Basuki Instruksikan Seluruh Balai Siaga Hadapi Musim Pancaroba
Kamis, 14 Mar 2024, 06:40 WIBMenteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menginstruksikan seluruh balai Kementerian PUPR di wilayah Indonesia untuk siaga menghadapi musim pancaroba.
"Saya kira semua balai kami di seluruh Indonesia tidak boleh ada yang ke Jakarta, kecuali atas seizin Menteri PUPR. Karena kita semua siap siaga untuk menghadapi musim pancaroba," ujar Basuki Hadimuljono di Jakarta, Selasa (12/3).
Menteri PUPR juga menambahkan bahwa dalam menghadapi musim pancaroba (peralihan musim) tersebut, maka seluruh wilayah Indonesia menjadi prioritas dirinya dan Kementerian PUPR seraya terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
"Saya kira semua wilayah di Indonesia menjadi prioritas saya, berkoordinasi dengan BMKG. BMKG selalu memberikanwarning-warning," kata dia.
Sebagai informasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem selama periode pancaroba (peralihan musim) yang diprakirakan berlangsung pada bulan Maret hingga April 2024. Selama periode pancaroba, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan antisipasi dini terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, angin puting beliung, dan fenomena hujan es.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa berdasarkan analisa dinamika atmosfer yang dilakukan BMKG, didapati saat ini puncak musim hujan telah terlewati di berbagai wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan Indonesia. Hal tersebut, kata dia, mengindikasikan bahwa wilayah tersebut akan mulai memasuki peralihan musim pada bulan Maret hingga April. Salah satu ciri masa peralihan musim adalah pola hujan yang biasa terjadi pada sore hingga menjelang malam hari dengan didahului oleh adanya udara hangat dan terik pada pagi hingga siang hari.
Kondisi itu terjadi karena radiasi matahari yang diterima pada pagi hingga siang hari cukup besar dan memicu proses konveksi (pengangkatan massa udara) dari permukaan bumi ke atmosfer sehingga memicu terbentuknya awan.
Karakteristik hujan pada periode ini, kata Dwikorita, cenderung tidak merata dengan intensitas sedang hingga lebat dalam durasi singkat. Apabila kondisi atmosfer menjadi labil/tidak stabil maka potensi pembentukan awan konvektif, seperti awan Cumulonimbus (CB) akan meningkat.Ant/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BMKG: Jakarta Bakal Diguyur Hujan Disertai Petir Hari Ini
-
Djokovic Siap Menderita Sekali Lagi demi Torehkan Sejarah di Final Australia Open
-
Trump Ancam Tarif Tambahan untuk Tiongkok
-
Real Madrid Puncaki Daftar Klub Terkaya, Liverpool Ungguli Rival Inggris
-
Mencegah Penyebaran Penyakit Hewan Saat Pancaroba di Wilayah OKU Timur
-
Airlangga: Anggaran Rp335 Triliun Disiapkan untuk Program MBG 2026
-
Polda Metro Jaya Terima 40 Unit ETLE Mobile dari Korlantas Polri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.