- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ekonomi Global Tumbuh Mela...
Ekonomi Global Tumbuh Melambat dalam Lima Tahun ke Depan
Kamis, 13 Jul 2023, 00:04 WIB» Penurunan pertumbuhan ekonomi global menunjukkan rata-rata negara di dunia ekonominya melambat.
» Agar ekonomi Indonesia tetap tumbuh maka harus mengurangi impor khususnya impor barang jadi.
WASHINGTON - Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan berada di kisaran 3 persen per tahun dalam lima tahun ke depan, jauh di bawah rata-rata historis sekitar 3,8 persen. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, pada Selasa (11/7), mengatakan pertumbuhan yang melambat itu dapat menekan aliran modal.
Georgieva mengatakan dalam sambutan pembukaan di sebuah kuliah ekonomi IMF menyatakan pemerintah khususnya di pasar negara berkembang, perlu memperketat kebijakan fiskal untuk menjaga agar utang tetap terkendali guna membantu mengendalikan inflasi.
"Mereka juga akan menghadapi pengetatan kondisi keuangan lebih lanjut karena inflasi berlanjut, dan mungkin ada dampak pada arus modal," katanya.
Menanggapi pernyataan petinggi IMF itu, pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI), Eugenia Mardanugraha, mengatakan penurunan pertumbuhan ekonomi global menunjukkan bahwa rata-rata negara di dunia mengalami perlambatan ekonomi.
Mungkin juga ada negara yang mengalami peningkatan pertumbuhan ekonominya, namun negara-negara ekonomi besar pertumbuhan ekonominya turun. Eugenia tidak sependapat dengan pendapat Georgieva soal perketat kebijakan fiskal.
Menurutnya, saat ekonomi suatu negara mengalami perlambatan, pemerintah tidak dapat mengharapkan untuk menarik pajak lebih banyak. Sebaliknya, di saat terjadi krisis ekonomi, pemerintah perlu memperbesar subsidi dan insentif, terutama kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Sebab itu, negara-negara berkembang harus berupaya agar pertumbuhan ekonominya tetap meningkat.
"Agar Indonesia tetap meningkat pertumbuhan ekonominya maka harus mengurangi impor, khususnya impor barang jadi. Sektor produksi di dalam negeri harus diperhatikan dan dilindungi sehingga tidak perlu impor untuk menyediakan kebutuhan di dalam negeri," tandasnya.
Di sisi lain, peningkatan ekspor tidak dapat diharapkan karena negara-negara yang membeli produk Indonesia sedang mengalami kemunduran.
"Pemerintah perlu juga memperketat pasar domestik dari serbuan produk impor terutama dari Tiongkok yang produknya sudah membanjiri pasar dalam negeri," katanya.
Kurangi Utang
Dari Yogyakarta, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebetulnya cukup baik yakni di atas 5 persen di kuartal pertama 2023. Hal itu karena ditopang permintaan domestik seperti konsumsi rumah tangga masih tumbuh 4,54 persen secara tahunan.
Kendati demikian, peringatan dari IMF itu kiranya penting untuk diantisipasi guna memastikan bahwa ekonomi Indonesia tidak sampai terkena dampak buruk dari pertumbuhan ekonomi global yang lambat.
Pemerintah pun, kata Aloysius, harus konsisten menurunkan rasio utang yang per Mei 2023 tercatat 37,85 persen terhadap PDB atau turun dari posisi bulan sebelumnya 38,15 persen.
Dia berharap pemerintah dalam dua tahun ke depan tidak akan serampangan menambah utang. Upaya mengerem penarikan utang itu harus juga disertai dengan mengatur komposisi jangka waktu pelunasan utang, setidaknya fokus di tenor menengah-panjang.
Hal lain yang perlu diwaspadai pemerintah adalah stabilitas harga pangan. Bukan hanya harga pangan di hilir, tetapi juga harga input dalam proses produksi bahan pangan. Saat ini, mayoritas harga pangan dilaporkan tengah mengalami kenaikan rata-rata di hampir semua daerah. Salah satu sebab utamanya, seperti telur, adalah tingginya harga jagung pakan.
"Selain soal input, implikasi dari perubahan iklim juga harus semakin diperhitungkan," kata Aloysius.
Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Surabaya (Ubaya), Wibisono Hardjopranoto, mengatakan setelah pandemi usai, ketidakpastian ekonomi global memang masih berlanjut, terutama didorong oleh konflik di Ukraina yang berdampak ke berbagai sektor, seperti pangan dan energi.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kondisi Nagari Sungai Batang pascabencana susulan
-
Alokasi Dana Desa Bengkulu 2026 Capai Rp377,08 Miliar
-
Thailand Gunakan Radar untuk Membantu Pengendara Melacak SPBU yang Masih Jual BBM
-
Indikator Makro yang Solid Tidak Otomatis Cerminkan Kesehatan Struktural Ekonomi
-
Myanmar Gelar Pemilu Putaran Akhir, Partai Pro-militer Diprediksi Menang Telak
-
Warga Kasemen Serang Sahur di Tengah Kepungan Banjir
-
Polda Metro Jaya Gelar Operasi Pekat Jaya 2026 Jelang Ramadan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.