Pengakuan tentang Situs Gunung Padang sebagai Piramida Tertua di Dunia Dicabut
Jumat, 22 Mar 2024, 00:03 WIBNEW YORK - Penerbit penelitian di Amerika yang menantang ortodoksi ilmiah dengan mengklaim situs arkeologi di Indonesia mungkin merupakan "piramida tertua" di dunia, pada Senin (18/3), mengatakan klaim tersebut telah dicabut.
Dikutip dariThe Straits Times, studi pada bulan Oktober 2023 di jurnal Archaeological Prospection membuat klaim mengejutkan lapisan terdalam situs tersebut, Gunung Padang, diperkirakan telah "dipahat" oleh manusia pada 27.000 tahun yang lalu.
Kritik terhadap penelitian ini mengatakan penelitian ini salah menentukan tanggal keberadaan manusia di Gunung Padang berdasarkan pengukuran radiokarbon tanah dari sampel pengeboran, bukan artefak. Penerbit jurnal Amerika, Wiley, mengutip alasan yang tepat dalam pemberitahuan pencabutan yang dikeluarkan.
Gunung Padang secara luas dianggap sebagai gunung berapi yang tidak aktif, dan para arkeolog mengatakan, keramik yang ditemukan di sana sejauh ini menunjukkan manusia telah menggunakannya selama beberapa ratus tahun atau lebih, tidak mendekati usia 27.000 tahun. Piramida Giza di Mesir baru berusia sekitar 4.500 tahun.
Pencabutan tersebut, berdasarkan penyelidikan selama berbulan-bulan, mengatakan penelitian tersebut cacat karena sampel tanahnya "tidak dikaitkan dengan artefak atau fitur apa pun yang dapat ditafsirkan sebagai antropogenik atau 'buatan manusia'.
Beberapa arkeolog mengatakan dalam wawancara, mereka menyambut baik pencabutan tersebut. Namun penulis studi tersebut menyebutnya "tidak adil", dan mengatakan dalam sebuah pernyataan pada tanggal 20 Maret bahwa sampel tanah mereka "secara jelas ditetapkan sebagai konstruksi buatan manusia atau fitur arkeologi", sebagian karena lapisan tanah tersebut mengandung artefak.
"Kami mendesak komunitas akademis, organisasi ilmiah, dan individu yang peduli untuk mendukung kami dalam menentang keputusan ini dan menjunjung tinggi prinsip integritas, transparansi, dan keadilan dalam penelitian dan penerbitan ilmiah," kata para peneliti.
Penulis utama studi tersebut, ahli geologi gempa Indonesia, Danny Hilman Natawidjaja, tidak segera menanggapi permintaan komentar. Begitu pula dengan editor Wiley atau Archaeological Prospection, Eileen Ernenwein dan Gregory Tsokas.
Salah satu pendukung utama penelitian, jurnalis Inggris Graham Hancock, mengatakan dalam sebuah pernyataan dia tidak melihat pencabutan tersebut sebagai "ilmu pengetahuan yang adil, dapat dibenarkan, atau baik".
Dia mengatakan alih-alih mengeluarkan pencabutan, jurnal tersebut seharusnya menerbitkan kritik terhadap makalah tersebut, sebuah langkah yang menurutnya akan memungkinkan pembaca untuk mengambil keputusan sendiri.
"Sains tidak boleh berbicara tentang penindasan," kata Hancock, yang mewawancarai Natawidjaja untuk sebuah episode tentang Gunung Padang di Ancient Apocalypse, dalam serial dokumenter Netflix tahun 2022 miliknya.
Society for American Archaeology mengatakan acara Netflix Hancock "merendahkan nilai profesi arkeologi berdasarkan klaim palsu dan disinformasi". Dia dengan keras menolak argumen tersebut, dengan alasan para arkeolog harus lebih terbuka terhadap teori-teori yang menantang ortodoksi akademis. Netflix tidak menanggapi permintaan komentar mengenai pencabutan tersebut.
Orang-orang di Indonesia telah lama melakukan perjalanan ke Gunung Padang, sebuah situs di puncak bukit yang dipenuhi teras batu, untuk mengadakan ritual Islam dan Hindu. Narasi dalam negeri yang menggambarkannya sebagai piramida yang sangat tua mendapat dukungan dan pendanaan dari pemerintah pusat pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang meninggalkan jabatannya pada tahun 2014. Penggantinya, Presiden Joko Widodo, menghentikan pendanaan tersebut.
Para arkeolog mengatakan dalam wawancara pada 18 Maret bahwa mereka menyambut baik pencabutan tersebut.
Salah satu dari mereka, Noel Hidalgo Tan, warga Singapura, seorang arkeolog di Bangkok yang menyampaikan keprihatinannya tentang penelitian tersebut kepada Wiley, mengatakan ia menganggap pencabutan tersebut "sangat tepat" karena bukti penelitian tersebut tidak mendukung kesimpulannya.
"Sangat disayangkan makalah ini harus sampai pada tahap ini. Tetapi lebih baik ditarik kembali daripada tidak dibicarakan sama sekali," kata Tan, yang bekerja di Pusat Arkeologi dan Seni Rupa Regional Asia Tenggara.
Kepala Balai Konservasi Warisan Budaya Provinsi Jawa Barat, Dwi Ratna Nurhajarini, mengatakan, kesimpulan penelitian ini harus dikaji ulang sehubungan dengan pencabutan tersebut.
"Bangunan di Gunung Padang memang berlapis dan bertingkat, mengingatkan kita pada peradaban masa lalu Indonesia. Tetapi usianya mungkin tidak setua yang diperkirakan," katanya.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.