Soal Serangan AS dan Inggris ke Houthi di Yaman, Tiongkok Sebut Laut Merah Perlu Stabil

Sabtu, 13 Jan 2024, 00:03 WIB

Beijing - Pemerintah Tiongkok merespon serangan Amerika Serikat (AS) dan Inggris ke kelmpok Houthi di Yaman dengan menyebut bahwa Laut Merah membutuhkan stabilitas sehingga pihak-pihak terkait seharusnya bisa menahan diri.

"Tiongkok menyerukan kepada pihak-pihak terkait untuk memainkan peran konstruktif dan bertanggung jawab dalam menjaga Laut Merah tetap damai dan stabil, demi kepentingan bersama komunitas internasional," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning saat menyampaikan keterangan kepada media di Beijing, Tiongkok pada Jumat.

AS dan Inggris melancarkan serangan terhadap beberapa kota di Yaman yang dianggap berafiliasi dengan kelompok Houthi pada Jumat (12/1) pagi. Serangan itu dilakukan sebagai respon terhadap Kelompok Houthi di Yaman yang menargetkan kapal sipil yang menuju Israel di Laut Merah

"Tiongkok prihatin dengan meningkatnya ketegangan di Laut Merah dan menyerukan pihak-pihak terkait untuk bersikap tenang dan menahan diri untuk mencegah eskalasi konflik. Laut Merah merupakan jalur penting bagi distribusi barang dan energi global," tambah Mao Ning.

Mao Nng menyebut Tiongkok juga meyakini pentingnya untuk memastikan keamanan jalur laut internasional.

"Kami tidak ingin ketegangan di Laut Merah meningkat karena hal itu tidak akan berdampak baik bagi perekonomian dan perdagangan dunia," ungkap Mao Ning.

Saat ini, menurut Mao Ning, hal terpenting yang dilakukan adalah meredakan situasi di Laut Merah dan menjaga jalur pelayaran internasional tetap aman.

"Kami siap bekerja sama dengan berbagai pihak untuk meredakan situasi dan menjaga jalur pelayaran internasional tetap aman," kata Mao Ning.

Sejumlah pesawat tempur AS dan Inggris melancarkan serangan udara ke ibu kota Yaman, Sana'a, serta wilayah gubernuran Al Hudaydah, Sa'ada, dan Dhamar.

Gempuran AS dan Inggris menerjang beberapa lokasi penting Houthi seperti Pangkalan Udara Al Dailami di Ibu Kota Sana'a, kawasan Bandara Internasional Hodeidah, markas militer di Saada, kawasan Bandara Internasional Taiz dan sekitarnya di selatan Yaman, hingga bandara di kota Abs.

Kelompok Houthi menguasai sebagian besar Yaman, termasuk menduduki Ibu Kota Sana'a sejak 2014 ketika perang sipil pecah di negara itu.

Presiden AS Joe Biden mengonfirmasi gempuran AS-Inggris ke Yaman merupakan ultimatum atas serangan Houthi di Laut Merah. Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak juga menyebut pasukan militernya berhasil menggempur sejumlah target Houthi di Yaman.

Serangan AS dan Inggris itu terjadi beberapa jam setelah pemimpin kelompok Houthi di Yaman, Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan bahwa siapa pun yang menyerang negaranya akan menghadapi konsekuensi serius.

Atas serangan itu, pasukan Yaman bersiap untuk menyerang kapal-kapal Amerika Serikat dan Inggris di Laut Merah.

"Angkatan bersenjata Yaman akan membalas dengan serangan yang lebih keras terhadap kapal-kapal Amerika Serikat dan Inggris di Laut Merah, yang dapat memicu perang sengit di Laut Merah dan menargetkan basis dan pangkalan-pangkalan militer Amerika dan Inggris … dan apa yang akan terjadi bakal lebih dahsyat lagi," kata pemimpin Houthi Ali al-Qahoum.

Houthi sudah melancarkan 27 serangan terhadap pelayaran internasional sejak 19 November 2023. Mereka membidik kapal-kapal di selatan Laut Merah dan memperingatkan akan menyerang semua kapal yang menuju Israel.

Mereka juga mengatakan serangan itu dimaksudkan sebagai dukungan kepada rakyat Palestina yang menghadapi "agresi dan pengepungan" Israel di Gaza.

Laut Merah adalah salah satu jalur laut yang paling sering digunakan di dunia untuk mengirimkan minyak dan bahan bakar.

Bulan lalu, AS dan 12 negara sekutu mengeluarkan pernyataan bersama berisikan ultimatum bagi Houthi soal potensi serangan balasan imbas sabotase dan provokasinya di Laut Merah belakangan ini.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Event Budaya Lokal Dipadukan Sport dan Lifestyle Bakal Perkuat Pengembangan Mandalika

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.