Ekonom UI: Masa Depan Ekonomi Dunia Tak Hanya Pertumbuhan dan Inflasi

Jumat, 24 Nov 2023, 00:03 WIB

DEPOK - Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter dan Keuangan Internasional Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Prof. Ir. Sugiharso Safuan, M.E., Ph.D berpendapat masa depan perekonomian dunia ke depan tidak sekadar ditandai oleh perkembangan pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pengangguran.

Namun, juga bagaimana hubungan antara pengambil kebijakan di setiap negara melihat tanggung jawabnya sendiri, antara pemerintah sebagai otoritas fiskal dan bank sentral sebagai otoritas moneter, dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Ket. Foto: Sugiharso Safuan — Sumber: HUMAS UI

Hal itu dikemukakan Sugiharso Safuan dalam pidato pengukuhan guru besarnya di Balai Sidang UI, Depok, Rabu (22/11).

Sugiharso memaparkan tentang berbagai teori yang muncul saat krisis besar terjadi pada 1929. Saat itu, John Maynard Keynes seorang ekonom dari Inggris meyakini krisis disebabkan oleh kurangnya permintaan agregat.

Pendapat berbeda datang dari Milton Friedman ekonom asal Amerika Serikat, yang menganggap bahwa krisis besar disebabkan oleh kebijakan moneter yang salah.

Beranjak dari kedua pandangan berbeda tersebut, Sugiharso membahas lebih dalam seputar Teori Moneter Arus Utama (Mainstream Monetary Theory atau MsMT) dan Teori Moneter Modern (Modern Monetary Theory atau MMT), mulai dari pendekatan, perbedaan, kritik, dan implikasinya terhadap pengendalian inflasi.

Ia menjelaskan "MsMT memandang inflasi sebagai fenomena moneter akibat pasokan uang yang berlebihan relatif terhadap permintaan barang dan jasa.

Teori ini didasarkan pada premis bahwa uang adalah faktor penting dalam perekonomian, sehingga perubahan jumlah uang beredar dapat mempengaruhi tingkat harga, output dan lapangan kerja.

Teori ini terbilang dominan dalam ekonomi makro selama beberapa dekade terakhir untuk menjelaskan berbagai fenomena ekonomi, seperti inflasi, resesi dan pertumbuhan ekonomi. "Namun, pada 2020 telah muncul teori ekonomi moneter baru, yakni MMT," katanya seperti dikutip Antara.

Menurutnya, hal ini menarik untuk dianalisis karena kepopulerannya telah mencuri perhatian para ekonom terkemuka dan beberapa pandangan sangat bertentangan dengan pandangan yang telah dikemukakan dalam MsTM. "MMT adalah teori ekonomi heterodoks yang menantang pandangan MsMT mengenai inflasi. MMT berpendapat bahwa inflasi disebabkan oleh faktor sisi penawaran, seperti inflasi dorongan biaya (cost-pushinflation), bukan faktor moneter.

Selain itu, MMT memandang bank sentral tidak dibatasi oleh kebutuhan untuk menyeimbangkan anggaran mereka. Dengan begitu, bank sentral dapat menciptakan uang sesuai kebutuhan untuk membiayai pengeluaran pemerintah," kata Sugiharso.

Ia pun mengaitkan dengan pentingnya independensi bank sentral, karena memungkinkan untuk membuat keputusan yang sesuai dengan kepentingan terbaik ekonomi.

Implikasinya, mampu menahan tekanan dan menaikkan suku bunga. Meskipun demikian, mempertahankan independensi untuk mencapai target yang ditetapkan cukup sulit, terutama di negara yang didera krisis atau kurang stabilnya sistem politik dalam menghadapi sejumlah tantangan.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.