Pembangunan Sektor Air Butuh Pendanaan Kolaboratif
Jumat, 01 Sep 2023, 08:57 WIBJAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengajak seluruh pemangku kepentingan bidang sumber daya air terus meningkatkan kerja sama dalam mewujudkan pembiayaan infrastruktur guna mendorong pengelolaan air secara lebih baik dan berkelanjutan. Karena itu, inovasi pembiayaan alternatif tanpa membebani anggaran negara perlu dieksplorasi dalam mendukung penanganan permasalahan air baik di tingkat nasional maupun internasional.
Sekretaris Jenderal Kementerian PUPR, Mohammad Zainal Fatah, mengatakan salah satu tantangan dalam pengelolaan sumber daya air adalah kemampuan pendanaan pemerintah yang terbatas dan terdapat funding gap. Sejatinya, pendanaan APBN untuk pembangunan infrastruktur hanya sekitar 30 persen. Untuk itu, kolaborasi antar-stakeholder penting untuk menutupi gap pendanaan sektor sumber daya air.
"Kami mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan badan usaha dalam penyediaan sumber daya air. Kami mengarahkan kebijakan dan tindakan kami pada prinsip-prinsip baru dan kolektif serta melaksanakannya secara kolaboratif," kata Sekjen Zainal Fatah melalui keterangannya, dari acara Indonesia Infrastructure Roundtable Ke-25 di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Rabu (30/8).
Dia menambahkan, pemerintah akan mengeksplorasi berbagai model pembiayaan untuk mengatasi hambatan finansial, teknis, dan kelembagaan dan menemukan inspirasi untuk pengembangan dalam inovasi pembiayaan sektor sumber daya air.
Menurut Zainal Fatah, innovative water financing menjadi isu dasar untuk menjamin ketersediaan air, baik di tingkat nasional maupun global. Karena itu, dalam World Water Forum (WWF) pada 2024, diharapkan juga dapat menghasilkan sesuatu solusi bersama yang bisa disepakati di level dunia untuk menghadapi tantangan-tantangan dalam pengelolaan air.
"Ada hal penting yang menjadi perhatian kita bahwa kolaborasi dan kerja sama yang tidak dibatasi oleh batas-batas administratif, tetapi kita membuka diri untuk melakukan kolaborasi secara global antarnegara dan tentu dengan multilateral development institution agar kita dapat mengambil manfaat yang lebih luas dari best perspektif yang telah ada dan dialami oleh mereka lebih dulu," kata Zainal Fatah.
Perhatian Khusus
Sementara itu, Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR, Trisaputra Zuna, mengatakan permasalahan air merupakan isu besar ketimbang sektor lain. Sektor air memerlukan perhatian khusus, dimulai dari kepastian tarif, koordinasi antar-stakeholder dan juga perlu perubahan pendekatan kaitannya dengan bundling agar menciptakan ekonomi sirkular.
"Kendala utama dalam mencapai water for all adalah kesenjangan kebutuhan pendanaan dengan anggaran publik yang tersedia. Data menunjukkan terdapat funding gap untuk sektor air sebesar 70,4 persen dari 41 negara, termasuk Indonesia," kata Herry TZ.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Ketua Ombudsman Hery Susanto Ditangkap Kejagung
-
Antisipasi Bahaya, ESDM Kaltim Tangani Kolam Bekas Tambang di Area Hunian
-
Petugas Haji Matangkan Layanan Akomodasi, Konsumsi, dan Transportasi
-
Harga Plastik Bergejolak, Bapanas Ambil Langkah Cepat Demi Jaga Stok Beras SPHP
-
Sebabkan Banjir Parah di Demak, Tanggul Sungai Tuntang yang Jebol Mulai Diperbaiki
-
Suplai Air Bersih untuk Warga Aceh Tamiang Selama Ramadan Tetap Berjalan
-
PM Kamboja Tuding Thailand Duduki Wilayahnya
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.