- Home
-
- Luar Negeri
-
- IEA: Negara Maju Harus Mem...
IEA: Negara Maju Harus Mempercepat Perlombaan Menuju 'Net Zero'
Rabu, 27 Sep 2023, 00:00 WIBPARIS - Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), pada Selasa (26/9), mengatakan negara-negara maju dan berkembang harus gesit meningkatkan target net zero mereka, memperingatkan bahwa lonjakan energi ramah lingkungan adalah alasan utama mengapa tujuan iklim dunia masih dapat tercapai.
Dikutip dari Radio France Internationale (RFI), IEA mengatakan negara-negara maju kini harus mencapai netralitas karbon sekitar lima tahun lebih awal di 2045, dan Tiongkok harus mempercepat satu dekade hingga tahun 2050 untuk memenuhi tujuan Paris yang membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.
"Dunia telah menunda terlalu lama untuk menghindari pilihan sulit," kata pengawas energi global tersebut.
Laporan tersebut, yang diterbitkan menjelang perundingan iklim PBB yang genting, memperbarui "Peta Jalan Nol Bersih" (Net Zero Roadmap) IEA pada 2021, yang menyatakan bahwa pengembangan bahan bakar fosil baru tidak sesuai dengan dekarbonisasi global pada pertengahan abad dan target 1,5 Celsius.
Dua tahun kemudian, IEA telah melihat kemajuan dalam bentuk rekor pertumbuhan kapasitas tenaga surya dan penjualan mobil listrik.
Hal ini sejalan dengan jalur IEA menuju emisi nol bersih, begitu pula dengan rencana yang dibuat oleh industri untuk meluncurkan manufaktur baru bagi mereka.
"Sektor energi berubah lebih cepat dari perkiraan banyak orang," kata IEA, seraya menambahkan bahwa teknologi energi ramah lingkungan ini diproyeksikan mampu menghasilkan sepertiga pengurangan emisi yang dibutuhkan pada 2030.
Namun, badan itu memperingatkan dampak negatif dari peningkatan investasi bahan bakar fosil dan "emisi yang sangat tinggi" pada periode yang sama, yang menyebabkan pemulihan ekonomi pascapandemi dan krisis energi yang dipicu oleh invasi Russia ke Ukraina.
"Jalur menuju kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius telah menyempit dalam dua tahun terakhir, namun teknologi energi ramah lingkungan masih menjaganya tetap terbuka," kata Ketua IEA, Fatih Birol.
Puncak Energi fosil
IEA bulan ini memperkirakan bahwa permintaan dunia terhadap minyak, gas, dan batu bara akan mencapai puncaknya pada dekade ini berkat pertumbuhan "spektakuler" dari teknologi energi yang lebih ramah lingkungan dan mobil listrik.
Namun, Birol mengatakan negara-negara perlu bekerja sama untuk mempercepat aksi iklim secara signifikan. "Bahkan sedikit penundaan dalam meningkatkan pengurangan emisi melebihi janji yang ada saat ini akan menyebabkan suhu global melebihi 1,5 Celsius selama hampir 50 tahun," laporan itu memperingatkan.
Kesepakatan ini memberikan peluang bagi sektor energi yang merupakan sumber emisi gas rumah kaca terbesar, untuk mencapai emisi net zero dan berkontribusi dalam membatasi pemanasan hingga 1,5 Celsius.
Redaktur: andes
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
69 Titik Gerakan Pangan Murah di Kepri, Pemprov Pastikan Akses Pangan Terjangkau untuk Warga
-
Islandia Bidik Jadi Anggota UE, Referendum Digelar Agustus 2026
-
Menteri LH Minta Hotel, Restoran, dan Kafe Kelola Sampah secara Mandiri
-
Pertamina Sumbagsel Pastikan Pasokan Energi Aman Selama Libur Lebaran
-
Krisis Energi Global: IEA Sebut Dampaknya Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an
-
Gubernur DKI Pramono Anung Dorong Target Net Zero Emission
-
Kota Bogor Ingin Ada Solusi Berkelanjutan Terkait Sampah Lintas Wilayah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.