Sentimen Eksternal Dominan
Jumat, 19 Apr 2024, 10:06 WIBJAKARTA - Nilai tukar rupiah berisiko tetap melemah ke depan, seiring masih memanasnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Bahkan, kurs rupiah di khawatirkan makin menjauhi target asumsi dasar di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024.
Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra memproyeksikan rupiah akan tetap melemah karena pasar masih mewaspadai eskalasi konflik Timur Tengah. Selain itu, pasar melihat bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed akan menunda penurunan suku bunga acuannya imbas inflasi AS yang sulit dijinakkan.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di akhir perdagangan, Kamis (18/4), ditutup menguat 41 poin atau 0,25 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.179 rupiah per dollar AS. Hal itu dipengaruhi sentimen penundaan pemotongan suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.
Meski demikian, posisi nilai tukar rupiah masih jauh dari yang ditargetkan pemerintah dalam asumsi dasar ekonomi makro 2024 yang sebesar 15.000 rupiah per dollar AS.
"Dollar melemah pada Kamis (18/4) karena para pedagang menilai prospek suku bunga AS setelah komentar dari pejabat Federal Reserve yang memperkuat ekspektasi bahwa pengaturan moneter akan tetap ketat untuk jangka waktu yang lebih lama," kata ekonom Ibrahim Assuaibi kepada awak media di Jakarta, kemarin.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Telkom Kebut Pemulihan Layanan Pascagempa NTT, Ini Langkahnya
-
FIFA Bidik Dana 68,5 Triliun Rupiah dari Investor, UEFA Lontarkan Kritik Pedas
-
Gunung Semeru Lima Kali Erupsi dengan Tinggi Letusan hingga 700 meter
-
Bencana Longsor Memutus Akses Jalan di Nagano, Jepang. Ratusan Orang Terisolasi
-
Dibayangi Tekanan Global - 10 September 2026
-
Kabar Baik untuk Pekerja Migran! Kemenkum NTT Perkuat Perlindungan Lewat Posbankum
-
Juara Mubadala Gugur di Toronto
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.