Pemerintah Harus Waspadai Perkembangan AI

Senin, 25 Sep 2023, 00:04 WIB

JAKARTA - Pemerintah diminta untuk semakin waspada dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Jika tidak waspada dan hati-hati dalam menyikapinya, manusia akan tergilas oleh teknologi modern ini dan mengancam ratusan juta penduduk Indonesia.

"Pemerintah perlu segera mengeluarkan regulasi untuk mengatur AI dalam bentuk UU. Regulasi yang ada dalam UU perlindungan data pribadi belum cukup mengawasi dan mengatur AI," kata Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudisthira, pada Koran Jakarta, Minggu (24/9).

Ket. Foto: RISIKO KEHILANGAN KENDALI ATAS AI I Wakil Perdana Menteri Inggris, Oliver Dowden berpidato di sidang Majelis Umum PBB ke-78 di New York, AS, Jumat (22/9) waktu setempat. Dalam pidatonya Dowden memperingatkan kepada para pemimpin dunia bahwa manusia bisa kehilangan kendali atas mesin kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). — Sumber: LEONARDO MUNOZ/AFP

Bhima mengingatkan kehadiran AI juga mengancam sumber penghasilan banyak orang dan tentunya implikasi lanjutannya ialah pengangguran dan kemiskinan. Karena itu, sebelum terlambat maka regulasi harus dibuat duluan sebelum teknologi masuk. Hal tersebut berkaca dari pengalaman selama ini yang mana regulasi selalu kalah cepat dari kemajuan, akhirnya kewalahan mengaturnya.

Sebenarnya, terang Bhima, sudah mulai ramai di negara lain membahas regulasi yang menaungi AI, termasuk pengawasan terhadap hak kekayaan intelektual yang bisa diolah AI tanpa mencantumkan sumber aslinya.

"AI ini kan mengolah dari jutaan sumber misalnya karya ilmiah, karya jurnalistik hingga karya seni. Kemudian, ketika diolah AI tidak jelas soal royalti dan kepemilikan materinya," papar Bhima.

Ahli Teknologi Informasi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Widyawan, mengatakan memang sangat penting bagi para pemimpin dunia untuk rutin bertemu khusus membahas perkembangan AI. Sebab, pada dasarnya teknologi AI berbeda dengan teknologi lain sehingga tidak bisa diserahkan pada pasar bebas.

"Kuncinya para pemimpin dunia harus memahami teknologi AI. Karena mirip otak kita, pemrosesan data di dalam machine learning itu sesungguhnya memang black box, tidak sepenuhnya akan bisa kita fahami, sehingga tidak bisa diserahkan begitu saja kepada pasar demi kepentingan komersial semata," kata Widyawan.

Sebelumnya, Wakil Perdana Menteri Inggris, Oliver Dowden, dalam pidatonya di Majelis Umum PBB memperingatkan kepada para pemimpin dunia bahwa manusia bisa kehilangan kendali atas mesin kecerdasan buatan.

Dikutip dari Flipboard, ia menjelaskan KTT Inggris mengenai AI akan membahas perlindungan "masa depan umat manusia" dengan melawan risiko "kehilangan kendali atas mesin", yang menguraikan peluang dan bahaya AI.

Dowden mengatakan tingkat kemajuan harian yang dicapai teknologi ini mengharuskan negara-negara untuk bertemu secara rutin. "Untuk membahas pagar pembatas yang diperlukan," ujar Dowden, yang memaparkan prospek masa depan suram jika pengembangan AI tidak terkendali.

"Regulasi global tertinggal dari kemajuan yang ada saat ini," ungkapnya memberi alasan.

Dowden menjelaskan lewat pidato itu ia tidak men geklaim diri sebagai seorang pakar AI, namun dia yakin para pembuat kebijakan di berbagai belahan dunia telah mengabaikan kekhawatiran masyarakat global soal risiko jika AI lepas kendali.

"Revolusi AI akan menjadi ujian berat dalam sistem multilateral. Ini akan menunjukkan bagaimana itu (AI) dapat bekerja sama dalam menentukan nasib umat manusia," katanya.

Dia menegaskan masa depan manusia dan planet Bumi akan ditentukan oleh apa yang yang dapat dilakukan oleh manusia. "Itu adalah tantangan dan kesempatan sesungguhnya bagi PBB (untuk melakukan sesuatu)," pungkasnya.

Risiko Peradaban

Miliarder teknologi Elon Musk memperingatkan para senator dalam pertemuan pribadi di Capitol Hill baru-baru ini bahwa kecerdasan buatan menimbulkan "risiko peradaban" bagi pemerintah dan masyarakat, menurut seorang senator yang hadir dalam ruangan tersebut.

"Konsekuensi dari kesalahan AI sangat parah sehingga kita harus proaktif daripada reaktif," kata Musk kepada sekelompok wartawan sebelum dia masuk ke Tesla yang menunggunya.

Sedangkan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengatakan dunia juga harus menghadapi ancaman terhadap hak asasi manusia yang ditimbulkan oleh teknologi baru, seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Guterres melanjutkan, kecerdasan buatan generatif memberi banyak harapan dan di saat yang sama juga terdapat bahaya yang lebih besar lebih dari yang dapat dikendalikan.

"Bahkan, beberapa dari mereka yang mengembangkan AI generatif menyerukan peraturan yang lebih ketat," ucap Guterres

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

KPK Tekankan Pentingnya Penguatan Integritas Kampus usai OTT di Unsoed

Kemenbud Fokus Pulihkan Warisan Budaya dari Desa Adat Sade Pasca Kebakaran 

Ada Apa dengan Rekening Dana Aliansi Masyarakat Pati Bersatu? Polda Metro Jaya Jelaskan

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Parkir Rp60.000 per Jam Bikin Geger, Ini Respons Pramono

Udara Jakarta Terancam Polusi, Pramono Minta Masyarakat Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah

Karhutla Makin Serius! Kemenhub Terbitkan 35 Izin Pesawat Asing Bantu Atasi Kebakaran

Bukan Sekadar Diskon! Subsidi Motor Listrik Disebut Bisa Pacu Industri Nasional

Gerak Cepat Atasi Karhutla! Operasi Modifikasi Cuaca Berlanjut, BMKG Kini Bergerak ke Berau

Nasib 193 Pedagang Ikan Kramat Jati Terungkap, Bakal Dipindah ke Lokbin

Bukan Sekadar Kebakaran! Presiden Minta Usut Dugaan Koneksi Pembakar Lahan dan Korporasi

613 PKL Kramat Jati Bakal Dipindahkan, Ini 4 Lokasi yang Disiapkan Pasar Jaya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.