• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Jepang Gagalkan Upaya Pela...

Jepang Gagalkan Upaya Pelarian Kapal Poelau Bras

Selasa, 20 Agu 2024, 06:10 WIB

Gerak cepat pasukan Jepang tidak memberi kesempatan kepada Belanda untuk melawan dalam upaya pelariannya dari Cilacap hingga pasukan dari Negeri Matahari Terbit melakukan serangan dan nasib tragis pun dialami kapal Poelau Bras.

P

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

endudukan Jepang di Hindia Belanda berakhir pada tanggal 15 Agustus 1945, ketika Jepang mengumumkan akan menyerah. Beberapa tahun sebelumnya, panglima pasukan Belanda di Hindia Belanda menandatangani penyerahan diri kepada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942.

Selama Perang Dunia II, Belanda tidak hanya diduduki oleh Jerman, tetapi juga kehilangan koloni terbesarnya dan karenanya juga kehilangan kekayaan minyak, bauksit, dan karet, yang sangat besar. Ini juga merupakan kerugian besar bagi kekuatan Sekutu.

LamanHistoriekmenceritakan kisah upaya melarikan diri kapal terakhir Poelau Bras dari Hindia Belanda, dengan membawa pimpinan angkatan laut dan detasemen angkatan laut yang baru dibentuk di dalamnya, perwira KNIL, beberapa direktur dan manajer Shell di Hindia Belanda dan Batavia Petroleum Company bersama teknisi, serta puluhan warga lainnya termasuk perempuan dan anak-anak.

Jacob Haasnoot baru-baru ini menerbitkan bukuLambs Among Wolves - Sailing to Death in WWII. Ia bertutur tentang apa yang dialami ayahnya, Cornelis Haasnoot, dan paman yang bernama Jacob Haasnoot, di lautan selama Perang Dunia II. Bab kedelapan buku ini berisi kisah mengharukan tentang pemboman kapal Jacob, Poelau Bras, dan hari-hari yang mengenaskan di atas sekoci yang bocor.

Penulis mengungkapkan bahwa reuni Cornelis dengan saudaranya, Jacob, di New York, AS, pada akhir Desember 1941 benar-benar merupakan kejutan bagi keduanya. Mereka tidak bertemu satu sama lain selama tiga tahun dan ia masih mengingat kembali reuni mereka dengan perasaan hangat.

Dalam perang melawan Jepang, Belanda telah memihak Amerika Serikat (AS) dan Inggris. Pada saat itu, sangat jelas bagi Cornelis dan Jacob bahwa hal ini tidak berarti sesuatu yang baik. Sebelum Cornelis, Jacob telah beralih dari bekerja di penangkapan ikan dan bergabung menjadi pelaut AL di kapal kargo.

Jacob meninggalkan New York sekitar sepekan setelah keberangkatan saudaranya. Kapal Poelau Bras berangkat dari Pelabuhan Hampton Roads di Virginia, AS, dan kemudian langsung berlayar ke Jawa pada tanggal 2 Januari 1942.

Pada tanggal 15 Februari, kapal itu mencapai Cilacap di bagian barat daya Jawa Tengah. Pada hari yang sama mereka mendengar bahwa Singapura telah jatuh ke tangan Jepang.

Pada tanggal 27 Februari, di bawah komando Laksamana Muda Karel Doorman, Pertempuran di Laut Jawa berakhir dengan drama. Pada malam yang sama, kapal Poelau Bras meninggalkan Cilacap bersama dengan 23 kapal lainnya.

Kapal masih dalam perjalanan menuju posisi yang ditentukan, empat ratus mil sebelah selatan Cilacap, hingga pada pukul 13.30 datang perintah telegraf untuk segera kembali untuk mengevakuasi sebagian besar personel militer. Suatu keajaiban kapal berhasil mencapai Pulau Jawa tanpa mengalami kerusakan.

Poelau Bras berlabuh di Teluk Wijnkoops (Teluk Palabuhanratu) yang biru cerah pada tanggal 4 Maret dan para pengungsi berangkat dua hari berikutnya. Kapal itu akan menjadi kapal terakhir yang meninggalkan Pulau Jawa. Jacob melihat sekitar seratus orang pelaut dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda naik, termasuk Komandan Angkatan Laut, Laksamana Muda Van Staveren, dengan perwira, staf, dan detasemen angkatan laut yang baru dibentuk.

Penumpang lainnya adalah perwira KNIL, beberapa direktur dan manajer Shell di Hindia Belanda dan Bataafsche Petroleum Maatschappij beserta teknisi, serta puluhan warga sipil lainnya bersama istri dan anak yang jumlahnya sekitar seratus enam puluh penumpang.

Poelau Bras meninggalkan Teluk Wijnkoops di kegelapan malam tanggal 6 Maret dan menuju perairan terbuka secepat mungkin meninggalkan Jawa di belakangnya dengan harapan bisa keluar dari jangkauan pesawat Jepang dan masuk ke perairan yang aman dalam waktu sesingkat mungkin.

Serangan Udara

Keesokan harinya sekitar jam 9 pagi, sirene peringatan kapal berbunyi. Rupanya ada sebuah pesawat pengintai Jepang bermesin ganda mengitari kapal mereka di ketinggian.Pesawat itu mempersempit lingkaran terbangnya dan menukik tiga kali, lalu menghilang secepat pesawat itu tiba.

Namun menjelang pukul 11.00, sirene peringatan kapal kembali berbunyi dan terlihat sekitar selusin pesawat pengebom tampak di cakrawala. Mereka terbang dalam barisan pertempuran untuk menyerang kapal dengan menukik. Bom udara pertama meleset dan meledak tepat di samping kapal. Setelah gagal menjatuhkan bom pada sasaran, pesawat-pesawat itu menembakkan senapan mesin ke geladak.

Dalam dalam sekejap geladaknya dipenuhi orang yang tewas. Jacob menyaksikan pria dan perempuan sekarat di sekelilingnya. Dia menyeret orang-orang yang terluka dan mencoba mengajak penumpang lainnya untuk mencari.

Kapal Poelau Bras diperkirakan mengalami setidaknya lima belas serangan udara hingga serangan bom terakhir menghantam bagian tengah kapal hingga menghancurkan seluruh ruang mesin dan kapal pun tak bergerak dan terbakar.

Setelah kapal Poelau Bras benar-benar hancur dan tenggelam, Cornelis melompat ke laut dan berusaha sekuat tenaga untuk berenang menjauh dari kapal yang tenggelam. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.