Indonesia Tetap Setarakan AS dan Tiongkok sebagai Mitra Penting
Jumat, 08 Des 2023, 00:02 WIBJAKARTA - Indonesia menganggap Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sebagai mitra penting untuk mencapai kepentingan nasional, meskipun kedua negara tengah bersaing dalam upaya memperebutkan pengaruh atau hegemoni global.
Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl, mengatakan AS merupakan mitra penting Indonesia dalam perdagangan dan investasi, pengadaan alutsista, dan kesehatan.
"AS tetap merupakan penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia meskipun dari segi nilai dagang diketahui penyumbang terbesar adalah Tiongkok," kata Nabyl dalam seminar BRIN seperti dikutip dari Antara, Kamis (7/12).
AS juga mitra penting dalam modernisasi sistem pertahanan Indonesia, seiring dengan komitmen pembelian 24 unit pesawat tempur F-15EX baru dari AS. AS juga mitra penting dalam sektor kesehatan. Saat pandemi, AS salah satu mitra terdepan dalam kerja sama vaksin. RI merupakan penerima donasi vaksin kedua terbesar AS. "Tak hanya Covid-19, AS juga mitra Indonesia dalam mendukung pemusnahan HIV/AIDS, Polio, Zika, penyakit-penyakit tidak menular (NCDS)," katanya.
Sama seperti AS, Nabyl mengatakan Indonesia dan Tiongkok juga memiliki hubungan kerja sama yang erat dalam berbagai bidang, termasuk pertahanan, investasi, pariwisata, perdagangan, kesehatan, dan infrastruktur.
Pada 2022, nilai investasi Tiongkok di Indonesia mencapai 8,2 miliar dollar AS (setara 127 triliun rupiah) dan total nilai perdagangan 133 miliar dollar AS atau dua kuadriliun rupiah. Tiongkok juga merupakan investor terbesar kedua RI.
Dalam bidang kesehatan, Indonesia dan Tiongkok juga menjalin kerja sama vaksin Covid-19 dan Genomics, bahan baku obat dan sister hospital, dan kerja sama Bio Farma-Sinovac serta Kimia Farma-Sinopharm. Pada bidang infrastruktur, Naby menyebut Tiongkok berperan dalam proyek kereta cepat, sinergi Global Maritime Fulcrum-Belt and Road Iniatiative (GMF-BRI), Kawasan Ekonomi Khusus Kura-Kura Bali, dan pembangunan pelabuhan Kuala Tanjung.
AS dan Tiongkok merupakan mitra strategis komprehensif Indonesia. Indonesia dan Tiongkok telah menyepakati Kemitraan Strategis Komprehensif pada Oktober 2013.
Sementara dengan AS hubungan Kemitraan Strategis menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif dilakukan dalam pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Joe Biden, di Gedung Putih, Washington, pada 13 November 2023 lalu.
Harus Cermat
Pakar Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya, Malang, Aswin Ariyanto Azis, mengatakan Indonesia harus cepat dan cermat memanfaatkan peluang atas rivalitas dua negara adidaya tersebut, terutama untuk mendukung keutuhan NKRI.
"Kebijakan politik luar negeri bebas aktif Indonesia dalam konteks rivalitas AS-Tiongkok menguji kemampuan Indonesia dalam mendayung di antara dua karang. Prioritas kepentingan nasional melalui politik luar negeri adalah memastikan dukungan kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI. Kedua adalah prioritas dukungan pertumbuhan ekonomi untuk Indonesia," kata Aswin.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Inter Milan Berpeluang Kunci Gelar
-
Semarang Duduki Peringkat Tiga Kota Paling Toleran se-Indonesia 2025
-
Tiongkok Gelar "Operasi Khusus" di Dekat Taiwan, Terusik dengan Pertemuan Jepang-Filipina
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Edukasi Gigi dan Mulut di Sekolah, Ajarkan Cara Menjaga Kesehatan Sejak Dini
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.