Pakar ITS Ingatkan Risiko Jakarta Tenggelam Gara-gara Eksploitasi Air Tanah

Sabtu, 09 Des 2023, 00:02 WIB

SURABAYA - Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Heru Purwadio, memperingatkan, penggunaan air tanah yang berlebihan dan berlangsung terus-menerus dapat menurunkan permukaan tanah, dan menimbulkan risiko tenggelam pada kota pesisir seperti Jakarta.

"Penyedotan air tanah menggunakan sumur bor, sumur dalam (deepwell) oleh perorangan, perusahaan terutama industri, yang dilakukan dalam jumlah besar, terus menerus dalam jangka waktu lama, menyebabkan terjadinya rongga di lapisan aquifer," tuturnya saat dihubungi, Jumat (8/13).

Ket. Foto: Menurut para ahli, Jakarta mempunyai waktu hingga tahun 2030 untuk menemukan solusinya, atau akan terlambat untuk menahan Laut Jawa. — Sumber: Quartz/Reuters

Menurut dia, rongga kosong akibat penyedotan air tanah ini menyebabkan lapisan tanah di atasnya turun sehingga terjadi penurunan tanah permukaan.

Risiko tenggelam untuk kota seperti Jakarta lanjut Heru, semakin diperparah oleh naiknya permukaan air laut akibat fenomena pemanasan global

"Selain itu rongga kosong juga potensial diisi oleh air laut yg menyebabkan intrusi air laut. Ini menyebabkan sumur penduduk (sumur dangkal atau sumur gali) menjadi asin. Ketika permukaan tanah turun, kemudian terjadi curah hujan tinggi, ditambah pasang perbani dan pemanasan global, maka akan terendam banjir," tuturnya.

Secara terpisah, dalam sebuah jurnal ilmiah yang ia tulis bersama Putra Jaya Pradana, ia menyebutkan, pembangunan akibat pertumbuhan penduduk yang tidak diikuti dengan upaya pelestarian air jelas akan menimbulkan permasalahan.

Sedimentasi dari erosi sebagai dampak dari pembangunan mengakibatkan sungai menjadi dangkal sehingga semakin mudah terjadi overtopping aliran sungai menggenangi daerah sekitar. Banyak situ-situ dan cekungan-cekungan yang hilang akibat sedimentasi ini.

"Kemampuan lahan untuk menampung, menahan dan menyimpan air ke dalam tanah sudah semakin menurun sehingga proses infiltrasi dan perkolasi air di dalam tanah menjadi tidak efektif dan semakin berkurang".

"Berkurangnya luas penyebaran tanaman atau vegetasi juga akan mengakibatkan berkurangnya evaporasi dan pada saat hujan akan mengurangi intersepsi air hujan," tuturnya.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.