PBB Belum Terima Tawaran Russia soal Pasokan Biji-bijian Gratis ke Afrika

Senin, 31 Jul 2023, 00:03 WIB

NEW YORK - Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations World Food Program (UNWFP), pada akhir pekan lalu, menyatakan belum menerima tawaran dari Russia untuk memberikan biji-bijian secara gratis kepada organisasi tersebut sejak mundurnya Moskwa dari kesepakatan ekspor pangan Laut Hitam.

"Kami belum diajak bicara," kata Wakil Direktur Eksekutif UNWFP, Carl Skau, kepada wartawan di markas besar PBB, di New York.

Ket. Foto: Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau — Sumber: FABRICE COFFRINI/AFP

Pada Kamis (27/7), Presiden Russia, Vladimir Putin, mengumumkan bahwa Moskwa akan memasok biji-bijian secara gratis ke enam negara Afrika dalam tiga sampai empat bulan ke depan.

Di bawah Inisiatif Laut Hitam, UNWFP telah mengirimkan lebih dari 725.000 ton biji-bijian untuk mengurangi kelaparan di beberapa wilayah paling miskin di dunia, termasuk Afghanistan, Tanduk Afrika, dan Yaman.

"Tentu saja, berakhirnya kesepakatan Inisiatif Laut Hitam sangat disesalkan," kata Skau seperti dikutip dari Antara.

"Ini adalah soal bagaimana kita dapat memastikan kebutuhan pangan jutaan orang terpenuhi. Dunia membutuhkan akses tanpa hambatan ke pasokan makanan utama. Mereka yang lapar tidak bisa menunggu untuk pembicaraan atau upaya-upaya diplomatik," tambahnya.

UNWFP mendapatkan 50 persen dari pembelian biji-bijian tahun lalu dari Ukraina dan 80 persen dari pembelian gandum pada 2023. "Kami harus mencari di tempat lain, yang kemungkinan bisa lebih mahal," katanya.

WFP mengatakan kebutuhan pangan sangat mendesak mengingat masih ada 345 juta orang di dunia mengalami kerawanan pangan.

Kesepakatan biji-bijian Laut Hitam, yang ditandatangani Russia, Ukraina, Turki, dan PBB, bertujuan melanjutkan ekspor dari tiga pelabuhan Ukraina dengan aman sejak perang Russia dimulai pada Februari 2022.

Kendalikan Harga

Perjanjian itu dapat membantu mengendalikan harga pangan dunia dan meredakan krisis pangan global dengan memulihkan aliran ekspor gandum, minyak bunga matahari, pupuk, dan produk bijian-bijian lain dari Ukraina, salah satu pengekspor biji-bijian terbesar di dunia.

Namun, Moskwa menolak untuk memperpanjang perjanjian itu setelah 17 Juli, dengan mengatakan bahwa beberapa bagian yang terkait dengan permintaan Moskwa dalam kesepakatan itu belum dipenuhi.

Moskwa meminta agar berbagai hambatan bagi ekspor pupuk Russia dihilangkan dan bank pertanian mereka dipulihkan ke sistem transaksi keuangan global SWIFT.

Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Brawijaya, Malang, Adhi Cahya Fahadayna, mengatakan sikap Russia tersebut menggambarkan kerenggangan hubungan Moskwa dengan dunia barat, sebagai konsekuensi dari dukungan sekutu kepada Ukraina.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.