Deteksi Dini Imunohistokimia dan Molekuler Tingkatkan Harapan Hidup Pasien Kanker Paru
Rabu, 29 Nov 2023, 20:21 WIBJAKARTA - Penyakit kanker paru merupakan salah satu jenis kanker tidak menimbulkan gejala sehingga kebanyakan diketahui pada stadium lanjut dantelah menyebar ke jaringan dan organ sekitar. Oleh karenanya penting untuk melakukan deteksi dini agar penyakit ini lebih mudah ditangani.
"Kami telah secara aktif menerapkan transformasi sistem kesehatan, salah satunya dengan mendorong upaya deteksi dini secara terus-menerus," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., dalam diskusi bertema Tingkatkan Kualitas Hidup Kanker Paru di Jakarta Selasa (29/11).
Selain meningkatkan kualitas hidup pasien, deteksi dini juga akan memudahkan identifikasi pengobatan yang tepat. Dengan demikian beban pembiayaan perawatan kesehatan penyakit kanker paru dapat tetap dikendalikan.
Lebih lanjut dr. Siti Nadia Tarmizi menambahkan, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini sudah semakin meningkat. Meski demikian, pemahaman tentang pemeriksaan dengan metode Imunohistokimia (IHK), terutama bagi pasien kanker paru masih menemui tantangan salah satunya biayanya belum ditanggung BPJS.
"Kolaborasi dan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat membuka akses tes yang lebih luas bagi masyarakat," kata dia.
Kepala Pelayanan Medik RSUP Persahabatan dr. Erlang Samoedro, SpP(K) mengatakan, pemeriksaan molekuler dengan PCR untuk deteksi mutasi gen dan pemeriksaan menggunakan metode munohistokimia (IHK) untuk melihat ekspresi protein dapat membantu dalam pemilihan terapi lanjutan yang tepat.
Sebagai upaya untuk penegakan diagnosis kanker paru, RSUP Persahabatan bekerjasama dengan Roche Indonesia menyediakan pemeriksaan ALK dan PD-L1 dengan metode Imunohistokimia (IHK) secara cuma-cuma. Saat ini telah melayani 30-50 pemeriksaan dalam sebulan.
"Tentunya, pemeriksaan tersebut dapat membantu pasien untuk mendapatkan diagnosis yang terstandar sehingga pengobatan pun lebih cepat dan tepat," ujar dia.
Berdasarkan data terbaru, sebanyak 90 persen pasien kanker paru datang ke dokter setelah mereka memasuki stadium lanjut, menyebabkan keterlambatan dalam penanganan kanker dan meningkatkan risiko kematian pada pasien. Tegaknya pemeriksaan molekuler pada kanker paru sangat menentukan terapi yang optimal.
Sesuai dengan panduan tatalaksana nasional, pemeriksaan molekuler standar yang wajib dilakukan adalah EGFR, ALK, PD-L1 dan ROS-1 untuk KPKBSK (kanker paru bukan sel kecil). Pakar Onkologi Toraks RSUP Persahabatan dan Direktur Eksekutif Asosiasi Studi Onkologi Toraks Indonesia (IASTO) Prof. dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K) menambahkan saat ini, baru pemeriksaan EGFR yang telah dijamin oleh BPJS Kesehatan. Namun hal terbatas pada jenis sel tertentu.
Sementara pemeriksaan lain seperti ALK, PD-L1, ROS-1 belum dijamin. Angka positif EGFR di Indonesia berkisar 45-50 pesen, di mana masih ada sekitar 50 persen pasien BPJS yang mutasinya belum teridentifikasi sehingga kelompok tersebut kemungkinan besar belum mendapatkan terapi sesuai.
"Tentunya, hal ini tidak hanya berdampak pada kualitas hidup pasien. Namun, berdampak pula pada efisiensi biaya pelayanan kesehatan pada kanker paru di BPJS," kata dia.
Director, Diagnostics Division, PT Roche Indonesia, Lee Poh-Seng, menuturkan, kanker paru merupakan kanker tertinggi ke-3 di Indonesia, namun memiliki angka kematian tertinggi. Roche berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah dalam melakukan diagnosis dini kanker paru dan membantu dokter dengan keputusan klinis mengenai target terapi kanker untuk manajemen pasien yang lebih baik.
"Kami berkomitmen untuk memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan terkait untuk mendorong akses yang lebih luas terhadap pasien kanker paru, memberi mereka peluang lebih besar untuk bertahan hidup dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik," ujar dia.
Konferensi pers ini juga dihadiri oleh Koordinator Kanker paru dari Cancer Information & Support Center (CISC) Megawati Tanto dan Chairman of the Indonesia Health Economic Association (InaHEA) Prof. Dr. Hasbullah Thabrany. Keduanya menekankanpentingnya pemeriksaan komprehensif guna penegakan diagnosis dan penentuan target terapi yang tepat bagi pasien kanker paru.Namun, peningkatan aksesibilitas pemeriksaan Imunohistokimia (IHK) di Indonesia juga berperan penting untuk kualitas hidup pasien dan menekan beban pembiayaan.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Penerima program MBG di Kendari
-
Persija Jakarta Batalkan Rencana Bangun Stadion Baru
-
New START Berakhir, AS-Russia Rundingkan Kesepakatan Nuklir Baru
-
Kanker Paru Kini Mengintai Non-Perokok, Penyintas Desak Akses Diagnosis dan Obat Inovatif
-
Deepfake AI Dinilai Berpotensi Picu Perang Nuklir
-
YPMAK Evaluasi Penerima Beasiswa yang Tidak Capai Standar IPK
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.