- Home
-
- Luar Negeri
-
- Pengunjuk Rasa di Filipina...
Pengunjuk Rasa di Filipina Tolak Kediktatoran
Selasa, 27 Feb 2024, 02:40 WIBMANILA - Ratusan pengunjuk rasa Filipina pada Minggu (25/2) berpawai di Manila, menandai peringatan pemberontakan yang menggulingkan Ferdinand Marcos dan mereka bersumpah untuk mencegah putranya, Presiden Ferdinand Marcos Jr, mengulangi kediktatoran.
Marcos Jr memenangkan kursi kepresidenan dengan telak pada pemilu 2022 lalu atau hampir empat dekade setelah pemberontakan "People Power" yang menumbangkan era pemerintahan mendiang ayahnya.
Meski Marcos Jr tetap populer, kampanyenya untuk mengubah konstitusi tahun 1987 terbukti telah memecah belah rakyat Filipina. Kritikus bahkan memperingatkan upaya tersebut dapat mengarah pada penghapusan batasan masa jabatan, karena presiden saat ini hanya diizinkan menjabat selama satu periode selama enam tahun.
"Tema protes ini adalah untuk menolak langkah perubahan konstitusi oleh Marcos Jr yang merupakan langkah untuk tetap berkuasa dan pada dasarnya adalah apa yang pernah terjadi 38 tahun lalu," kata ekonom Rosario Guzman, 58 tahun, yang pernah ambil bagian dalam pemberontakan tahun 1986.
Terkait hal ini, Presiden Marcos Jr menyatakan bahwa langkahnya hanya untuk mengubah ketentuan ekonomi dalam konstitusi tersebut untuk memungkinkan lebih banyak investasi asing dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Dia pun mengatakan bahwa aspek politik, termasuk batasan masa jabatan, harus ditangani kemudian.
Sumpah
Menurut laporan polisi di Manila, beberapa ratus orang bergabung dalam unjuk rasa pada Minggu.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan rezim Marcos Sr telah memenjarakan, menyiksa atau membunuh puluhan ribu kritikus, termasuk para pemimpin agama, jurnalis dan aktivis mahasiswa, sementara korupsi membuat negara itu kian miskin.
Pada pawai peringatan 38 tahun tersebut, demonstran berusia 21 tahun bernama Giu de Sagun mengatakan dia merasa seperti menyaksikan sejarah terulang kembali. Sementara beberapa pengunjuk rasa bersumpah tidak akan pernah lagi mentolerir kabangkitan kediktatoran.
Pada peringatan itu, sekelompok pegawai pemerintah di Manila terlihat mengibarkan bendera Filipina setelah meletakkan karangan bunga di depan Monumen People Power, namun tidak ada pejabat senior pemerintah yang hadir. AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Bangkit di Ganda, Janice Tjen/Katarzyna Piter Tantang Unggulan Keempat di Perempat Final Merida Open
-
Pengusaha Pengantaran Komit untuk Mengikuti Aturan Bonus Hari Raya untuk Ojol
-
Indonesia Bidik Lompatan Ekonomi, Komoditas Mentah Terancam Disetop
-
Karhutla Mengancam Natuna, Lanud RSA Aktifkan Posko Udara Siaga Darurat
-
Michael Carrick Tetap Puji Permainan MU meski Kalah dari Leeds
-
FIFA Yakin Meksiko Siap Gelar Piala Dunia di Tengah Situasi Keamanan Memanas
-
Korban Tewas Gempa Filipina Meningkat Jadi 46 Orang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.