Benny Susetyo: Pemegang Kekuasaan Harus Jadi Role Model Nilai Pancasila

Selasa, 30 Jan 2024, 19:15 WIB

JAKARTA - Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo, menyatakan bahwa pemegang kekuasaan dan pemangku kebijakan seharusnya menjadi role model aplikasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, termasuk berbangsa dan bernegara.

Hal itu dia sampaikan pada acara Diklat bagi Pengajar Diklat Pembinaan Ideologi Pancasila Tingkat Dasar dan Menengah Bagi Calon Maheswara Pratama dan Madya, yang dilaksanakan di Jakarta, sejak hari Senin (29/01/2023) dan akan berakhir pada hari Jumat (02/02/2024), oleh Kedeputian Bidang Pendidikan dan Pelatihan BPIP.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP tersebut mengisi sebagai narasumber pada materi bertajuk 'Kedudukan Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara', pada hari Selasa (30/01/2024).

Benny, sapaan akrabnya, menyatakan bahwa banyaknya pertanyaan mengenai aplikasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan satu kecenderungan.

"Pancasila, yang kita sepakati sebagai dasar dan norma kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, malah tidak dijadikan penuntun dan pedoman perilaku, terutama oleh pihak yang seharusnya mnejadi role model, para pemegang kekuasaan dan pemangku kebijakan," tegasnya.

Pakar komunikasi politik ini menyoroti bahwa seharusnya, sebagai pihak yang selalu disorot dan memiliki kekuasaan penuh untuk mengesahkan peraturan perundang-undangan, para pemegang kekuasaan dan pemangku kebijakan ini, menunjukkan perilaku dan sikap yang terus menerus sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

"Pancasila itu harus menjadi habituasi bangsa dan negara, untuk berpikir dan berperilaku. Oleh karena itu, masyarakat butuh ditunjukkan bagaimana melaksanakan Pancasila sebagai habituasi bangsa dan negara. Sayangnya, ini yang kurang dan seringkali tidak ditunjukkan," tandasnya lagi.

"Dahulu, masyarakat punya role model. Para Founding Fathers kita. Bung Hatta, contohnya, bagaimana dia tidak membeli sepatu bermerek sampai akhir hayatnya, padahal bisa dengan mudahnya, dengan kekuatan dan kekuasaan yang dia miliki, dia memiliki sepatu tersebut. Agus Salim, misalnya juga, tidak arogan meminta tempat duduk di kereta karena menyadari betul bahwa semua orang punya hak untuk duduk di kursi-kursi dalam kereta tersebut. Tapi, sekarang (role model) itu hilang. Arogansi dipertontonkan, hukum dikoyak karena kekuasaan menang, alhasil, masyarakat pun jadi merasa mereka juga bisa arogan, oportunis, dan tidak taat aturan. Itulah yang merusak aplikasi nilai Pancasila."

Saat ditanyakan soal bagaimanakah masyarakat dapat memperbaiki keadaan ini, Benny pun menyatakan pendidikan akan aplikasi nilai Pancasila harus kuat di lini pendidikan dasar masyarakat Indonesia.

"Para guru-guru harus mengajarkan juga nilai-nilai kepada kesadaran rasa berbangsa, rasa ketuhanan, rasa kemanusiaan, rasa persatuan, rasa kerakyatan dan rasa keadilan sosial, rasa-rasa Pancasila. Kejujuran, serta etika dan moral dalam berpikir. Saya pikir, dengan pendidikan, kita mampu membentuk generasi-generasi yang kembali beretika dan melaksanakan nilai Pancasila," ujarnya.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP ini juga mendorong para intelektual, termasuk para peserta yang terdiri dari pendidik, untuk bersuara mengenai ketimpangan-ketimpangan yang terjadi.

"Kita semua, kita masyarakat, berhak meluruskan jika memang merasa penyimpangan nilai, etika dan moral Pancasila, dilanggar. Tulislah di kolom-kolom opini, media sosial, jadilah pengkritik yang juga berpikir kritis dan memberikan edukasi dengan bahasa yang engaging sehingga masyarakat mengerti," katanya.

Benny pun menutup sesinya dengan sebuah seruan.

"Memang ini berat, untuk mengingatkan, mengedukasi, serta memberikan kritik. Tetapi, jika kita sadar betul Pancasila adalah DNA bangsa Indonesia, maka haruslah kita menjadi radar pengingat jika kritis aplikasi Pancasila sudah terjadi, apalagi di kalangan para pemegang kekuasaan dan pemangku kebijakan, yang dimana apapunkebijakan mereka, akan langsung mempengaruhi kita semua. Bangsa ini, jika perlu, harus melakukan dekonstruksi, untuk mengembalikan lagi etika dan moral berbangsa bernegara berdasarkan nilai Pancasila, lewat edukasi ini," tutupnya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

Berita Terbaru

BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah RI Diprakirakan Cerah Berawan pada Minggu

Shopee Gandakan Donasi, Perkuat Gotong Royong Digital untuk Pemulihan Paska Gempa NTT

PT KAI Menilai Sejumlah Kegiatan di Purwokerto Tingkatkan Mobilitas Masyarakat

Lampaui Target Nasional, Banten Jadi Contoh CKG-TBC

Tidak Hanya Jadi Ajang Olahraga, Purwokerto City Run 2026 Kenalkan Budaya Lokal

KemenPU Tangani 1.229 Titik Kekeringan: 41 Ribu Hektar Sawah & 616 Ribu Jiwa Terbantu

Kebakaran Rumah di Kebayoran Baru, Sebanyak 81 Personel Dikerahkan

Gempa M5,9 Mengguncang Jepang Bagian Timur termasuk Tokyo, Layanan Kereta Api Terganggu

269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar

Budi Doremi Rilis Lagu Baru "Cinta Sendiri", Ajak Pendengar untuk Move On

Jaga Tradisi 5 Abad Kota Banjarmasin, Pemkot Gelar Festival Karya Tari

Peringati HUT RI, Polda Metro Jaya Fasilitasi Perpanjangan SIM Gratis Ribuan Pengemudi Ojol

IQAir: Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat Pagi Ini, Kelima Terburuk di Dunia

Kebakaran Melanda Kampung Adat Sade di Lombok Tengah, Rumah Suku Sasak Hangus Terbakar

Tim Bola Voli Putri Indonesia Bungkam Kazakstan, Revans Terbayar

Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia

Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU

Karhutla di Jambi Terus Meningkat, Perusahaan Migas Petrochina Jabung Bantu Padamkan

Liga Inggris: Manchester United Tersungkur di Kandang Hull, Tottenham Dipermalukan Brentford

Serie A Italia: Inter dan Napoli Awali Musim 2026-27 dengan Kemenangan, De Bruyne Jadi Pembeda

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.