- Home
-
- Luar Negeri
-
- Nepal Tuntut Kompensasi Ik...
Nepal Tuntut Kompensasi Iklim dari Negara Penghasil Emisi Terbesar
Kamis, 03 Sep 2026, 16:10 WIBKATHMANDU â Nepal menuntut kompensasi iklim dari negara-negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Tuntutan tersebut disampaikan setelah banjir mematikan menewaskan lebih dari seribu orang dan menyebabkan ribuan lainnya masih hilang.
Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India memberikan kontribusi sangat besar terhadap perubahan iklim. Menurut dia, kondisi tersebut membuat negara-negara kecil harus menanggung dampaknya, dilansir dari The Star, Kamis (3/9).
Menlu Khanal menegaskan Nepal harus membawa persoalan tersebut ke tingkat internasional dan menjadikannya sebagai bagian dari perjuangan untuk keadilan iklim. Ia mengatakan pemerintah Nepal akan mengangkat tuntutan tersebut secara terbuka dan tegas di berbagai forum internasional.
Tuntutan kompensasi itu muncul setelah banjir bandang pada 26 Agustus melanda wilayah aliran Sungai Bhotekoshi. Banjir tersebut dipicu runtuhnya batuan dan es dalam jumlah besar di dekat perbatasan Nepal dan Tibet.
Bencana tersebut menyebabkan kerusakan besar di sejumlah wilayah Nepal. Jumlah korban tewas secara resmi mencapai 1.204 orang, sementara hampir 4.000 orang masih dilaporkan hilang.
Banjir juga menghancurkan rumah-rumah warga, sejumlah jembatan penting, serta infrastruktur pembangkit listrik tenaga air. Kerusakan tersebut menambah beban pemulihan yang harus ditanggung pemerintah Nepal.
Tuntutan Nepal disampaikan menjelang KTT iklim tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada November. Negara-negara berkembang diperkirakan kembali mendesak negara-negara beremisi tinggi untuk meningkatkan pendanaan guna menanggung kerugian dan kerusakan akibat perubahan iklim.
Langkah Nepal menambah perdebatan mengenai pihak yang harus menanggung biaya finansial dari bencana yang berkaitan dengan pemanasan global. Pemerintah Nepal menilai negara-negara dengan emisi tinggi memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap dampak yang kini dihadapi negara-negara rentan.
Global Campaign to Demand Climate Justice, koalisi yang terdiri atas sekitar 200 organisasi masyarakat sipil internasional, turut mendukung tuntutan Nepal. Koalisi tersebut menilai Nepal tidak dapat mengurangi emisi global atas nama negara-negara penghasil emisi besar.
Koalisi itu menyatakan Nepal tidak dapat melindungi kawasan Himalaya hanya melalui upaya adaptasi ketika dunia terus menggunakan bahan bakar fosil. Khanal mengatakan Nepal telah meminta bantuan darurat dari Dana PBB untuk Menanggapi Kerugian dan Kerusakan.
Dana tersebut dibentuk untuk membantu negara-negara rentan memulihkan diri dari bencana yang berkaitan dengan perubahan iklim. Menurut pemerintah Nepal, biaya pemulihan akibat bencana tersebut jauh melampaui sumber daya domestik yang tersedia.
Nepal berupaya mendapatkan dukungan internasional untuk menangani dampak bencana sekaligus memperjuangkan kompensasi atas kerugian yang dikaitkan dengan perubahan iklim. Pemerintah Nepal berharap tuntutan tersebut dapat meningkatkan perhatian dunia terhadap kerentanan negara-negara Himalaya terhadap perubahan iklim. ils/I-1
- Nepal
- Dampak Perubahan Iklim
- Pemanasan Global
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
Dibuka Melemah, Sentimen Rupiah Hari ini Dipengaruhi Antisipasi Pengumuman Besaran Buyback UST
-
Bupati Lampung Selatan Punya Strategi Baru! Melon dan Anggur Bakal Dikembangkan Lewat BUMDes
-
Gaza Masih Krisis BBM, PBB Sebut Bantuan yang Masuk Belum Cukup Memadai
-
Pencak Silat Pukau Pengunjung Indonesia Sport Summit dengan Aksi Kelas Dunia
-
Tayang 1 Oktober, Film "Lobang Buaya" Garapan Hanung Bramantyo Berlatar Peristiwa Kelam Tahun 1965
-
Perkuat Ekosistem Digital Syariah, Bank BSN Hadirkan Integrasi KTA IARMI
-
FIFA Asean Cup, Dua Motor Listrik dan Empat Sepeda Listrik Disiapkan untuk Penonton Bandung
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.