Menyaksikan Pemandangan Unik Sabana Kaldera Ijen dari Kawah Wurung
Sabtu, 18 Nov 2023, 06:10 WIBDestinasi Kawah Wurung menawarkan pemandangan unik di dalam kawasan Kaldera Ijen di Kabupaten Bondowoso. Dari puncak gunung api kecil yang telah mati ini, terlihat sabana yang sangat luas dengan gunung-gunung api yang mengurungnya.
Kawasan Ijen di Jawa Timur (Jatim) resmi dikukuhkan sebagai UNESCO Global Geopark (UGGp) melalui konferensi internasional di Marrakech, Maroko, pada 9 September 2023. Kawasan ini yang berada di Kabupaten Bondowoso dan sebagian kecilnya berada di Kabupaten Banyuwangi dengan luas 4.723 kilometer persegi.
Salah satu pesona UGGp di Bondowoso adalah Kawah Wurung yang berada di dalam kawasan Kaldera Ijen. Letaknya tegak lurus di sebelah barat Kawah Ijen. Permukaan kawah dan juga punggung gunung mini ini dipenuhi rumput. Gunung ini ini berada pada ketinggiannya 1.500 meter sehingga menawarkan udara yang sejuk.
Menurut laman Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kawah ini adalah lubang erupsi gunung api yang berdiameter lebih kecil atau sama dengan 2 kilometer. Sedangkan ukuran garis tengah lebih lebih dari itu disebut dengan kaldera.
Kawah Wurung memiliki diameter 25 meter dan dan kedalaman mencapai 200 meter. Lokasinya di kawasan Perhutani Bondowoso. Secara administratif berada di Desa Kalianyar, Kecamatan Sempol, Kabupaten Bondowoso.
Nama Kawah Wurung berasal dari kata kawah yang artinya lubang erupsi gunung berapi, dan wurung yang artinya tidak jadi atau batal. Saat ini hampir sepanjang mata memandang baik di puncak kawah dan lokasi di sekitarnya, ditumbuhi rumput liar yang membentuk gunung kecil hijau terutama saat musim penghujan.
Lokasi di sekitar Kawah Wurung hampir mirip dengan kaldera Tengger dengan lembah-lembah dan gunung-gunung api yang muncul di dalamnya seperti Gunung Api Bromo. Menurut peneliti gunung api Harjono, bersama Kawah Ijen, Kawah Wurung di Bondowoso, merupakan dua kawasan sisa letusan Gunung Ijen Purba.
Beberapa literatur ilmiah menyebut Gunung Ijen Purba diperkirakan terbentuk sekitar 700.000 tahun lalu, memiliki ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Pembentukan Gunung Ijen Purba ditandai oleh pengendapan lapisan batuan kerucut lapis sebelum terbentuknya kaldera atau pra-kaldera.
Secara teori kaldera terjadi karena adanya depresi di daerah vulkanik yang kemudian membentuk cekungan besar. Cekungan Kaldera Ijen memiliki luas mencapai 210 kilometer persegi, dengan diameter bervariasi antara 15-20 kilometer. Kaldera seperti ini beberapa diantaranya adalah Toba, Gunung Batur, dan Tengger.
Cekungan di kaldera Ijen kemudian menjadi danau dan rawa-rawa pada 60.000-50.000 tahun yang lalu yang mengendapkan material vulkanik. Erosi oleh air kemudian membobol dinding kaldera, dan menjadi jalur bagi terbentuknya air terjun Blawan dan kali Banyupahit, sekaligus membuat danau purba di Kaldera Ijen mengering.
Pasca erupsi supereksplosif dari Gunung Api Ijen Purba, kemudian terbentuklah kaldera itu. Kaldera terbentuk karena erupsi gunung-gunung di sekitarnya, menciptakan dampaknya berupa kosong dapur magma. Hal ini membuat permukaan tanahnya ambles lalu membentuk kaldera yang luas.
