Potensi Energi Terbarukan Harus Dikelola secara Optimal

Sabtu, 29 Jun 2024, 00:04 WIB

JAKARTA - Indonesia dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) berupa sinar matahari, angin, dan air yang melimpah dinilai berpotensi menjadi negara adidaya energi hijau, yaitu energi yang dihasilkan secara berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Cluster President Schneider Electric Indonesia dan Timor Leste, Martin Setiawan, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (29/6), mengatakan potensi tersebut bisa terealisasi jika pengelolaan SDA itu dilakukan dengan tepat dengan prinsip yang berkelanjutan.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber:Kemen ESDM - KORAN JAKARTA/ONES

Ketua Program Studi Teknik Geofisika, Universitas Brawijaya, Malang, Adi Susilo, mengatakan dengan kemauan politik dan pengelolaan yang benar, Indonesia bisa menjadi negara adidaya energi baru terbarukan (EBT).

"Potensi energi terbarukan kita sangat lengkap, mulai dari geotermal, gelombang laut, air terjun, angin, dan tentu energi surya. Totalnya bisa mencapai sekitar 3 ribu gigawatt (GW), apalagi setiap wilayah punya potensinya masing-masing," kata Adi.

Kalau investasi clean energy dipermudah, Indonesia tidak perlu khawatir dengan krisis energi di masa depan. Tinggal keseriusan dan political will pemerintah yang dibutuhkan. Selebihnya dengan pengelolaan yang benar maka akan bisa mewujudkan kemandirian energi.

"Kalau tetap mengandalkan energi fosil, selain merusak lingkungan dan kesehatan, harus menghabiskan banyak devisa karena impor bahan bakar minyak (BBM)," tuturnya.

Secara terpisah, peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi, mengatakan Indonesia bisa menjadi negara adi daya energi hijau karena memiliki sumber energi bersih yang melimpah.

Sebab itu, penting memastikan potensi energi terbarukan dimanfaatkan secara optimal dengan mengupayakan untuk mengubah proses bisnis ketenagalistrikan nasional, yang mana produksi komunal dan skala kecil memungkinkan untuk proses ekspor impor antarpengguna, atau yang disebut smart grid.

"Tanpa konsep ini maka membutuhkan power storage yang berbiaya tinggi atau hasil produksi EBT bisa terbuang percuma," kata Hafidz.

Di sisi lain, PLN tak perlu resah, sebab ke depan peluang bisnis EBT justru memungkinkannya untuk lebih efisien melayani pangsa captive serta menjadi backbond penyangga yang tetap mendapatkan biaya stand by power producer atau produksi listrik yang disiagakan.

Lebih lanjut, Hafidz secara khusus menyoroti minimnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. Ini dua persoalan mendasar mengapa sumber EBT ini belum terlalu masif dikembangkan.

"Indonesia belum mengembangkan secara serius sumber daya manusia (SDM) maupun teknologi untuk dapat memanen energi bersih secara optimal," katanya.

Dia mengatakan kalau sumber-sumber energi, seperti air, angin, surya, dan gelombang laut sangat potensial dimanfaatkan, tetapi memiliki tantangan intermitensi (ketidakteraturan) yang tinggi sehingga perlu adaptasi bagi konsumennya.

Pensiun Dini PLTU

Sebelumnya, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Fahmi Radhi, mengatakan untuk segera menjadi pemimpin transisi energi atau bahkan menjadi negara energi hijau, Indonesia perlu mempercepat upaya-upaya teknis. Salah satunya dengan menyelesaikan paket pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon dengan kapasitas 660 MW.

"Praktik-praktik transisi atau inisiatif energi terbarukan, investasi nyata, kita perlu perbanyak itu," katanya saat dihubungi baru-baru ini.

Investor, menurut Fahmi, perlu contoh-contoh sukses transisi energi di Indonesia. Sebab, masalah utama di Indonesia sering kali adalah hambatan-hambatan perizinan dan masalah teknis di lapangan.

Dengan adanya kesepakatan bersama Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) untuk memensiunkan dini PLTU Cirebon, maka langkah itu menjadi sinyal positif bagi investor untuk menanamkan modalnya di industri energi terbarukan di Indonesia.

Dengan keberhasilan pensiun dini PLTU Cirebon kelak dan beralih ke EBT, maka hal itu bisa menjadi contoh nyata yang mengakselerasi transisi.

"Investor butuh kisah sukses bagaimana pemerintah, PLN, dan juga pihak lain, seperti ADB, sukses menjalankan transisi energi. Contoh sukses ini lebih dari sekadar pidato," tandas Fahmi.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.