Perjuangan Warga UEA untuk Lestarikan Seni Tenun yang Nyaris Punah

Sabtu, 06 Apr 2024, 02:08 WIB

Jauh dari menara pencakar langit nan mewah di Dubai, jari-jari Mariam al-Kalbani yang diwarnai denganhennaamat cekatan menenun benang berwarna cerah dalam sebuah keterampilan yang ia harap dapat dilestarikan oleh para remaja putri Emirat yang mengawasinya untuk masa depan.

Seni menenun pita mengkilap yang dikepang dengan tangan untuk menghiasi pakaian dan tas tradisional disebutAl Tallidan kini masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Kemanusiaan UNESCO.

Ket. Foto: Tenun Tradisional | Sejumlah perempuan sedang memperagakan cara membuat “Al Talli”, teknik menenun tradisional dari UEA pada sebuah festival budaya di Kota Al-Ain pada November lalu.  Upaya pemerintah UEA untuk melestarikan seni budaya nenek moyang mereka mengalami kendala karena generasi mudanya lebih tertarik pada masa depan digital.  — Sumber: AFP/Karim SAHIB 

Namun dengan laju perubahan yang tiada henti di Uni Emirat Arab (UEA), hal ini mungkin tidak akan lama lagi.

"Ini adalah kerajinan nenek moyang dan masyarakat kami," kata Kalbani kepadaAFPdi Al Ain, kota terbesar keempat di UEA, yang terletak di antara pegunungan dan gurun. "Jika kita tidak mengambil inisiatif dan memperkenalkannya kepada mereka, hal itu akan hilang," imbuh dia.

Perajin perempuan berusia 70 tahun, mengenakan jubah abaya hitam tradisional dan penutup wajah berwarna emas, telah melatih siswa dan peserta magang di bidang seni ini selama 15 tahun.

"Tujuannya tak lain untuk menghidupkan kembali warisan tersebut untuk generasi penerus," ujar dia.

Kalbani menekankan bahwa penguasaanAl Tallitidak terjadi dalam hitungan jam, namun justru bisa memakan waktu satu atau dua tahun, apalagi jika pelatihan dilakukan hanya sepekan sekali. Kalbani sendiri telah menenunAl Tallisejak remaja.

Desain Al Talli yang paling sederhana dibuat dari enam benang, meski jumlahnya bisa mencapai 50, dan menguasai proses memadukannya dengan manik-manik, ornamen, dan logam mulia seperti emas bisa memakan waktu lama.

Mahasiswa akuntansi Reem al-Ketbi mengamati Kalbani dengan saksama saat dia mengerjakan bantal bundar yang disebutMousadah, menganyam benang perak bolak-balik selama festival kerajinan tangan baru-baru ini.

"Setiap kali saya melihatAl Talli, saya teringat identitas Emirat. Ini adalah sesuatu yang langka dan istimewa," ujar perempuan berusia 23 tahun yang mulai mempelajari kerajinan tersebut tahun lalu sambil juga melanjutkan studinya.

Layak Dilestarikan

Sejauh ini tidak ada informasi pasti tentang asal usulAl Talli. Namun Mohamed Hassan Abdel Hafez, pakar warisan budaya di Institut Warisan Sharjah mengatakan bahwa warisan budaya tersebut telah diturunkan dari beberapa generasi, setidaknya dari kakek-nenek hingga cucu, sejalan dengan persyaratan pencatatan UNESCO.

"Dalam bidang warisan budaya takbenda, sangat sulit untuk menentukan tanggal pasti atau kapan sejarah dimulainya," ujar dia.

Namun, pihak berwenang UEA berupaya melestarikan tradisi yang sudah ada sejak sebelum berkembangnya industri minyak di negara tersebut.

Kalbani menyesalkan putrinya sendiri tidak menekuni kerajinan tersebut, namun tersenyum ketika cucunya yang berusia tiga tahun di sampingnya mengajukan pertanyaan tentang cara kepang dan benang.

Al Tallisendiri bukan satu-satunya tradisi dari UEA yang patut dilestarikan. Di tempat lain, ada pula perempuan yang memproduksi berbagai barang termasuk kain Sadu, yang digunakan untuk tenda, karpet, dan pelana unta yang juga terdaftar di UNESCO.

Aisha al-Dhaheri, yang bekerja untuk mempromosikan kerajinan tradisional di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Abu Dhabi, mengatakan pihak berwenang berharap dapat mendukungAl Tallidengan memberikan lisensi kepada para ahli bersertifikat untuk memperluas produksi dan pengajaran.

"Ini dianggap berisiko hilang, jadi kami mencoba mempercepat upaya pelestarian dengan mengadakan kursus pelatihan," kata dia.

Penduduk UEA saat ini tercatat hanya berjumlah 10 persen dari 10 juta penduduk negara tersebut, dan sebagian besar generasi mudanya berfokus pada masa depan digital, dibandingkan dengan masa lalu. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.