Sistem Kerja Hibrida Model Branch-Office-of-One Tantangan Keamanan
Jumat, 02 Jun 2023, 20:11 WIBJAKARTA - Fortinet, penyedia solusi keamanan siber yang mendorong konvergensi jaringan dan keamanan, mengungkap temuan survei Sase Asia-Pasifik yang dilakukan oleh IDC. Survei yang dilakukan di sembilan negara Asia/Pasifik yang menjajaki perspektif para pemimpin keamanan siber tentang dampak kerja hibrida bagi perusahaan.
"Kerja hibrida yang disoroti khususnya bagaimana hal tersebut berdampak terhadap perusahaan mereka selama setahun terakhir serta strategi mereka untuk memitigasi tantangan keamanan yang timbul dari pelaksanaan kerja hibrida," kata Country Director, Fortinet Indonesia, Edwin Lim, melalui keterangan tertulis Selasa (30/5).
Survey tersebut menemukan munculnya 'Branch-Office-of-One.' Artinya sebesar 96 persen responden di Indonesia menggunakan model kerja hibrida atau jarak jauh. Lebih dari setengahnya respondenatau 54 persen menyatakan memiliki sekurang-kurangnya 50 persen karyawan yang bekerja secara hibrida.
"Perpindahan ke model kerja jarak jauh ini mengakibatkan para karyawan menjadi sejumlahbranch office of oneatau kantor cabang berpegawai satu orang. Ia bekerja bekerja dari rumah atau lokasi lain di luar kantor tradisional," terang Lim.
Sebagai akibatnya, 86 persen responden di Indonesia mengantisipasi lonjakan jumlah perangkat terkelola hingga lebih dari 100 persen dalam dua tahun mendatang. Beberapa responden bahkan memperkirakan peningkatan sebesar 400 persen.
Selain itu, 80 persen responden di Indonesia memperkirakan jumlah perangkat tidak terkelola akan tumbuh lebih dari 50 persen. Dengan demikian kompleksitas dan risiko pelanggaran keamanan kian bertambah dan memperberat beban tim keamanan TI yang saat ini pun telah kelebihan beban.
Lim menambahkan perangkat yang tidak terkelola merupakan risiko. Semakin lazimnya sistemclouddan kerja jarak jauh mengakibatkan semakin meningkatnya jumlah pengguna, perangkat, dan data yang berlokasi di luar jaringan perusahaan.
"Saat ini, lebih dari 30 persen perangkat yang terhubung ke jaringan di Indonesia tidak terkelola, sehingga memperbesar peluang terjadinya pelanggaran keamanan. Responden survei di Indonesia memperkirakan angka ini akan terus bertambah, dengan 80 persen responden memperkirakan peningkatan sebesar 50 persen hingga 2025," paparnya.
Ia menambahkan perlunya mengamankan cloud seiring meningkatnya kerja hibrida, karyawan memerlukan beberapa koneksi ke sistem eksternal dan aplikasicloudagar tetap produktif. Responden survei mengindikasikan bahwa karyawan mereka di Indonesia memerlukan hampir 30 koneksi ke aplikasicloudpihak ketiga, dan ini memperbesar peluang terjadinya pelanggaran keamanan.
Dalam dua tahun mendatang, 100 persen responden di Indonesia memperkirakan angka ini akan meningkat dua kali lipat. Sementara itu lebih dari 74 persen responden merasa angka ini akan meningkat tiga kali lipat, sehingga risiko pun semakin besar.
"Menjaga keamanan jaringan sambil tetap memastikan konektivitas karyawan ke layanan pihak ketiga dan layanan berbasis cloud merupakan tantangan besar, karena langkah pengamanan tradisional masih kurang memadai," kata dia.
Sistem kerja hibrida meningkatnya insiden keamanan. Meningkatnya sistem kerja hibrida dan pertumbuhan koneksi terkelola yang tidak terkelola menyebabkan lonjakan besar dalam jumlah insiden keamanan. Sebesar 74 persen perusahaan yang disurvei di Indonesia melaporkan peningkatan pelanggaran keamanan lebih dari tiga kali lipat.
Berdasarkan survei tersebut, 82 persen responden di Indonesia pernah mengalami sekurang-kurangnya 2X peningkatan insiden keamanan. Insiden keamanan yang paling banyak terjadi antara lainphishing, denial of service(DoS), pencurian data/identitas,ransomware, dan kehilangan data.
"Namun, hanya 49 persen perusahaan di seluruh Asia yang memiliki personel keamanan khusus, menjadikan mereka lebih rentan terhadap insiden dan pelanggaran keamanan," katanya.
Vice President of Marketing and Communications, Asia & ANZ Rashish Pandey mengatakan, pada saat dunia bergeser ke model kerja hibrida, perusahaan menghadapi tantangan dalam mengamankan lingkungan 'branch-office-of-one.' Survei ini menggarisbawahi betapa pentingnya strategi keamanan komprehensif bagi perusahaan, yang mampu mengatasi kompleksitas dan risiko yang muncul akibat pertumbuhan kerja jarak jauh.
Research Vice President, IDC Asia/Pasifik, Simon Piff, mengatakan, temuan tersebut menyoroti pentingnya memprioritaskan postur keamanan dan investasi pada solusi cloud yang mampu berintegrasi mulus dengan solusion-premiseuntuk mengelola lingkungan kerja hibrida dan memitigasi risiko. Pemilihan vendor tunggal dan konvergensi infrastruktur menunjukkan perlunya pengelolaan yang efisien, sementara arsitektur zero-trust dapat meningkatkan keamanan dan kedayagunaan.
"Perusahaan perlu mengatasi tantangan ini dan berinvestasi pada solusi keamanan yang mendukung tenaga kerja hibrida dan mengurangi ancaman keamanan," ucapnya.
Lim menambahkan Sase menjadi pendobrak bagi sistem kerja hibrida dengan mengatasi tantangannya. Banyak perusahaan di Indonesia berencana berinvestasi pada solusi Sase Vendor Tunggal untuk meningkatkan postur keamanan sekaligus memberikan pengalaman pengguna yang konsisten bagi karyawan jarak jauh.
"Kebutuhan akan solusi komprehensif yang memberikan postur keamanan yang konsisten bagi pengguna, baik di dalam maupun di luar jaringan, dengan tetap menyederhanakan pengelolaan kebijakan keamanan dan meningkatkan pengalaman pengguna bagi karyawan jarak jauh telah mendorong banyak perusahaan menjajaki Sase," kata Lim.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.