Ganjar Tekankan Optimalisasi Ekonomi Hijau, Biru hingga Digital

Kamis, 09 Nov 2023, 01:45 WIB

JAKARTA - Bakal calon Presiden (Capres) Ganjar Pranowo menegaskan dirinya akan menekankan optimalisasi ekonomi hijau, biru hingga digital sebagai ekonomi baru untuk membuka pasar dan kesempatan dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi mewujudkan Indonesia unggul.

"New economy untuk membuka market dan kesempatan baru, ada green, blue, dan digital economy," kata Ganjar dalam Sarasehan 100 Ekonom 2023 di Jakarta, Rabu (8/11).

Ket. Foto: Sampaikan visi misi -- Bakal calon presiden Ganjar Pranowo menyampaikan paparan visi misinya saat menjadi pembicara dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Rabu (8/11). Dalam paparannya Ganjar Pranowo menekankan optimalisasi ekonomi hijau, biru hingga digital sebagai ekonomi baru untuk membuka pasar dan kesempatan dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi mewujudkan Indonesia unggul. — Sumber: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Ganjar menuturkan 77 persen wilayah Indonesia berupa laut dan perairan, namun sektor maritim hanya berkontribusi 7,6 persen dari Produk Domestik Bruto pada 2021.

Menurut dia, masih banyak potensi sektor maritim yang perlu dikembangkan dan dioptimalkan untuk meningkatkan kontribusinya kepada perekonomian nasional. Dalam hal ini, diperlukan hasil-hasil riset baik dari universitas dan pelaku usaha.

Potensi perikanan berkelanjutan dan kredit karbon juga harus dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kemajuan ekonomi bangsa.

Di sisi lain, mantan Gubernur Jawa Tengah tersebut mengatakan pengembangan ekonomi hijau dilakukan antara lain dengan transisi hijau menuju energi baru dan terbarukan untuk mencegah kerusakan lingkungan.

Ganjar menuturkan dibutuhkan investasi transisi energi nasional hingga 2030 sebanyak Rp1.300 triliun, dan angka tersebut dapat ditawarkan kepada para investor baik dari dalam maupun luar negeri untuk mengambil potensi investasi tersebut.

Di samping itu, pengembangan ekonomi digital perlu didukung dengan infrastruktur digital yang memadai sebagai bagian dari upaya meningkatkan ekonomi dan keuangan digital termasuk untuk mendukung transaksi perdagangan dalam jaringan (e-commerce). Namun, keamanan data di era digitalisasi juga harus dapat dijamin.

Ganjar menilai utilisasi infrastruktur yang telah dibangun pemerintah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan perlunya semua pemangku kepentingan untuk ikut terlibat.

Transisi EBT

Sebelumnya, Ganjar juga menyatakan akan menjadikan transisi energi baru terbarukan (EBT) menjadi sebuah peluang investasi. "Kami pernah coba hitung-hitung bersama tim kami. Ini kebutuhan investasinya untuk energi baru terbarukan, renewable energy, ini kira-kira bisa sampai 1.300 triliun rupiah," ujar Ganjar, Jakarta, Selasa.

Untuk beralih ke energi yang lebih bersih dibutuhkan biaya investasi yang sangat besar. Ia pun sempat mengira banyak orang akan kaget bahkan takut dengan angka yang sangat banyak itu. Sebab, bagi sebagian orang, kebutuhan investasi yang besar itu akan sulit dicapai. Namun, Ganjar mengatakan angka tersebut seharusnya dilihat sebagai peluang.

"Mereka yang punya peluang bisnis maka ini akan bisa menangkap bahwa inilah potensi yang bisa kita lakukan dan ini akan menyerap banyak tenaga kerja," katanya.

Untuk itu, Indonesia harus segera beralih ke energi terbarukan yang mandiri. Adapun Indonesia masih sangat tergantung dengan impor minyak. Padahal, belakangan harga minyak dunia semakin fluktuatif.

Selain itu, dia mengatakan surplus energi listrik di Indonesia juga bisa dimanfaatkan dan diekspor ke Asean. Hal ini justru menambah anggaran untuk mewujudkan kemandirian energi Indonesia.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.