Kebijakan Moneter Harus Responsif
Senin, 02 Okt 2023, 08:37 WIBDEPOK - Kebijakan moneter dan sektor keuangan berperan penting meminimalkan berbagai risiko dalam dunia keuangan, serta memberi perlindungan terhadap dana masyarakat yang ada pada lembaga keuangan. Karena itu, diperlukan kebijakan moneter perlu bersifat responsif dan adaptif di tengah tantangan global dan nasional yang semakin kompleks.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Moneter Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Prof Dr Telisa Aulia Falianty, SE, ME, menyampaikan lima hal penting dalam kebijakan moneter dan keuangan menuju Indonesia Emas 2045.
Pertama, kolaborasi harus diperkuat antara otoritas moneter dan sektor keuangan melalui transisi dari sisi konvensional ke arah digitalisasi dan juga ekonomi hijau. Promosi terkait investasi rendah karbon dan kolaborasi dengan berbagai stakeholder merupakan hal yang penting untuk mengelola risiko terkait iklim.
"Selain itu, pemerintah maupun masyarakat harus bersiap dengan perubahan sektor keuangan ke arah digitalisasi dengan memprioritaskan keamanan dan data privasi," jelas Telisa Aulia Falianty usai dikukuhkan sebagai guru besar dengan menyampaikan pidato pengukuhannya berjudul Adaptasi Kebijakan Moneter dan Sektor Keuangan di Era Dekarbonisasi, Digitalisasi, Multipolar Currency, dan Transformasi: Menuju Indonesia Emas 2045 di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Sabtu (30/9).
Kedua, lanjutnya, kebijakan moneter dan sektor keuangan perlu menyesuaikan tren dekarbonisasi dan penerapan environmental social and governance (ESG) dengan mengukur dan menilai risiko keuangan yang dapat timbul dari perubahan iklim dan ESG faktor lainnya.
Ketiga adalah kebijakan moneter dan sektor keuangan sesuai dengan amanah baru UU No 4 Tahun 2023 harus mampu beradaptasi dan bertransformasi di era transformasi ekonomi nasional dengan Visi Indonesia 2045 menuju negara yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan.
Pengembangan Keuangan
Keempat kuncinya adalah financial development dan inovasi yang terkendali dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan, berdaya tahan terhadap serangan siber, menjaga keamanan dan privasi data, memperhatikan kesiapan masyarakat dari berbagai kelompok pendapatan, serta prinsip kemanfaatan bahwa harus tetap bermanfaat untuk mendukung kesejahteraan masyarakat secara komprehensif.
Kelima kebijakan moneter dan keuangan harus juga berpikir cerdas terhadap peningkatan ketidakpastian global, banyaknya anomali, dan geopolitik dan geoekonomi yang terfragmentasi, termasuk multipolar currency world.
Seperti diketahui, kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS) terus menjadi perhatian banyak pihak, termasuk pelaku pasar karena dampaknya cukup signifikan bagi perekonomian maupun sektor keuangan. Pekan lalu, bank sentral AS atau Federal Reserve (the Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 5,25-5,50 persen.
Meski demikian, the Fed tetap mempertahankan sikap hawkish atau agresif dengan proyeksi kenaikan suku bunga acuan pada akhir tahun dan kebijakan moneter tetap diperketat secara signifikan hingga 2024.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Liga Champions : Sporting Lisbon Mengincar Remontada, Bodo/Glimt Siap Pertahankan Keunggulan
-
SAR Tanjungpinang Cari Nelayan Hilang Kontak di Perairan Lingga-Kepri
-
Siap siap Sebentar Lagi El Nino: Berikut Jurus Kementan Hadapi Kemarau Ekstrem
-
Agustiar Sabran: Putra-Putri Kalteng Harus Bisa Sekolah dan Kuliah
-
Kemacetan di Selat Hormuz Bahayakan Kelompok Rentan Dunia
-
Formula 1: Verstappen Kritik Teknologi Mobil F1 Terbaru, Rasanya Seperti Game Balap
-
Antisipasi Arus Puncak, Rekayasa Tol Japek Dilanjutkan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.