Cegah Karhutla, Warga Pematang Ramin Bangun Ekowisata Hutan Gambut

Sabtu, 23 Sep 2023, 12:03 WIB

JAMBI - Revitalisasi bangunan ekowisata hutan gambut di Desa Pematang Rahim sedang berlangsung dimana perbaikan ini sekaligus untuk mencegah terjadinya Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di daerah tersebut.

"Warga saat ini sedang membangun jalur trekking, gapura, dan gazebo ekowisata dan masyarakat setempat berjibaku bergotong royong membangun kembali ekowisata di hutan desa kebanggaan mereka," kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Meranti Rawa Ahmad Fauzi, Sabtu (23/9).

Ket. Foto: Ekowisata hutan gambut di Desa Pematang Rahim diharapkan dapat mencegah karhutla. — Sumber: ANTARA/HO-Sonia

Ketika pandemi COVID-19 menyerang, turut membuat penurunan kunjungan ke lokasi wisata yang kemudian berdampak pada redupnya semangat pengelolaan. Sehingga lokasi wisata lapuk karena tidak terpakai.

Kini Kelompok Sadar Wisata Meranti Rawa kembali bersemangat dan mulai menggeliat salah satu berasal dari dukungan dana dari banyak pihak untuk perbaikan lokasi wisata.

"Kita mendapat dukungan dari Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan KKI Warsi untuk membangun kembali sarana dan prasarana ekowisata yang sempat rusak," kata Ahmad Fauzi.

Jalur trekking ini nantinya dapat digunakan pengunjung untuk berjalan menyusuri ke dalam hutan gambut dan masyarakat umum yang tertarik mengenali dan mendalami ekosistem gambut dapat melihat lebih dekat keanekaragaman hayati khas lahan gambut.

Serta keunikan topografi lahan gambut yang basah. Sehingga dalam pengolahannya menonjolkan nilai-nilai ekologi untuk memberikan edukasi kepada para pengunjung.

"Kami masyarakat Pematang Rahim patut berbangga salah satu hutan dengan tutupan yang masih rapat dan menjadi tujuan orang belajar dan melakukan penelitian," katanya.

Selain itu, ekowisata ini juga didukung dari segi lokasi yang mudah diakses. Dari Kota Jambi, perjalanan ke lokasi ekowisata dapat ditempuh dalam 1,5 jam perjalanan. Selain itu, hutan desa berada di pinggir jalan utama desa sehingga pengunjung tidak perlu berjalan kaki dengan jarak yang jauh untuk mengakses lokasi.

Sementara itu, membangun ekowisata dengan konsep ekologi dan edukasi membutuhkan kemampuan lebih dari pengelolanya terkait pemahaman dan pengetahuan atas kawasan hutannya dan bekal pengetahuan ini yang membuat masyarakat bisa berperan jadi pemandu untuk pengunjung yang datang.

Tidak hanya pembangunan fisik, kelompok pengelola pun turut berbenah diri. Para anggota Pokdarwis juga meningkatkan pengetahuan terkait manajemen pengelolaan ekowisata, hospitaliti, dan kemampuan promosi untuk menjangkau calon pengunjung.

"Kami mulai menghidupkan kembali media sosial dengan informasi dan konten terkait update pembangunan ekowisata, aneka ragam pohon yang ada di hutan gambut, agar orang tertarik berkunjung," kata Anggota Pokdarwis Meranti Rawa Sonia Anggraini.

Musim kemarau datang, bencana kebakaran hutan kembali mengancam. Beberapa kawasan hutan di Jambi mengalami kebakaran, beruntung Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh aman dari api.

Berkat masyarakat di sekitar kawasan hutan lindung turut aktif menjaga hutan. Salah satunya di Desa Pematang Rahim yang mempertahankan kawasan hutannya dari tindakan yang mengancam hutan.

"Kita semua harus merasa memiliki hutan desa artinya kita harus bersama-sama mengembangkan potensi desa melalui ekowisata," kata Kepala Desa Pematang Rahim, M Dong.

Dia mengatakan pemanfaatan hutan desa harus mempertahankan fungsinya sebagai hutan lindung, yaitu sebagai tempat penyimpanan air dan menjaga keseimbangan alam.

Namun, ancaman alih fungsi lahan atau perambahan dari pihak luar masih mengancam hutan desa karena itu, pihak pemerintah desa terus aktif mensosialisasikan hak dan kewajiban dalam pengelolaan hutan desa.

"Hak kelola yang ada tidak mengubah fungsi hutan (tidak menjadikan kebun). Sehingga yang bisa kita lakukan adalah memanfaatkan hasil hutan bukan kayu dan ekowista," kata Dong.

Kawasan hutan ini berada di gambut dalam sehingga tidak bisa diolah menjadi lahan pertanian karena akan mengubah struktur tanah menjadi kering dan rentan mengalami kebakaran.

"Warga kita juga sudah mengembangkan pohon asuh di Desa Sinar Wajo dan terbukti dapat menambah pendapatan bagi masyarakat yang bisa juga diterapkan nantinya," katanya.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Pemprov DKI Boyong 23 UMKM Binaan ke Pameran CISMEF 2026 di Guangzhou Tiongkok

Mau Tahu Rahasia Kecantikan Kulit dan Rambut Korea, Saksikan di BXc 2 pada 27 Agustus Mendatang

Aplikasi GoPay Hadirkan Fitur DBL Indonesia, Meriahkan Kompetisi Basket Pelajar se-Indonesia

Wujud Kepedulian BUMN, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

Resmikan Jaksinema Pasar Rumput, Wagub Rano Minta Bioskop Mini Rp15 Ribu di Tiap Rusun

Debt Collector Paksa Masuk ke Dalam Mobil, Piting Leher dan Ancam Pengemudi

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.