Belajar dari Tumbangnya Sang Raksasa Boeing
Senin, 29 Jan 2024, 00:02 WIBPesawat B737 MAX 8 Lion Air nomor penerbangan JT610 pada 29 Oktober 2018 mengalami kecelakaan fatal. Pesawat secara tiba-tiba hilang kontak di kawasan perairan Karawang. Kemudian diketahui pesawat itu jatuh dari ketinggian 3.000 kaki. Sejumlah 189 orang berada di dalamnya, termasuk penumpang dan awak, tidak dapat diselamatkan. Diketahui Lion Air JT610 tersebut berangkat dari Jakarta dengan rencana tujuan Pangkal Pinang.
Berikutnya pada tanggal 10 Maret 2019, pesawat Boeing jenis yang sama B737 MAX 8 milik Ethiopian Airlines nomor penerbangan ET302 jatuh saat baru take off dari Adis Ababa International Airport. Pesawat dengan tujuan Kenya, Nairobi itu jatuh 6 menit setelah take off. Diberitakan pesawat naas itu mengangkut 157 penumpang dan awak pesawat. Total 346 nyawa melayang dalam waktu lebih kurang 4 bulan akibat kecelakaan pesawat terbang Boeing produk yang masih baru. Ketika itu sudah ada yang sinis mengatakan pesawat Boeing sebagai The Flying Coffin.
Senin 21 Maret 2022 sebuah pesawat Boeing 737-800 milik maskapai penerbangan China Eastern Airlines dilaporkan jatuh di area pegunungan. Pesawat yang berangkat dari Kunming tujuan Guangzhou itu membawa 132 penumpang yang dipastikan meninggal dunia.
Kabar paling mutakhir adalah kejadian pada hari Jumat 5 Januari 2024 yang baru lalu, nyaris terjadi kecelakaan pesawat Boeing 737 MAX 9 milik Alaska Airlines. Pesawat dengan nomor pernebangan 1282 rute Portland menuju Oregon terpaksa mendarat kembali di Portland setelah 20 menit mengudara. Penyebabnya adalah salah satu panel jendela meledak dan terlepas di udara.
Sebenarnya sejak peristiwa Lion Air dan Ethiopian Airlines di tahun 2018 dan 2019 yang lalu itu, kredibilitas pabrik pesawat Boeing dan otoritas penerbangan Federal Aviation Administration (FAA) sudah mulai dipertanyakan banyak pihak. Boeing dan FAA sejauh ini dikenal sebagai pabrik pesawat dan otoritas penerbangan yang paling terpercaya di dunia dalam aspek keselamatan penerbangan. Banyak warga Amerika Serikat sendiri sangat menyayangkan dan bertanya ada apa gerangan yang terjadi atas pabrik pesawat terbang kebanggaan mereka. Demikian pula tentang FAA yang selama ini menjadi barometer keselamatan terbang bagi seluruh produksi pesawat terbang di seantero jagad ini. Produksi pesawat terbang, tidak perduli keluaran negara mana, apabila belum memperoleh sertifikat FAA, tidak ada satu negara pun yang mau ambil risiko untuk menggunakannya.
Menyusul dua kecelakaan Boeing 737 MAX 8 di Indonesia dan Ethiopia, Boeing memecat pemimpin eksekutifnya Dennis Muilenburg dalam upaya mengembalikan kepercayaan publik terhadap Boeing. Sementara itu muncul pengakuan pihak FAA di kongres yang mengatakan FAA memang tengah menghadapi masalah kekurangan dana dan keterbatasan ahli teknik penerbangan, sehingga mendelegasikan proses sertifikasi kepada pihak pabrik.
Khusus menanggapi kecelakaan yang nyaris fatal pesawat B737 MAX 9 Alaska Airlines, CEO Boeing Dave Calhoun pengganti Muilenburg merespon bahwa Ia mengaku insiden Alaska Airlines merupakan kesalahan perusahaannya. Ia juga berjanji akan melakukan penanganan kasus tersebut dengan transparan.
Di sisi lain Administrator FAA Mike Whitaker menanggapi insiden Alaska Airlines dengan menekankan bahwa : "Hal ini tidak akan kembali berjalan seperti biasa bagi Boeing. Kami tidak akan menyetujui permintaan apa pun dari Boeing untuk perluasan produksi atau menyetujui jalur produksi tambahan untuk 737 MAX sampai kami yakin bahwa masalah kendali mutu yang ditemukan selama proses ini telah diselesaikan,"
Apa sebenarnya yang tengah terjadi pada pabrikan pesawat terbang raksasa dan terpercaya kelas dunia bermerek Boeing itu. Pasca jatuhnya dua pesawat Boeing MAX 8 Lion Air dan Ethiopian Airlines, beredar banyak tulisan dari para pengamat, praktisi serta akademisi yang coba menganalisis tentang apa sesungguhnya yang telah terjadi pada Pabrik Pesawat Boeing belakangan ini. Dari sekian banyak kajian, komentar dan respon banyak pihak pada umumnya mereka mempertanyakan tentang betapa cerobohnya jalur produksi pesawat terbang Boeing yang selama ini terkenal sangat ketat dengan masalah keselamatan penerbangan. Puncaknya adalah dirilisnya sebuah film yang semi dokumenter menceritakan perkembangan buruk yang terjadi di dalam mekanisme kerja Boeing pasca merger dengan McDonnell Douglas di tahun 1990-an. Film itu yang beredar di Netflix berjudul Downfall: The Case Against Boeing keluaran tahun 2022 kategori documentary tragedy dengan durasi 1 jam 29 menit di sutradarai Rory Kennedy.
