Marcos: Filipina Tidak Ingin Picu Perang

Senin, 24 Jun 2024, 02:59 WIB

MANILA - Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, pada Minggu (23/6) mengatakan bahwa negaranya tidak bermaksud memicu perang dan akan selalu berusaha menyelesaikan perselisihan secara damai, di tengah meningkatnya konfrontasi maritim dengan Tiongkok.

"Kami tidak akan pernah terintimidasi atau ditindas oleh siapapun," kata Presiden Marcos Jr dalam pidatonya dihadapan pasukan unit Komando Armada Wilayah Barat yang bertugas mengawasi Laut Tiongkok Selatan (LTS). "Dalam membela negara, kami tetap setia pada sifat Filipina bahwa kami ingin menyelesaikan semua masalah ini dengan damai," imbuh Presiden Filipina itu.

Ket. Foto: Penegasan Marcos Jr l Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, saat tiba di markas Komando Armada Wilayah Barat di Puerto Princesa, Palawan, pada Minggu (23/6). Dalam kunjungannya itu, Presiden Marcos Jr menegaskan bahwa Filipina tak akan terintimidasi oleh negara manapun terkait dengan sengketa maritim. — Sumber: AFP/Presidential Communications Office

"Kami tidak pernah, tidak pernah dalam sejarah Filipina, menyerah pada kekuatan asing manapun," dan akan terus menggunakan kebebasan dan hak untuk mendukung kepentingan nasional kami, sesuai dengan hukum internasional. Sikap kami yang tenang dan damai tidak boleh disalahartikan sebagai sebuah persetujuan," tegas dia.

Pernyataan Presiden Marcos Jr itu dilontarkan setelah pekan lalu personel Angkatan Laut Filipina dan Penjaga Pantai Tiongkok terlibat bentrokan terbaru di jalur perairan yang disengketakan, di mana militer Filipina mengatakan seorang pelautnya terluka parah dan kapal-kapalnya mengalami kerusakan.

"Dalam melaksanakan tugas, kami tidak akan menggunakan kekerasan atau intimidasi atau dengan sengaja melukai atau merugikan siapapun," ucap Presiden Marcos Jr tanpa menyebut nama Tiongkok dalam pidatonya itu.

Tindakan Beijing dalam menanggapi misi pasokan rutin Filipina telah dikutuk oleh Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Kanada. Kementerian Luar Negeri Tiongkok membantah pernyataan Filipina, dan juru bicaranya mengatakan pada 20 Juni lalu bahwa tindakan yang diambil adalah tindakan yang sah, profesional, dan tidak tercela.

Pernyataan Kritenbrink

Sementara itu asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik, Daniel Kritenbrink, pada Sabtu (22/6) mengatakan bahwa situasi di LTS sangat memprihatinkan dan menggambarkan tindakan Tiongkok baru-baru ini di jalur perairan yang disengketakan itu sebagai sangat mengganggu stabilitas.

Kritenbrink menyampaikan komentar tersebut saat berkunjung ke Hanoi, di tengah meningkatnya ketegangan antara Tiongkok dan Filipina di LTS, di mana Vietnam juga merupakan salah satu negara yang mengklaim wilayah tersebut.

"Kami berpendapat bahwa tindakan Tiongkok, terutama tindakannya baru-baru ini di sekitar Second Thomas Shoal, berhadapan dengan Filipina, adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab, agresif, berbahaya, dan sangat mengganggu stabilitas," kata Kritenbrink seraya mengatakan bahwa AS akan terus mendukung sekutu Filipina.

Kritenbrink juga mengatakan: "Kami pikir setiap negara di kawasan ini, termasuk Tiongkok, perlu menghormati hukum internasional dan perlu berperilaku bertanggung jawab di bidang maritim."

Sebelumnya pada 21 Juni lalu, para pejabat Filipina mengatakan mereka tidak mempertimbangkan untuk menerapkan perjanjian pertahanan bersama dengan AS, setelah menuduh Tiongkok secara agresif mengganggu misi pasokandi LTS yang disengketakan pada awal Juni lalu. Namun Manila juga mengatakan bahwa pihaknya khawatir pasukan Tiongkok akan melancarkan upaya serupa untuk mengusir garnisun kecil militer Filipina yang ditempatkan di Second Thomas Shoal.AFP/ST/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.