Hilirisasi Kakao Harus Dipacu

Jumat, 25 Agu 2023, 08:57 WIB

JAKARTA - Pemerintah mendorong hilirisasi industri pengolahan kakao di dalam negeri guna meningkatkan nilai tambah, memperkuat struktur industri, dan menciptakan kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, program hilirisasi sektor komoditas pertanian jangan setengah hati atau sekadar wacana saja, melainkan harus dieksekusi.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, di Jakarta, menuturkan saat ini Indonesia menjadi negara pengolah kakao terbesar ketiga di dunia yang memproduksi berbagai produk olahan seperti cocoa pasta/ liquor, cocoa cake, cocoa butter, dan cocoa powder. Sebagian produk tersebut diolah lebih lanjut di dalam negeri (sekitar 20 persen), dan selebihnya diekspor ke lebih dari 96 negara di lima benua.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

"Ekspor produk intermediate tersebut telah menjadikan Indonesia sebagai pemasok rantai global dengan kontribusi sekitar 9,17 persen dari kebutuhan dunia," ucap Putu di Jakarta, Kamis (24/8).

Menurut dia, peningkatan nilai ekspor kakao olahan didukung oleh sejumlah investasi perusahaan multinasional. Hal ini merupakan dampak dari kebijakan bea keluar terhadap ekspor biji kakao melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67 Tahun 2010.

Dari investasi tersebut juga, semula kapasitas terpasang industri pengolahan kakao sebesar 560 ribu ton per tahun, naik menjadi 739.250 ton per tahun. Selain itu, ekspor biji kakao pada 2013 sebesar 188.420 ton (senilai 446 juta dollar AS), turun menjadi 24.603 ton (senilai 64 juta dollar AS) pada 2022.

Sebaliknya, volume ekspor produk olahan kakao meningkat dari 196.333 ton (senilai 654 juta dollar AS) pada 2013 menjadi 327.091 ton (senilai 1,1 miliar dollar AS) pada 2022.

Sejak 2015, ekspor kakao olahan Indonesia selalu di atas satu miliar dollar AS. Bahkan, Indonesia sudah menjadi pemain global kakao olahan, dengan posisi ekspor cocoa butter kita nomor dua di dunia setelah Belanda.

Lebih lanjut, Putu menyampaikan, lima tahun lalu komposisi ekspor kakao olahan antara (intermediate product) sebesar 85 persen, dan 15 persen diproses lebih lanjut di dalam negeri menjadi produk akhir (finished good) berupa makanan dan minuman berbasis cokelat.

Saat ini, komposisi produksi olahan cokelat di dalam negeri meningkat menjadi 20 persen. "Artinya, produk kakao olahan di dalam negeri mengalami penguatan atau terjadi hilirisasi lebih lanjut," terangnya.

Adapun pengembangan hilirisasi industri pengolahan kakao diarahkan untuk menghasilkan bubuk cokelat, lemak cokelat, makanan dan minuman dari cokelat, suplemen dan pangan fungsional berbasis kakao, serta pengembangan cokelat artisan.

Salah satu produk cokelat yang berkembang adalah cokelat artisan bean to bar atau yang sering juga dikenal sebagai craft chocolate. "Saat ini, terdapat 31 perusahaan atau produsen cokelat artisan dengan kapasitas 1.242 ton per tahun," papar Putu.

Genjot Program

Sementara itu, pengamat ekonomi Universitas Atmajaya Jakarta, Yohanes B Suhartoko, mengatakan Indonesia memang harus menggenjot program hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Asal jangan hanya sebatas wacana, hilirisasi sektor perkebunan ini harus dieksekusi. Kita harus berhenti menjual dalam bentuk komoditas, karena tidak memberi banyak keuntungan," tegas Suhartoko.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.