Jumlahnya gunung yang terbentuk mencapai 22 gunung api tersebar di dinding (cincin) kaldera dan dalam kaldera yang sudah mengering. Adapun gunung api yang di dinding kaldera yakni Gunung Merapi, Gunung Suket, Gunung Jampit, Gunung Ringgih, Gunung Pawenan, serta Gunung Rante yang berada di sisi selatan. Sementara yang di dalam kaldera diantaranya gunung Kawah Wurung, Blau, Papak, Kukusan, serta Ijen dan lainnya.
Seperti yang lain, Kawah Wurung sebagai salah satu sisa letusan Kaldera Ijen sudah tidak lagi aktif. Yang masih bisa dilihat di kawasan ini adalah sisa dari letusan tersebut yang menciptakan lanskap pemandangan alam yang sangat indah.
Kawasan Kaldera
Kawah Wurung kini menjadi salah satu bagian geosite di UGGp sebagai geology site. Selain geosite, taman bumi ini juga didukung dengan biology site dan culture site yang terbentang di Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi.
Bagi yang berkunjung Kawah Ijen, dan ingin memahami lebih jauh dari Kaldera Ijen secara lebih luas bisa datang ke Kawah Wurung. Dengan kendaraan bermotor dari kawasan ini hanya memakan waktu perjalanan 30 menit untuk mencapai Kawah Wurung.
Kawasan kaldera ini seperti kaldera Bromo. Perbedaannya, jika Bromo memiliki lautan pasir dengan beberapa dengan sabana di beberapa titik, di Kawah Wurung yang terlihat adalah pemandangan sabana yang luas.
Untuk sampai puncak dan berfoto di bawah tulisan di atas papan kayu berbunyi Kawah Wurung Bondowoso harus berjalan jalan kaki menaiki anak tangga yang cukup banyak. Cukup tinggi memang sehingga perlu beristirahat beberapa kali sebelum sampai.
Lelah akan terbayar setelah sampai ke puncak. Pengunjung dapat memahami dengan lebih begitu luasnya Kaldera Ijen, di mana Kawah Wurung sebagai sebuah gunung berapi yang tidak aktif menjadi salah satu gunung yang berada di kawasan ini.
Sabana di sekitar kawasan Kawah Wurung akan terlihat hijau atau coklat tergantung musim apa pengunjung datang menikmatinya. Untuk yang menyukai pemandangan rumput coklat dengan nuansa gersang, pelancong bisa datang pada musim kemarau.
Kawah Wurung yang memiliki luas sekitar 1000 hektare, namun kawasan intinya hanya sekitar 100 hektare. Di atas rerumputannya bisa bisa disaksikan dari kejauhan pemandangan ternak seperti sapi dan domba yang sedang memakan rumput.
Bagi yang ingin menikmati pemandangan matahari terbit (sunrise) bisa mendaki puncak Kawah Wurung pada pagi hari. Jika belum puas bisa datang pada sore hari untuk melihat pemandangan matahari tenggelam (sunset).
Di sini menyediakan kawasan untuk bermalam dengan tenda. Tidak perlu khawatir kelaparan ke kehausan karena masyarakat sekitar menjajakan aneka makanan dan minuman. Untuk beristirahat tersedia tempat duduk di bawah pohon, ada juga kamar mandi dan musala dan area parkir yang luas.
Tiket masuk ke Kawah Wurung dipatok sebesar 5.000 rupiah buka mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Ongkos parkirnya sebesar 2.000 rupiah untuk roda dua dan 4.000 rupiah untuk roda empat.
Bagi ingin bermalam di kawasan tersebut dengan mendirikan tenda dikenakan tarif sebesar 50.000 rupiah per malam. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Ada yang Tahu Apa Itu Sidapakase Buat Pengembangkan Wisata Kalsel?
-
15 Destinasi Wisata Paling Populer dan Wajib Dikunjungi di Tiongkok
-
Russia Buka Rute Penerbangan Langsung Moskow-Pyongyang
-
Kementerian PU Tawarkan 9 Proyek KPBU Senilai Rp.90 Triliun dalam Pitching Session ICI 2025
-
Meriahkan Pasar Murah, Khofifah Pastikan Kecukupan dan Keterjangkauan Harga Pangan
-
Sindangkasih, Serunya River Tubing di Kota Domba
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.