India Targetkan Penggunaan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan Tahun 2025

Sabtu, 27 Mei 2023, 09:09 WIB

Menteri Perminyakan India, Hardeep Singh Puri mengungkapkan bahwa India berencana untuk mewajibkan penggunaan 1 persen bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF) untuk maskapai-maskapai peerbangan domestik pada tahun 2025. Ini sebagai bentuk upaya untuk mengurangi emisi dari sektor transportasi udara.

Tidak seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, India belum memiliki kebijakan yang mengatur bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Mandat SAF dari Komisi Eropa diperkirakan akan dimulai pada tahun 2025 dengan volume minimum SAF sebesar 2 persen.

Ket. Foto: Ilustrasi — Sumber: Istimewa

Puri mengatakan bahwa untuk bahan bakar jet yang dicampur dengan 1 persen SAF, dibutuhkan sekitar 140 juta liter bahan bakar nabati. Mandat untuk SAF dapat meningkat menjadi 4-5 persen jika lebih banyak volume bahan bakar nabati tersedia. Sebuah panel di India telah menyarankan untuk meluncurkan 1 persen SAF di negara tersebut pada tahun 2025.

"Mandat akhir akan membutuhkan persetujuan dari kabinet," kata Puri dalam sebuah acara untuk menerima penerbangan lokal pertama di negara tersebut yang ditenagai oleh biojet, dikutip dari Reuters, Minggu (21/5).

Perusahaan swasta Praj Industries menyediakan bahan bakar nabati, yang dicampur dengan bahan bakar jet oleh Indian Oil Corp (IOC.NS), perusahaan penyulingan terbesar di negara ini.

IOC bertujuan untuk mendirikan sebuah pabrik pada tahun 2026 untuk memproduksi 87 ribu ton SAF per tahun dengan biaya lebih dari 15 milyar rupee, demikian ungkap direktur penelitian dan pengembangan SSV Ramakumar.

Seperti diketahui, bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau sustainable aviation fuel (SAF) adalah jenis bahan bakar yang diproduksi dengan menggunakan sumber daya yang terbarukan atau ramah lingkungan. Bahan bakar ini dirancang untuk menggantikan bahan bakar fosil konvensional yang digunakan dalam industri penerbangan, seperti avtur (aviation turbine fuel) atau jet fuel.

Bahan bakar penerbangan berkelanjutan dapat diproduksi dari berbagai bahan baku, termasuk biomassa, limbah organik, minyak nabati, alga, dan gas sintetis. Proses produksi SAF menggunakan teknologi seperti hidrokarbon terbarukan, proses Fischer-Tropsch, atau pengolahan termal. Bahan baku yang digunakan untuk produksi SAF sering kali merupakan sumber daya yang dapat diperbaharui atau limbah yang dihasilkan dari industri pertanian atau kehutanan.

Keuntungan utama dari bahan bakar penerbangan berkelanjutan adalah mengurangi emisi gas rumah kaca dan dampak lingkungan lainnya yang dihasilkan oleh penerbangan. SAF memiliki potensi untuk mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) hingga 80 persen dibandingkan dengan bahan bakar fosil tradisional. Selain itu, penggunaan SAF dapat mengurangi emisi polutan lainnya seperti nitrogen dioksida (NOx) dan partikulat.

Penerbangan berkelanjutan dan penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan menjadi penting dalam upaya mengurangi dampak industri penerbangan terhadap perubahan iklim. Banyak perusahaan penerbangan dan produsen bahan bakar telah melakukan investasi dan upaya penelitian untuk mengembangkan dan memperluas penggunaan SAF. Regulasi dan kebijakan pemerintah juga berperan penting dalam mendorong penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan dengan memberikan insentif dan target pengurangan emisi untuk industri penerbangan.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Rivaldi Dani Rahmadi

Berita Terbaru

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.