- Home
-
- Luar Negeri
-
- Petani Suriah Pilih Tingga...
Petani Suriah Pilih Tinggalkan Lahan Pertanian untuk Pekerjaan Tetap
Sabtu, 27 Jan 2024, 02:15 WIBSetelah bertahun-tahun dilanda perang, kekeringan, dan krisis ekonomi, Omar Abdel-Fattah terpaksa menyewakan lahan pertaniannya di timur laut Suriah dan lebih memilih pekerjaan yang lebih stabil untuk menafkahi keluarganya.
"Saya sedih melihat orang lain menggarap lahan saya," kata Abdel-Fattah, 50 tahun, yang telah menanam gandum, kapas, dan sayuran di Jaabar al-Saghir, di Provinsi Raqa, Suriah, selama tiga dekade.
Dia mengatakan dirinya harus meninggalkan pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup dan memberikan pendidikan kepada delapan anaknya karena dia sudah tidak mampu lagi menanggung biaya pertanian, termasuk irigasi.
Pertanian pernah menjadi pilar perekonomian Suriah timur laut. Wilayah ini merupakan lumbung pangan negara ini sebelum tahun 2011, ketika pemerintah menekan protes damai, sehingga memicu konflik yang telah menewaskan lebih dari 500.000 orang dan membuat jutaan orang mengungsi.
Saat ini dampak perubahan iklim terutama peningkatan suhu dan kekeringan serta kenaikan biaya, memberikan pukulan telak terhadap produksi pertanian dan keluarga yang bergantung pada pertanian untuk bertahan hidup.
Saat ini Abdel-Fattah mendapatkan pekerjaan di sebuah stasiun pompa air yang dikelola oleh pemerintahan semi-otonom Kurdi di wilayah tersebut. Bayarannya sekitar 70 dollar AS per bulan, jadi dia juga menjalankan toko kecil yang menjual perangkat keras dan barang-barang lainnya untuk bertahan hidup.
Beberapa kerabatnya juga menyewakan tanah mereka, sementara yang lain meninggalkan Suriah karena situasi keuangan yang buruk di sana, kata Abdel-Fattah. Dia pun mendesak pemerintah Kurdi dan organisasi pertanian internasional untuk memberikan dukungan dan pinjaman bagi para petani di daerah tersebut.
"Ini satu-satunya solusi untuk menyelamatkan pertanian, membantu petani dan mendorong mereka untuk kembali ke ladangnya lagi," ungkap dia.
Di sebagian besar Provinsi Raqa, lahan pertanian kosong berada di samping lahan pertanian tempat para petani dan pekerja memanen tanaman, termasuk kentang dan jagung. Suriah telah mengalami perang saudara selama lebih dari 12 tahun, dan Raqa adalah pusat "kekhalifahan" brutal kelompok ISIS di Suriah hingga mereka digulingkan dari kota tersebut pada tahun 2017.
Di Kota Qahtaniyah, Jassem al-Rashed, 55 tahun, mengatakan bahwa pertanian adalah satu-satunya pendapatannya selama 30 tahun, namun kini menjadi kerugian. Anak-anaknya awalnya membantu dia di ladang, tapi sekarang dia mengurus tanaman sendirian.
"Dua anak saya bekerja di perdagangan ternak, dua lainnya berangkat ke Eropa, sedangkan tiga lainnya bergabung dengan polisi lalu lintas dan aparat keamanan," ujar dia. "Bertani tidak lagi cocok bagi mereka, setelah kekeringan beberapa tahun terakhir," imbuh dia.
Pada November lalu, kelompok Atribusi Cuaca Dunia mengatakan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia telah meningkatkan suhu, membuat kekeringan 25 kali lebih mungkin terjadi di Suriah dan negara tetangga Irak.
Faktor yang Berbahaya
Perang yang berlangsung selama lebih dari satu dekade telah menghancurkan perekonomian Suriah, dan pemadaman listrik yang berkepanjangan setiap hari membuat masyarakat harus bergantung pada generator untuk mendapatkan listrik di tengah kekurangan bahan bakar yang sering terjadi.
Para petani mengatakan kepadaAFPbahwa mereka kesulitan membayar benih dan pupuk, dan beberapa di antara mereka beralih ke panel surya untuk membantu menyalakan pompa air.
Leila Sarukhan, seorang pejabat di pemerintahan Kurdi, mengakui bahwa faktor-faktor seperti kekeringan dan kenaikan biaya telah menyebabkan penurunan sektor pertanian. "Perubahan iklim berdampak pada curah hujan, sementara penggurunan meluas di timur laut Suriah," kata dia kepadaAFPseraya menambahkan: "Ini adalah faktor yang berbahaya bagi pertanian."
Kembali ke Provinsi Raqa, petani Adnan Ibrahim mengatakan anak-anaknya telah meninggalkan pertanian dan bergabung dengan dinas keamanan Kurdi untuk mendapatkan gaji tetap. Dia menunjuk pada peralatan pertanian yang tidak digunakan di dekat rumah, dan menyesali dampak perubahan iklim serta kenaikan harga.
Namun pria berusia 56 tahun ini juga mengatakan bahwa momok konflik yang selalu ada mempengaruhi keputusan anak-anaknya. "Kami takut mengolah tanah kami," kata dia. "Perang bisa pecah kapan saja dan pesawat tempur bisa mengebom tanah kami. Jadi, memiliki pekerjaan tetap adalah lebih baik." AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Lando Norris Rebut Pole Position di GP Meksiko 2025
-
Mendikdasmen Abdul Mu'ti Tekankan Pentingnya 7 Kebiasaan Hebat untuk Siswa di Samarinda
-
Menhub Ajak Masyarakat Gunakan Diskon Tarif, Stimulus Bepergian
-
Terkena Puing Rudal Iran: Suriah Tutup Rapat Wilayah Udaranya
-
Dinkes Pasaman Barat Sidak Parsel dan Takjil, Cek Ketat Tanggal Kedaluwarsa
-
Pemkot Makassar dan Swasta Bagikan Seragam Gratis untuk Siswa SD
-
Polisi Garut Turun Tangan! Pengendara yang Merokok Langsung Ditertibkan, Denda Bisa Rp750 Ribu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.