Ini Penjelasan Dokter Bagaimana Caranya untuk Mengendalikan Nyeri Akibat Kanker

Selasa, 30 Apr 2024, 00:09 WIB

Jakarta - Dokter dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Mahar Mardjono dr. Iswandi Erwin menjelaskan langkah-langkah dalam mengendalikan nyeri yang muncul pada pengidap kanker, pertama adalah asesmen secara komprehensif.

Dalam "Pasien Kanker, Atasi Nyeri Dengan Tepat!" yang disiarkan oleh Kementerian Kesehatan di Jakarta, Senin, dia menjelaskan bahwa nyeri tersebut disebabkan oleh dua hal, yaitu kanker atau tumor itu sendiri, atau pengobatan serta tata laksana seperti kemoterapi atau radioterapi.

Iswandi menyebutkan bahwa metastasis atau penyebaran kanker dapat menyebabkan rasa nyeri tersebut. Dalam sejumlah kasus, ujarnya, nyeri tidak selalu terletak pada lokasi tumor atau kanker primernya. Sebagai contoh, pasien dengan kanker paru-paru dapat mengalami nyeri di tulang belakang.

Pada umumnya, kata dia, rasanya nyeri tersebut sedang hingga berat, terutama pada kanker yang kronis yang sudah stadium tiga atau empat.

Dalam stadium tersebut, katanya, perawatannya adalah perawatan yang bersifat paliatif, guna meningkatkan kualitas hidup pasien.

Dia menuturkan dengan asesmen tersebut, penyebab serta jenis nyeri neuropatik atau nosiseptif, serta faktor yang dapat memberatkan rasa nyeri tersebut, contohnya keadaan psikis.

Iswandi menyebutkan bahwa orang dengan tekanan psikis yang berat mengalami nyeri yang berat, sehingga diberikan obat antidepresan untuk mengatasinya. Menurutnya, ada persinggungan antara jalur rasa nyeri serta depresi.

Kemudian, ujarnya, pasien kanker yang mengalami nyeri diberikan dosis opioid, seperti morfin, kodein, oxycodone, fentanyl. Dia menjelaskan, penggunaan opioid tersebut misalnya per delapan jam.

Dia menjelaskan secara umum, penggunaan opioid dapat mengatasi rasa nyeri tersebut, namun ada juga kasus di mana tindakan intervensi seperti blok pada daerah torakal lumbalis, guna meringankan nyeri akibat kanker.

Menurut dokter itu, rasa nyeri tersebut tidak boleh disepelekan. Meski bagi sebagian orang hal itu menjadi penanda harapan hidup yang hanya sebentar, namun bagi pasien waktu yang sebentar tersebut dapat dinikmati secara berkualitas bersama keluarganya jika rasa nyerinya dikendalikan dengan baik.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Event Budaya Lokal Dipadukan Sport dan Lifestyle Bakal Perkuat Pengembangan Mandalika

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.