya menggandeng tokoh agama untuk membina calon pengantin. "Kami titip kepada bapak ibu tokoh agama agar menyiapkan remaja-remaja, ataupun mereka yang sudah dewasa untuk menikah. Perhatikanlah bahwa usia pernikahan penting sekali karena banyak perceraian diakibatkan kurang dewasa," ujar Hasto dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat lalu.

Hasto menyampaikan hal tersebut dalam webinar "Penguatan Peran Tokoh Agama dalam Upaya Pencegahan Stunting di Provinsi Maluku" pada Kamis (22/8).

Ia juga menyampaikan pentingnya bimbingan calon pengantin agar keluarga menjadi bahagia, tenteram, dan mandiri karena pasangan usia muda yang baru menikah adalah salah satu penentu masa depan bangsa. "Kita sedang memasuki bonus demografi. Sebetulnya penentu mau sukses atau tidak, sejahtera atau sengsara, tergantung remaja-remajanya," katanya.

Oleh karena itu, ia berharap remaja menghindari pernikahan terlalu dini, tidak hamil terlalu banyak atau terlalu sering, utamanya kehamilan-kehamilan yang menambah angka stunting.

Ia juga terus berpesan agar menjaga pertumbuhan penduduk tumbuh seimbang di mana rata-rata perempuan diharapkan memiliki anak 2,1, artinya rata-rata perempuan memiliki dua anak atau lebih sedikit. "Supaya tidak melahirkan anak stunting, kualitasnya harus bagus, maka tolong jarak kehamilan juga diatur tiga tahun (setelah kehamilan sebelumnya)," paparnya.

Dokter spesialis kebidanan itu juga menyampaikan pentingnya menjaga kualitas keluarga dengan memberdayakan para perempuan. "Kami juga titip kualitas keluarga. Jangan lupa perempuan diberdayakan karena penentu keberlangsungan keluarga salah satunya adalah perempuan," tuturnya.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Mauliwaty Bulo, menyampaikan komitmennya terhadap pencegahan penambahan stunting akibat pernikahan dini. Pihaknya akan mendampingi remaja serta calon pengantin, pada masa kehamilan dan pada masa pascapersalinan.

"Peranan tokoh agama sangat penting dalam pembinaan dan pendampingan terhadap remaja dan calon pendamping dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga yang berkualitas," terangnya. ruf/S-2

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

Berita Terbaru

Review Lioness S3E4: Misi Penyelamatan Gagal yang Paksa CIA Langgar Garis Merah

Hari Berenang Khusus Anak Kulit Hitam di Kolam Renang Berlin Batal setelah Diwarnai Polemik Rasial

Usai Gempa M7,7 NTT: Retakan 100 Meter Muncul di Kawah Gunung Kelimutu

Pengunjung Bromo Diserang Hipotermia, Prajurit Marinir Beri Pertolongan Pertama

Berenang di Danau, Bocah 8 Tahun di Louisiana Meninggal akibat Amuba Pemakan Otak

Dibangun Bersama Guru Disabilitas, Papan Tulis AI Buatan Siswa Bandung Raih Juara Google

Pertamina Lubricants Layani Ganti Oli Gratis untuk 1.000 Pengemudi Ojol

Atas Perintah Presiden Prabowo, Menhut Raja Antoni Turun Langsung Tangani Karhutla Kalbar.

Atasi Kekeringan di Lamongan, PU Normalisasi 1,6 KM Sungai & Kerahkan Pompa

Ekosistem Terbuka Dinilai Penting untuk Memperluas Penerapan Agentic AI

Genjot Literasi Pajak Generasi Muda, IKPI Gelar Lomba Cerdas Cermat Nasional

Rumah Sekunder Makin Terjangkau secara Riil, tetapi Stok Hunian Kian Terbatas

Trump Sebut Iran “Runtuh Total”, AS Siapkan “D-Day Ekonomi” untuk Teheran

81 Miles for Indonesia, XLSmart Hubungkan Negeri lewat 5G dan Semangat Berbagi

Kelola Penuaan Kulit secara Personal dengan Pendekatan Perawatan Berlapis

Yili Tebarkan Keceriaan HUT RI ke-81 kepada 2.000 Anak di Lima Rusun

Gokuniku Resmi Buka di Jakarta, Hadirkan “Japan’s Ultimate Meat Experience”

Pendakian Gunung Sindoro, KPALH Gandawesi Bawa Pesan Jaga Alam.

Lansia Terdampak Gempa Manggarai Jadi Perhatian, Khofifah Dorong Pendampingan Psikososial.

Pemprov DKI Boyong 23 UMKM Binaan ke Pameran CISMEF 2026 di Guangzhou Tiongkok

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.