Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Australia Gelar Referendum Tentukan Hak dan Pengakuan Warga Pribumi

📅 Sabtu, 14 Okt 2023, 08:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Australia Gelar Referendum Tentukan Hak dan Pengakuan Warga Pribumi Doc: AFP/ANDREW LEESON
Ket. Masyarakat dalam aksi unjuk rasa "Walk for Yes" di Sydney pada 17 September 2023, menjelang referendum 14 Oktober yang dapat memberikan hak konstitusional kepada penduduk asli Australia untuk diajak berkonsultasi mengenai kebijakan yang berdampak pada mereka.

SYDNEY - Pemungutan suara digelar pada Sabtu (14/10) dalam referendum bersejarah Australia mengenai hak dan pengakuan warga pribumi, mengakhiri kampanye pahit yang mengungkap perpecahan mendalam antara mayoritas warga kulit putih dan penduduk aslli di negara tersebut.

Hampir 18 juta warga Australia akan memberikan suara mereka untuk mendukung atau menentang perubahan konstitusi yang akan mengakui masyarakat adat untuk pertama kalinya dan membentuk badan penasihat -- yang disebut "Voice" -- untuk mempertimbangkan undang-undang yang berdampak pada komunitas tersebut.

Masyarakat Pribumi Australia telah tinggal di benua itu selama lebih dari 60.000 tahun.

Penjajah Eropa datang sekitar dua abad lalu dan menerapkan sistem penaklukan dengan kekerasan dan asimilasi paksa.

Saat ini, jumlah penduduk Aborigin dan Penduduk Pribumi Selat Torres kurang dari empat persen dari seluruh populasi, namun mereka lebih besar kemungkinannya mengalami sakit, dipenjara, atau meninggal dalam usia muda dibandingkan warga kulit putih yang lebih kaya.

Pendukung pemilu berpendapat bahwa reformasi akan membantu memperbaiki kesenjangan yang terus terjadi.

Namun jajak pendapat memberikan sedikit harapan bagi referendum untuk lolos, survei baru-baru ini menunjukkan kubu "ya" memperoleh suara di atas 40 persen dan kubu "tidak" hampir mencapai 60 persen.

Hari yang Memalukan

Jajak pendapat secara konsisten menunjukkan, isu-isu masyarakat adat menempati peringkat rendah dalam daftar prioritas publik bagi sebagian besar warga Australia, jauh di bawah kekhawatiran seperti meningkatnya biaya hidup.

Pada hari-hari sebelum pemungutan suara, perhatian media terfokus pada peristiwa-peristiwa di Timur Tengah dan juga perdebatan politik di dalam negeri.

Juru kampanye Karen Wyatt mengatakan dia "berusaha untuk tetap bersikap positif" dalam menghadapi kekalahan yang tampaknya tak terelakkan.

Namun pertanyaan-pertanyaan sulit telah diajukan mengenai apa yang akan dikatakan oleh suara "tidak" terhadap Australia, dan warga Australia.

Penolakan terhadap "Voice" akan menjadi "hari yang memalukan bagi Australia", kata Wyatt (59), kepada AFP di Sydney.

"Saya pikir hal ini mencerminkan kemajuan negara ini, dengan mengatakan 'tidak' pada permintaan sederhana dan usulan yang murah hati," tambahnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.