Era Bunga Tinggi Belum Berakhir

Selasa, 30 Jan 2024, 11:48 WIB

JAKARTA - Era suku bunga tinggi diperkirakan masih berlangsung sepanjang paruh pertama tahun ini. Pasalnya, penurunan suku bunga Federal Reserve atau the Fed diprediksi masih terhambat oleh besarnya defisit Amerika Serikat (AS).

Ekonom senior, Chatib Basri, berpendapat meskipun ada peluang the Fed menurunkan suku bunga 2-3 kali pada paruh kedua 2024, namun defisit AS masih menjadi tantangan. "Tantangannya adalah defisit di AS masih besar. Jadi, akan ada kebutuhan bond issuance yang cukup besar," kata Chatib Basri saat ditemui pada kegiatan IIF's Anniversary Dialogue bertema The Dynamics of Sustainable Infrastructure Financing and Its Roles in Achieving Food Security di Jakarta, Senin (29/1).

Ket. Foto: — Sumber: ISTIMEWA

Di samping itu, dia menilai peluang resesi AS mengecil pada tahun ini. Hal itu disebabkan dia melihat adanya potensi pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di AS.

Sementara, bila kemungkinan resesi AS mengecil, skema yang mungkin terjadi ialah makin sedikitnya orang-orang yang memegang obligasi. "Permintaan bond akan naik, suplai naik, maka harga akan jatuh dan imbal hasil (yield) akan naik. Ini yang membuat the Fed harus hati-hati dalam menurunkan tingkat suku bunga," ujar dia.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memperkirakan suku bunga kebijakan Amerika Serikat (AS) atau Fed Funds Rate (FFR) turun sebanyak tiga kali hingga mencapai 75 basis poin pada 2024, dimulai pada paruh kedua 2024. Perkiraan tersebut didasarkan atas penilaian terhadap kondisi ekonomi AS, pasar tenaga kerja dan inflasi Indeks Harga Belanja Personal (PCE) inti AS, serta pernyataan-pernyataan resmi dari Federal Open Market Committee (FOMC).

Perry menuturkan pasar mengantisipasi kemungkinan FFR turun lebih cepat di penghujung triwulan II-2024. Sebagian memperkirakan tingkat penurunan FFR yang lebih tinggi, yakni bisa empat kali dengan total penurunan 100 basis poin pada 2024, bahkan lebih besar. Karena masih ada ketidakpastian waktu dan besaran penurunan suku bunga FFR, maka terdapat volatilitas sentimen pasar sehingga rupiah naik turun.

Terlalu Optimistis

Senada, praktisi pasar modal dan Dosen Universitas Atma Jaya, Hans Kwee, melihat pemangkasan suku bunga acuan oleh the Fed tidak akan terlalu agresif pada tahun ini. "Pelaku pasar terlalu optimistis bank sentral seperti the Fed bakal memotong bunga 6 kali atau 150 basis poin (bps). Mungkin the Fed hanya memotong 75 bps di tahun ini," ujar Hans Kwee, beberapa waktu lalu.

Dia melihat perekonomian negeri Paman Sam masih cukup kuat dan akan soft landing. Selain itu, dia mengingatkan adanya risiko global yang datang dari perlambatan ekonomi raksasa Asia, Tiongkok serta konflik geopolitik yang masih berlangsung di beberapa negara.

Dia juga mengingatkan hampir separuh negara- negara di dunia melangsungkan politik elektoral berupa Pemilihan Umum (Pemilu) pada 2024, termasuk beberapa di antaranya negara- negara maju dengan ekonomi besar. "Selain itu, ada pemilu di AS, Korea Selatan, dan India," ujar ujar Hans Kwee.

Seperti diketahui, sejak Maret 2022, the Fed menaikkan suku bunga acuan sebanyak 11 kali dengan kenaikan akumulatif sebesar 525 bps. Kenaikan suku bunga terakhir dilakukan bank sentral AS tersebut pada Juli 2023 menjadi 5,25-5,50 persen.

Pada 2023, kenaikan Fed Fund Rate (FFR) terjadi sebanyak 4 kali, yakni Februari, Maret, Mei, dan Juli dengan kenaikan masing-masing 25 bps. (total 100 bps), terakhir Desember FFR di kisaran 4,25-4,50 persen.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

Berita Terbaru

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Lampaui Target Nasional, Banten Jadi Contoh CKG-TBC

Tidak Hanya Jadi Ajang Olahraga, Purwokerto City Run 2026 Kenalkan Budaya Lokal

KemenPU Tangani 1.229 Titik Kekeringan: 41 Ribu Hektar Sawah & 616 Ribu Jiwa Terbantu

Kebakaran Rumah di Kebayoran Baru, Sebanyak 81 Personel Dikerahkan

Gempa M5,9 Mengguncang Jepang Bagian Timur termasuk Tokyo, Layanan Kereta Api Terganggu

269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar

Budi Doremi Rilis Lagu Baru "Cinta Sendiri", Ajak Pendengar untuk Move On

Jaga Tradisi 5 Abad Kota Banjarmasin, Pemkot Gelar Festival Karya Tari

Peringati HUT RI, Polda Metro Jaya Fasilitasi Perpanjangan SIM Gratis Ribuan Pengemudi Ojol

IQAir: Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat Pagi Ini, Kelima Terburuk di Dunia

Kebakaran Melanda Kampung Adat Sade di Lombok Tengah, Rumah Suku Sasak Hangus Terbakar

Tim Bola Voli Putri Indonesia Bungkam Kazakstan, Revans Terbayar

Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia

Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU

Karhutla di Jambi Terus Meningkat, Perusahaan Migas Petrochina Jabung Bantu Padamkan

Liga Inggris: Manchester United Tersungkur di Kandang Hull, Tottenham Dipermalukan Brentford

Serie A Italia: Inter dan Napoli Awali Musim 2026-27 dengan Kemenangan, De Bruyne Jadi Pembeda

Bayern Taklukkan Dortmund 2-1 dan Rebut Piala Super Jerman

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.