Film Downfall sangat mengejutkan kalangan penerbangan dan juga orang awam tentang akar masalah yang menyebabkan kecelakaan fatal dua pesawat Boeing modern versi mutakhir, seri 737 MAX 8 yang digunakan Lion Air dan Ethiopian Airlines. Banyak hal yang diungkap dalam film Downfall tersebut yang belum dikemukakan oleh banyak analis penerbangan tentang dua kecelakaan fatal itu.
Bergesernya Format Industri
Perkembangan industri penerbangan dunia memang melesat dengan sangat cepat. Pasar penjualan pesawat terbang berkembang lebih cepat lagi. Inilah yang menyebabkan bergesernya format produksi pesawat terbang yang tadinya merupakan simbol produk unggulan teknologi tinggi yang membanggakan bagi kemanusiaan kepada bentuk produksi unggulan teknologi tinggi yang laris manis bak pisang goreng, alias barang dagangan semata.
Pada titik inilah para jajaran top manajemen jajaran Board of Leadership mulai melihat produk pesawat terbang sebagai lahan memperoleh keuntungan dalam format melihat pesawat terbang sama dengan barang kelontong. Orientasi produsen pesawat terbang pindah dengan serta merta dari menghasilkan produk simbol teknologi tinggi unggulan bagi kesejahteraan umat manusia menjadi produk yang berkiblat semata pada profit finansial. Jajaran pimpinan pabrik Boeing seolah tidak melihat lagi orientasi keselamatan terbang sebagai prioritas utama dari kualitas hasil produksi. Mereka tersandera dengan hitungan profit yang dipengaruhi dinamika New York Stock Exchange.
Karena orientasi yang sudah menjadikan pasar modal sebagai kiblat produksi, maka beberapa tindakan dilakukan khususnya untuk menekan production cost. Standar pemeriksaan berulang bagi pengawasan kualitas produk bagi keselamatan terbang misalnya, telah dianggap sebagai pemborosan sekaligus penghambat lancarnya jalur produksi pesawat terbang.
Sudah menjadi rahasia umum, sejak Boeing merger dengan McDonnall Douglas di tahun 1997 dan pimpinan perusahaan sudah diduduki oleh mereka yang fokus pada aspek profit finansial, terjadi gesekan dengan para teknisi pesawat profesional. Tingginya tuntutan pasar dan dinamika pasar modal tidak bisa dihindari untuk terjadinya semakin tajam friksi yang muncul dipermukaan. Friksi antara para teknisi profesional versus jajaran top manajemen. Inilah yang disebut sebagai akar masalah timbulnya hasil produksi pesawat terbang yang cacat pabrik sebagai hasil dari lemahnya Quality Control alias kendali mutu dan meningkatnya orientasi lebih pada profit finansial. Kesemua itu menghasilkan corporate culture yang baru, menghasilkan budaya perusahaan yang bergeser orientasinya lebih ke profit dari pada unsur keselamatan penerbangan.
Masyarakat luas berharap kecelakaan Lion Air dan Ethiopian Airlines menjadi pemicu untuk kembalinya nama besar Boeing sebagai pelopor utama simbol keselamatan penerbangan. Harapan menjadi sirna ketika di awal tahun 2024 Alaska Airlines mengalami insiden jendela copot saat baru terbang selama 20 menit. Kejadian ini memperparah penilaian orang terhadap kualitas pabrik pembuat pesawat terbang Boeing.
Kejadian yang sangat mempermalukan Boeing dan menjelaskan kepada masyarakat luas tentang betapa rendahnya standar kualitas produk pesawat terbang Boeing. Boeing memproduksi pesawat terbang yang jendelanya bisa copot saat terbang. Sulit dibantah insiden ini adalah hasil dari konflik panjang antara teknisi profesional versus jajaran leadership dalam proses produksi. Sulit dibantah insiden tersebut adalah hasil dari kecerobohan kerja pabrik.
Kesimpulan dari itu semua adalah bahwa kepemimpinan akan sangat menentukan hasil akhir dari sebuah kualitas proses produksi. Moral harus menjadi tolok ukur sisi kepemimpinan dalam sebuah organisasi termasuk pabrik pesawat terbang. Moral dalam kepemimpinan bahkan juga mempengaruhi kualitas sebuah bangsa. Ayah Kylian Mbappe, pemain bintang sepak bola Perancis asal Kamerun, Wilfried Mbappe mengatakan corrupt kill the dream of nation. Bangsa yang pimpinannya korup dan dengan enteng menyalahgunakan kekuasaan pasti mengantar negaranya menuju kehancuran. Tragedi Boeing kiranya dapat memberikan kepada kita semua pelajaran tentang aspek leadership dalam perannya membawa kesuksesan dalam setiap kegiatan apapun, sekaligus dalam waktu yang sama dapat pula membawa keruntuhan bagi perusahaan sebesar apapun dia.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Tim Koran Jakarta
Berita Terkait:
-
Lewat Inisiatif Ascott CARES, Citadines Antasari Jakarta Ajak Tamu Rayakan Earth Hour Secara Kreatif
-
Telah Tempuh 3 Ribu Km, Veloz Hybrid Lintas Nusa Buktikan Ketangguhan dan Kenyamanan
-
Komisi VI DPR Dukung Percepatan Pengembangan Pelabuhan Merak
-
Setelah 5 Tahun Terhenti, Penerbangan Langsung India-Tiongkok Resmi Dibuka Lagi
-
Ramai Soal Jual Beli Jabatan di Pemprov DKI, Ketua Pemerhati: "Hoaks"
-
Longsor di Malalak Agam Putus Akses Padang–Bukittinggi
-
BLTS Kesra Tahap Kedua Siap Cair Pekan Depan, 12 Juta KPM Bakal Terima Bantuan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.