BMKG Sebut Gempa di Kuningan yang Merusak Akibat dari Aktivitas Sesar Ciremai

Jumat, 26 Jul 2024, 00:18 WIB

Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan aktivitas sesar Ciremai, pada Kamis, mengakibatkan getaran gempa yang menimbulkan dampak kerusakan pada bangunan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat dan sekitarnya.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono,di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi itu berkekuatan 4,1 magnitudo.

Ket. Foto: Peta analisis gempa di Kabupaten Kuningan Jawa Barat dan sekitarnya akibat dari adanya aktivitas Sesar Ciremai, Kamis (25/7/2024). — Sumber: ANTARA/HO-Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG

Episenter terletak pada koordinat 6.98 LS dan 108.5 BT, tepatnya berlokasi di darat pada kedalaman 5 kilometer dengan jarak satu kilometer tenggara Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dampak guncangannya dirasakan di wilayah Kuningan dengan skala intensitas III-IV MMI. Guncangan juga dirasakan hingga di Cirebon, Ciamis, Banjar dalam Skala Intensitas II - III MMI.

Sekaligus, menurutnya, merupakan rangkaian gempa susulan dari sebelumnya yang terjadi pada episenter yang tak jauh berbeda, pada Kamis pagi pukul 04.01.58 WIB dengan kekuatan 3,6 magnitudo.

"Jenis gempa bumi kerak dangkalshallow crustal earthquakeakibat aktivitas Sesar Ciremai. Beberapa rumah rusak ringan pada wilayah yang terdampak getaran," kata dia.

Dalam hal ini ia menambahkan untuk dampak kerusakan yang lebih rinci dibutuhkan data dari pihak terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Terlepas dari situ, berdasarkan catatan sejarah Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, wilayah Kuningan, Jabar sudah beberapa kali diguncang gempa tektonik yaitu pada 1947, 1955, dan 1973 yang melanda di wilayah Gunung Ciremai dan sekitarnya.

Selanjutnya pada 29 September 2019 di wilayah tersebut juga terjadi gempa berkekuatan 2,9 magnitudo yang mengguncang wilayah Kuningan. Gempa ini terasa di Cikijing, Kadugede, Sangkanurip, Kalimanggis, dan Bojong.

Rentetan gempa tektonik itu juga diduga karena berkaitan dengan struktur sesar aktif yang melintas di wilayah tersebut, termasuk Sesar Ciremai.

Atas rekam jejak sejarah gempa tersebut maka BMKG mengimbau ataupun mewajibkan masyarakat setempat untuk segera beralih menggunakan rumah yang tahan dari gempa bumi.

Daryono juga mengatakan bahwa pihaknya akan selalu memberikan informasi perkembangan kondisi dengan memanfaatkan berbagai kanal media sosial infobmkg sehingga masyarakat bisa tetap tenang seraya meningkatkan kewaspadaan.

Sekaligus juga memberikan informasi terfaktual seputar potensi gempa bumi kepada pemerintah provinsi/kabupaten melalui BPBD yang dapat menjadi rujukan tindakan lanjutan untuk diteruskan kepada pemerintah tingkat kelurahan/desa di masing-masing daerah.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.