Kondisi Kesehatan Mental Ayah Dapat Tingkatkan Risiko Kelahiran Prematur

Minggu, 10 Sep 2023, 12:24 WIB

Banyak yang telah diketahui tentang peran kesehatan fisik dan mental seorang ibu terhadap kesehatan janin yang dikandungnya. Sebuah penelitian terbaru mengungkapkan bahwa dalam hal kelahiran prematur, bukan hanya kesehatan mental ibu yang penting.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Medicine ini menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir dari ayah yang memiliki penyakit kejiwaan memiliki peningkatan risiko kelahiran prematur.

Ket. Foto: Ilustrasi — Sumber: Istimewa

Menurut perkiraan WHO, sekitar 13,4 juta bayi lahir prematur pada tahun 2020. Faktor-faktor seperti kehamilan kembar, infeksi, pengaruh genetik, dan kondisi kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kelahiran prematur.

"Kelahiran prematur dikaitkan dengan konsekuensi kesehatan yang negatif bagi bayi. Wanita dengan diagnosis psikiatri berisiko lebih tinggi mengalami kelahiran prematur, tetapi lebih sedikit yang diketahui tentang risiko pada keturunan dari ayah yang memiliki diagnosis psikiatri dan untuk pasangan yang kedua orangtuanya memiliki diagnosis psikiatri," kata para peneliti dari Karolinska Institute, dikutip dari Medical Daily, Rabu (6/9).

Tim peneliti mengevaluasi semua kelahiran hidup dari orang tua Nordik di Swedia dari tahun 1997 hingga 2016 dan mengumpulkan informasi mengenai diagnosis kejiwaan. Terdapat 1,5 juta kelahiran, di mana 15 peraen di antaranya lahir dari orang tua yang memiliki diagnosis masalah kesehatan mental.

Para peneliti menemukan bahwa pada orang tua yang tidak memiliki kondisi kesehatan mental, 5,8 persen bayi lahir prematur. Di antara bayi yang ayahnya memiliki diagnosis kejiwaan, risiko kelahiran prematur adalah 6,3 persen, dan dengan diagnosis kejiwaan ibu, risikonya meningkat menjadi 7,3 persen. Dalam kasus ketika kedua orang tua didiagnosis, risiko kelahiran prematur adalah 8,3 persen.

Selain itu, diagnosis gangguan terkait stres pada orang tua dikaitkan dengan risiko tertinggi kelahiran prematur yakni 23 persen ketika ayah memiliki gangguan terkait stres dan 47 persen ketika ibu memiliki diagnosis. Risikonya adalah 90 persen ketika kedua orang tua memiliki gangguan terkait stres.

Kemungkinan kelahiran prematur lebih tinggi lagi pada bayi yang orang tuanya memiliki beberapa gangguan kejiwaan.

"Anak-anak dari orang tua yang memiliki gangguan jiwa memiliki risiko yang lebih tinggi untuk dilahirkan terlalu dini, baik dari sisi ibu maupun ayah," ujar Weiyao Yin, peneliti yang memimpin penelitian ini.

Seperti diketahui, kelahiran prematur seringkali terjadi sebagai akibat dari tekanan dan stres yang berlebihan yang dialami oleh salah satu atau kedua orang tua. Kesehatan mental yang buruk pada ibu hamil, seperti depresi, kecemasan, atau situasi kehidupan yang sulit, dapat memicu pelepasan hormon stres dalam tubuh yang dapat memicu kontraksi rahim dan menyebabkan kelahiran prematur.

Selain itu, pola makan yang tidak sehat, kurangnya perawatan prenatal yang tepat, dan gaya hidup yang tidak sehat juga dapat berkontribusi pada kelahiran prematur. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mendukung kesehatan mental mereka selama kehamilan dan mencari dukungan medis serta perawatan prenatal yang adekuat untuk mengurangi risiko kelahiran prematur.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Rivaldi Dani Rahmadi

Berita Terbaru

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

Karhutla di Kalbar Capai 38 Ribu Hektare, BNPB Waspadai Ancaman Bencana Asap

Status Bandara IKN Bakal Diubah Jadi Bandara Umum

TNI Siagakan 73.766 Personel Tangani Karhutla di Berbagai Wilayah.

TNI Salurkan 695,17 Ton Bantuan untuk Korban Gempa NTT.

Perlu Audit Nasional PMB Jalur Mandiri PTN Buntut Kasus Unsoed

Kelas Menengah Menyusut Pertanda Kemajuan Pembangunan Indonesia Melambat

Pramono Siapkan 10.000 Bus Listrik untuk Atasi Polusi dan Kemacetan Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.