Industri Pengolahan Jadi Sumber Pertumbuhan
Senin, 12 Feb 2024, 09:36 WIBJAKARTA - Sepanjang 2023, industri pengolahan mencatatkan kinerja impresif dan ber mkontribusi terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menuturkan, hal ini bisa dilihat dari Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia (BI) pada triwulan IV-2023 yang mencapai 51,20 persen atau masih berada di zona ekspansi. Selain itu, kapasitas produksi terpakai pada periode yang sama mencapai 73,91 persen, meningkat dibandingkan triwulan IV-2022 yang sebesar 71,49 persen. Ini menandakan industri pengolahan masih menunjukkan peningkatan aktivitas produksi.
Dengan performa tersebut, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan IV-2023 secara tahunan (yoy), industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi bagi perekonomian, yakni sebesar 0,85 persen. Industri pengolahan juga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi pada 2023, sebesar 0,95 persen. Pada 2023, sektor industri pengolahan tumbuh 4,64 persen.
"Di tengah kondisi perekonomian dunia yang melemah, industri pengolahan tetap tumbuh dan berhasil lepas dari krisis yang terjadi pada 2023. Tentunya ini merupakan kerja keras dan resiliensi sektor industri manufaktur Indonesia," ujar di Jakarta, Sabtu (10/2).
Sepanjang 2023, perekonomian dunia dibayangi oleh perdagangan global yang mengalami kontraksi, akibat penurunan nilai perdagangan barang. Namun, industri pengolahan masih tumbuh stabil, didukung oleh permintaan domestik dan global. Hal ini dapat dilihat pada pertumbuhan di beberapa subsektor industri seperti industri logam dasar, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik, industri alat angkutan, industri pengolahan tembakau, serta industri kertas dan barang dari kertas, percetakan, dan reproduksi media rekaman.
Didorong oleh peningkatan permintaan luar negeri, industri logam dasar tumbuh 14,17 persen. Sedangkan industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik mengalami pertumbuhan sebesar 13,67 persen berkat peningkatan produksi industri barang logam bukan mesin dan peralatan. Industri alat angkutan tumbuh 7,63 persen dengan meningkatnya permintaan domestik atas produk sepeda motor.
Adapun industri pengolahan tembakau tumbuh 4,80 persen, didukung oleh peningkatan permintaan luar negeri Sementara itu, pertumbuhan industri kertas dan barang dari kertas, percetakan, dan reproduksi media rekaman yang mencapai 4,52 persen.
- Produk Domestik Bruto (PDB)
- Kemenperin
- Kementerian Perindustrian
- industri pengolahan
- Sektor Manufaktur
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Dorong Ketahanan Pangan, Kemenperin Perkuat Mutu Industri Pupuk Lewat Standardisasi & Sertifikasi
-
FIFA: Spanyol Catatkan Rekor sebagai Tim yang Tak Terkalahkan dalam 38 Pertandingan, sejak 2024 hingga Piala Dunia 2026
-
Biaya Logistik RI 14,29% PDB, Pakar Soroti 3 Penyebab Biaya Tinggi
-
Menperin Lepas 2.361 Lulusan SMK Serentak, Mayoritas Terserap di Industri dan Berwirausaha
-
'Kami Ingin Perang Darat': Iran Telah Habiskan Puluhan Tahun untuk Menyambut Invasi Darat AS
-
RI Eksportir Minyak Atsiri No.5 Dunia, Nilam Jadi Andalan Tembus Industri Kosmetik & Farmasi
-
Pemerintah Catat Realisasi Investasi Semester I 2026 Capai Rp1.010,6 Triliun
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.