Cadangan Devisa Juni 2023 Turun Lagi
Sabtu, 08 Jul 2023, 07:49 WIBJAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Juni 2023 menurun menjadi sebesar 137,5 miliar dollar AS dari sebesar 139,3 miliar dollar AS pada Mei 2023. Penurunan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah.
Kendati demikian, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, mengatakan posisi cadangan devisa pada bulan lalu tersebut tetap tinggi, seperti dikutip dari keterangan resmi di Jakarta, Jumat (7/7).
Adapun posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 6,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Maka dari itu, BI menilai bahwa cadangan devisa bulan saat ini tetap mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Ke depan, Erwin menuturkan Bank Sentral memandang cadangan devisa akan tetap memadai, yang didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan respons bauran kebijakan yang ditempuh BI dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sebelumnya, BI mencatat ULN pemerintah mencapai 194,1 miliar dollar AS pada April 2023, relatif stabil dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya sebesar 194 miliar dolar AS.
Secara tahunan posisi ULN pemerintah tumbuh 1,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) setelah mengalami kontraksi 1,1 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
Perkembangan ULN tersebut dipengaruhi oleh penempatan investasi portofolio di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik seiring dengan sentimen positif pelaku pasar global yang tetap terjaga.
Penarikan ULN pemerintah pada April 2023 masih diutamakan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif dan prioritas, khususnya untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian perekonomian global.
Stabilitas Makro
Di kesempatan lain, ekonom senior DBS Bank, Radhika Rao, memproyeksikan bahwa mata uang rupiah akan menguat pada semester 2 tahun ini.
"Kami memperkirakan rupiah akan meningkat secara bertahap di sisa tahun 2023 ini, seiring dengan konsolidasi dollar AS," kata Radhika dalam acara media briefing Bank DBS di Jakarta, Jumat.
Radhika menjelaskan ada beberapa faktor yang turut mendorong pertumbuhan positif rupiah. Pertama, tingkat inflasi yang kembali pada target. Bulan Juni, inflasi tahunan Indonesia tercatat masih di angka aman yakni pada level 3,53 persen. Ia memperkirakan pada bulan Agustus hingga September, inflasi masih akan turun di bawah 3 persen, dan pada akhir tahun akan meningkat sedikit lebih tinggi dari 3 persen.
Faktor kedua yakni pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5 persen pada tahun 2023 dan 2024. Kemudian faktor ketiga, terciptanya stabilitas makroekonomi seiring dengan adanya upaya Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, menurunkan defisit transaksi berjalan ketingkat yang lebih berkesinambungan, serta menjaga keseimbangan fiskal.
Redaktur: andes
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
BI Ungkap Kinerja QRIS Global di Bali, Nilainya Cukup Fantastis
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Hasil Piala Jerman: Bayern Muenchen ke Final Usai Singkirkan Bayer Leverkusen 2-0
-
Perkuat Energi Hijau untuk Tarik Investasi Global
-
Toleransi Antarumat Beragama Kediri Diperkuat lewat Edukasi
-
Psikolog: Korban Kecelakaan KA Berisiko Alami Gangguan PTSD, Trauma Healing Penting!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.