Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Tidak Terserap, Penarikan Utang untuk Biayai Defisit Malah Makin Bebani APBN

📅 Sabtu, 16 Des 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Tidak Terserap, Penarikan Utang untuk Biayai Defisit Malah Makin Bebani APBN Doc: AFP
Ket. SRI MULYANI INDRAWATI Menteri Keuangan RI - Defisit APBN mencapai 35 triliun rupiah (0,17 persen dari PDB) per 12 Desember 2023 karena realisasi belanja negara lebih besar dari realisasi pendapatan negara.

JAKARTA - Pemerintah dalam mendesain kebijakan fiskal melalui postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diharapkan membuat perhitungan yang cermat. Kecermatan membuat proyeksi itu agar kredibilitas pemerintah tetap terjaga.

Dari sisi keuangan negara pun bisa lebih efisien karena membuat penganggaran, terutama penarikan utang untuk membiayai defisit betul-betul terserap ke kegiatan yang produktif. Bukan sebaliknya, utang sudah ditarik untuk membiayai program, tetapi tidak terserap sehingga membebani keuangan negara terutama pembayaran bunga dari pinjaman itu.

Demikian disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB. Suhartoko, menanggapi pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati yang menyatakan defisit APBN mencapai 35 triliun rupiah (0,17 persen dari PDB) per 12 Desember 2023 karena realisasi belanja negara lebih besar dari realisasi pendapatan negara. Defisit tersebut masih jauh dari proyeksi pemerintah hingga akhir tahun yang didesain sebesar 598,2 triliun rupiah atau 2,8 persen dari PDB.

Suhartoko menegaskan defisit yang lebih rendah dibandingkan dengan desain defisit menunjukkan daya dorong kepada pertumbuhan ekonomi melemah. Persoalannya yang harus dilihat, apakah penurunan defisit itu disengaja atau karena ketidakmampuan dalam pencapaian. "Nampaknya kemungkinan yang kedua lebih realistis," ungkapnya.

Ketidakmampuan mencapai desain defisit, jelas Suhartoko, sangat klasik, yaitu realisasi anggaran yang tertumpuk pada bulan Oktober dan sesudahnya. Ini sudah bertahun-tahun selalu terjadi. "Ini menandakan kebijakan fiskal seperti tidak terencana dengan baik dan tentu saja dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi sulit diharapkan," katanya.

Pada kesempatan terpisah, pengamat ekonomi STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan semestinya Menkeu memberi klarifikasi lebih lanjut kenapa realisasi defisit jauh dari proyeksi atau target yang telah ditetapkan.

Menkeu tidak bisa mengatakan bahwa hal itu adalah hal baik, mengingat Indonesia membutuhkan pertumbuhan lebih tinggi untuk menyerap tenaga kerja dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Sri Mulyani, kata Aditya, perlu secara gamblang menjelaskan asumsi apa yang membentuk dasar perhitungan, apakah proyeksi itu berdasarkan peningkatan pendapatan, pengurangan belanja, atau faktor lainnya.

"Pemerintah perlu merespons perubahan ini dan ada langkah-langkah korektif atau kebijakan fiskal yang diimplementasikan untuk mengatasi ketidaksesuaian antara desain awal dan kinerja aktual," kata Aditya.

Harus Dievaluasi

Selain proyeksi defisit, penyerapan anggaran negara yang terus saja terjadi menjelang tutup tahun harus terus dievaluasi karena sering tidak efektif dan hanya buang-buang anggaran.

"Bisa jadi meski defisit sudah jauh dari target, SILPA juga masih tetap tinggi. Ini bukan prestasi namanya, tapi kegagalan penggunaan anggaran," tandas Aditya.

Menkeu dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta, Jumat (15/12), mengatakan pendapatan negara sampai 12 Desember 2023 tercatat 2.553,2 triliun rupiah atau 103,7 persen dari target awal APBN yang sebesar 2.463 triliun rupiah, dan diperkirakan sampai akhir tahun dapat mencapai target pendapatan dalam revisi APBN 2023 sebesar 2.637,2 triliun rupiah.

Dari sisi belanja, sampai 12 Desember 2023, negara sudah membelanjakan 2.588,2 triliun rupiah atau mencapai 84,55 persen dari target belanja pada APBN 2023 awal yang sebesar 3.061,2 triliun rupiah atau mencapai 83 persen dari revisi APBN sebesar 3.117,2 triliun rupiah.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Olahraga
Asian Games: Tim Voli Putra...
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.