Tiongkok Tingkatkan Kerja Sama Iklim dengan AS

Jumat, 10 Nov 2023, 00:01 WIB

BEIJING - Tiongkok, pada Kamis (9/11), mengatakan perundingan iklim dengan Amerika Serikat telah berhasil, menyusul diplomasi tingkat tinggi yang bertujuan memperkuat kerja sama antara dua penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Mereka mencapai hasil positif dalam mengembangkan kerja sama dan aksi bilateral mengenai perubahan iklim.

Dikutip dari The Straits Times, pembicaraan antara para pejabat tinggi tersebut dilakukan menjelang pertemuan antara Presiden AS, Joe Biden, dan pemimpin Tiongkok, Xi Jinping, minggu depan, di mana kedua negara berupaya meningkatkan hubungan setelah bertahun-tahun hubungan yang membeku.

Ket. Foto: KEMENTERIAN EKOLOGI DAN LINGKUNGAN HIDUP TIONGKOK - Pembicaraan antara utusan iklim AS, John Kerry dan mitranya dari Beijing, Xie Zhenhua berakhir dengan sukses. — Sumber: ISTIMEWA

"Pembicaraan antara utusan iklim AS, John Kerry dan mitranya dari Beijing, Xie Zhenhua berakhir dengan sukses," kata Kementerian Ekologi dan Lingkungan Hidup Tiongkok.

"Kedua belah pihak terlibat dalam pertukaran pandangan yang komprehensif dan mendalam," katanya, seraya menambahkan mereka mencapai hasil positif dalam mengembangkan kerja sama dan aksi bilateral mengenai perubahan iklim.

Negara-negara akan berkumpul di Uni Emirat Arab pada akhir bulan untuk menghadiri KTT Conference of the Parties 28 (COP-28) yang bertujuan membangun konsensus untuk membatasi pemanasan global.

"Beijing dan Washington telah sepakat untuk bersama mendorong keberhasilan pertemuan itu," kata kementerian itu.

Perbaiki Hubungan

Keberhasilan tersebut akan bergantung pada kesepakatan antara AS dan Tiongkok, yang berupaya memperbaiki hubungan yang merosot ke titik terendah dalam beberapa tahun terakhir karena berbagai masalah termasuk perdagangan, hak asasi manusia, dan keamanan nasional.

Washington mengirim pejabat tinggi pada 2023 ke Beijing dalam upaya membangun kembali dialog tingkat tinggi.

Minggu ini, Wakil Presiden Tiongkok, Han Zheng, mengatakan negaranya terbuka untuk melakukan pembicaraan dengan AS di "semua tingkatan".

AS maupun Tiongkok belum secara resmi mengonfirmasi pembicaraan Biden-Xi yang akan datang. Namun, sumber informasi mengatakan pada Rabu kedua belah pihak telah membuat rencana untuk mengadakan pertemuan pada 15 November di sela-sela KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) minggu depan, yang akan diselenggarakan oleh Amerika Serikat.

Saat dimintai konfirmasi apakah KTT tersebut akan terlaksana, Kementerian Luar Negeri Tiongkok, pada Rabu, memperingatkan "jalan menuju San Francisco tidak mulus, dan kita tidak bisa melakukan autopilot".

"Kedua belah pihak harus benar-benar menerapkan konsensus yang dicapai oleh kedua kepala negara, menghilangkan campur tangan dan mengatasi hambatan, meningkatkan konsensus dan mengumpulkan hasil," kata juru bicara kementerian Wang Wenbin dalam pengarahan rutin, mengacu pada pertemuan pada 2022 antara Xi dan Biden di Bali.

Biden dan Xi sama-sama memberikan tanggapan positif mengenai perundingan tersebut, dan mengatakan mereka sedang mencari cara untuk menghindari konflik.

Pemimpin Tiongkok pada Oktober menekankan bahwa "kita mempunyai 1.000 alasan untuk memperbaiki hubungan Tiongkok-AS, namun tidak ada satu alasan pun untuk menghancurkannya".

Tiongkok sangat marah dengan meningkatnya tekanan AS untuk membendungnya secara global di berbagai sektor. Hal ini termasuk pembatasan AS terhadap cip berteknologi tinggi, yang Washington khawatirkan akan digunakan oleh Beijing untuk keperluan militer.

Hubungan juga memburuk terkait Taiwan, negara demokrasi dengan pemerintahan sendiri yang diklaim oleh Beijing dan tidak menutup kemungkinan untuk diambil alih dengan kekerasan. Namun, iklim telah lama dilihat sebagai tempat di mana keduanya dapat menemukan titik temu.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.