KTT Amerika di Meksiko Bahas Isu Imigran Gelap

Senin, 23 Okt 2023, 08:50 WIB

MEXICO CITY - Para pemimpin Amerika Latin berkumpul di Meksiko pada Minggu (22/10) untuk membahas bagaimana menghadapi arus migrasi ilegal yang rumit dan besar, yang sebagian besar ke Amerika Serikat.

Bagi Washington, ini adalah krisis besar dengan dampak politik sebesar konflik di Timur Tengah dan Ukraina.

Ket. Foto: Ilustrasi- KTT Amerika 2022 di Los Angeles, AS. — Sumber: https://lagranaldea.com

Meksiko ingin "menggabungkan upaya, kemauan dan sumber daya untuk mengatasi penyebab fenomena migrasi", kata Presiden Andres Manuel Lopez Obrador di X (Twitter), saat pertemuan puncak berlangsung.

"Ini adalah masalah kemanusiaan yang harus kita kerjakan secara bersatu," kata presiden yang akrab disapa AMLO itu.

Tahun ini saja, 1,7 juta imigran tiba di perbatasan Meksiko-AS. Dan migrasi menjadi isu politik yang sangat besar di kedua negara Amerika Utara, yang masing-masing akan mengadakan pemilihan presiden tahun depan.

Pada bulan September saja terdapat 60.000 imigran yang tiba di Meksiko dari Venezuela, bersama dengan 35.000 warga Guatemala dan 27.000 warga Honduras, menurut pemerintah Meksiko.

Lopez Obrador menyambut rekan-rekannya Nicolas Maduro dari Venezuela, Miguel Diaz-Canel dari Kuba, dan Gustavo Petro dari Kolombia, termasuk beberapa menteri luar negeri.

Mereka bertemu di negara bagian Chiapas, paling selatan Meksiko, yang menjadi pintu masuk bagi ribuan orang yang datang dari Amerika Selatan, Amerika Tengah, Karibia, dan tempat lain, untuk mencoba melintasi Meksiko yang luas, menuju Amerika Serikat.

Seorang imigran yang berada di tempat penampungan terdekat mengecam apa yang ia sebut "KTT Para Penindas". Ia menyebutkan presiden Venezuela dan Kuba.

"Saya kira mereka akan memutuskan untuk mendeportasi kami semua," kata Jorge Rodriguez, warga Venezuela berusia 33 tahun yang sedang dalam perjalanan ke utara.

Di tengah sanksi ekonomi AS dan krisis politik dan ekonomi, sekitar 7,1 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya dalam beberapa tahun terakhir, sehingga menciptakan tantangan bagi negara-negara tetangganya di Amerika Selatan.

Sekitar 130 imigran Venezuela tiba kembali ke rumah mereka pada hari Rabu dengan pesawat sewaan dari Amerika Serikat (AS) dalam penerbangan deportasi pertama setelah perjanjian antara kedua negara, meskipun faktanya Washington tidak mengakui terpilihnya kembali Maduro pada 2018.

Amerika Serikat memulangkan imigran, terutama ke Amerika Tengah dan Selatan, dengan 70 penerbangan setiap minggunya, kata pihak berwenang baru-baru ini.

Pada saat yang sama, pemerintahan Biden juga baru-baru ini menawarkan perlindungan dari deportasi kepada 472.000 warga Venezuela agar mereka dapat memperoleh izin tinggal dan izin kerja dalam waktu 18 bulan - meskipun hanya berlaku bagi mereka yang tiba sebelum 31 Juli tahun ini.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.