- Home
-
- Luar Negeri
-
- Junta dan Aliansi Etnis Se...
Junta dan Aliansi Etnis Sepakati Gencatan Senjata
Sabtu, 13 Jan 2024, 02:30 WIBYANGON - Junta dan aliansi tiga kelompok etnis bersenjata di Myanmar pada Jumat (12/1) mengkonfirmasi bahwa mereka telah mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Tiongkok.
"Dengan bantuan fasilitasi Tiongkok, diadakan pertemuan di (kota di Tiongkok selatan) Kunming. Kami telah mencapai kesepakatan gencatan senjata," kata juru bicara junta Zaw Min Tun kepada AFP, bersama dengan Tar Bhone Kyaw dari Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang, seraya menyatakan bawa mereka telah setuju untuk membuka kembali perdagangan perbatasan dengan Tiongkok.
Sebelumnya Tiongkok mengatakan pihaknya telah merundingkan gencatan senjata secepatnya antara militer Myanmar dan aliansi kelompok bersenjata etnis minoritas, menyusul pertempuran yang terjadi di Negara Bagian Shan utara sejak Oktober lalu.
"Kedua belah pihak sepakat untuk segera melakukan gencatan senjata, menarik personel militer dan menyelesaikan perselisihan dan tuntutan terkait melalui perundingan damai," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning.
Pembicaraan tersebut berlangsung dengan mediasi dan fasilitasi pihak Tiongkok pada Rabu (10/1) dan Kamis (11/1) di Kunming, Provinsi Yunnan, yang berbatasan dengan Myanmar, kata dia.
Mao tidak mengatakan wilayah mana saja yang termasuk dalam gencatan senjata.
Ketidakpuasan Tiongkok
Militer Myanmar menghadapi ancaman terbesarnya sejak merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 2021 setelah tiga kelompok etnis bersenjata yang dikenal sebagai Aliansi Tiga Persaudaraan, melancarkan serangan besar-besaran pada Oktober di Negara Bagian Shan utara.
Aliansi bersenjata pekan lalu mengklaim telah merebut kota di utara yang terkenal dengan operasi penipuan online sebagai pukulan lain terhadap junta.
Sejak November, masyarakat telah meninggalkan Kota Laukkai, yang terletak di sebuah distrik yang berbatasan dengan Tiongkok, yang dijalankan oleh milisi yang bersekutu dengan militer Myanmar dan terkenal dengan perjudian, prostitusi, dan penipuan online.
Aliansi tersebut yang terdiri dari Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA), Tentara Arakan (AA) dan Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang (TNLA), mengatakan bahwa kota tersebut kini berada di bawah kendali mereka.
Beijing juga pekan lalu menyuarakan ketidakpuasan yang kuat terhadap pertempuran di Myanmar yang telah menyebabkan korban di pihak Tiongkok dan mengatakan pihaknya akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi warganya, menyusul laporan bahwa peluru artileri meledak di seberang perbatasan.
"Kedua belah pihak berjanji untuk tidak membahayakan keselamatan penduduk perbatasan Tiongkok dan personel Tiongkok di Myanmar," kata Mao. "Kedua belah pihak juga mengadakan konsultasi mengenai isu-isu lain seperti pengaturan gencatan senjata," imbuh dia.
"Menjaga momentum gencatan senjata dan pembicaraan damai di Myanmar Utara sejalan dengan kepentingan semua pihak di Myanmar dan juga membantu menjaga perdamaian dan stabilitas di perbatasan," pungkas Mao.AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
Berita Terkait:
-
Komisi I DPR Dukung Pemerintah Desak Investigasi PBB atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon
-
Hasil Liga Italia: Imbang 1-1 Kontra Fiorentina, Lecce Masih Tertahan di Zona Degradasi
-
PLN Prediksi Konsumsi Listrik Jakarta Turun Saat Lebaran
-
Tantangan Perbankan Syariah, OJK Dorong Inovasi dan Penurunan Biaya Layanan
-
KAI Palembang Catat 1.481 Tiket Mudik Gratis 2026 Sudah Terisi
-
Myanmar Merasa Dikucilkan oleh Asean
-
Ini Jadwal Lengkap Liga Inggris Pekan ke-29: Newcastle vs Manchester United & Wolves vs Liverpool
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.