Dolar Menguat di Tengah Kekhawatiran Risiko Gagal Bayar AS
Jumat, 26 Mei 2023, 08:45 WIBNEW YORK - Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya untuk sesi keempat berturut-turut pada pada akhir perdagangan Kamis (25/5) atau Jumat pagi WIB, di tengah kekhawatiran berkelanjutan atas kemungkinan gagal bayar utang AS dan data ekonomi makro dan pasar tenaga kerja yang optimis.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,34 persen menjadi 104,2424 pada akhir perdagangan.
Anggota parlemen AS meninggalkan Washington untuk liburan panjang akhir pekan pada Kamis (25/5) tanpa kesepakatan untuk menaikkan plafon utang, tetapi kedua belah pihak hanya terpisah 70 miliar dolar AS dengan angka total yang akan lebih dari 1 triliun dolar AS, menurut sebuah sumber Reuters.
"Kegagalan mencapai kesepakatan untuk menaikkan atau menangguhkan batas utang pada tanggal-X akan menjadi sinyal negatif dari tata kelola yang lebih luas dan kesediaan AS untuk memenuhi kewajibannya secara tepat waktu, yang tidak mungkin konsisten dengan peringkat 'AAA'," kata Fitch.
Kepala strategi makro Amerika Utara Standard Chartered Steve Englander mengatakan jika Amerika Serikat akan gagal bayar, "itu akan menjadi positif bagi dolar dengan sangat cepat."
Moody's Investor Service percaya bahwa dominasi dolar AS dalam perdagangan dan keuangan internasional akan bertahan selama beberapa dekade meskipun ada tantangan baru. "Bahaya jangka pendek terbesar terhadap posisi dolar berasal dari risiko kesalahan kebijakan yang melemahkan kepercayaan oleh otoritas AS sendiri, seperti gagal bayar utang AS misalnya," tulis analis Moody's.
Selain itu, pasar tenaga kerja AS terus menunjukkan tanda-tanda perbaikan karena permohonan tunjangan pengangguran untuk pertama kali mengalahkan ekspektasi pasar untuk minggu kedua berturut-turut.
Jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim pengangguran untuk pekan yang berakhir 20 Mei naik menjadi 229.000 dari 225.000 minggu sebelumnya tetapi lebih rendah dari perkiraan konsensus 248.000, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Kamis (25/5).
Selain itu, tingkat pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal pertama direvisi menjadi 1,3 persen, naik dari perkiraan awal sebesar 1,1 persen.
Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,0722 dolar AS dari 1,0750 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2318 dolar dari 1,2361 dolar AS pada sesi sebelumnya.
Dolar AS dibeli 139,9710 yen Jepang, lebih tinggi dari 139,1400 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS meningkat menjadi 0,9063 franc Swiss dari 0,9051 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3638 dolar Kanada dari 1,3598 dolar Kanada. Dolar AS meningkat menjadi 10,8328 krona Swedia dari 10,7255 krona Swedia.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Mulai 1 Januari, Transportasi Gratis Bisa Dinikmati oleh 21 Golongan Masyarakat, Siapa Saja?
-
Penghulu hingga Tokoh Agama Bisa Jadi Agen Perlinsos Bantu Warga Daftar Bansos
-
Rupiah Dibayangi Gejolak MSCI - 19 Oktober 2026
-
Timnas Indonesia Juara FIFA Asean Cup 2026, Tundukkan Thailand 4-2 Lewat Adu Penalti
-
Ngeri-Ngeri Sedap, Herdman Tertantang Putus Tren Buruk Indonesia vs Thailand
-
Rupiah Tertekan Potensi Kenaikan Suku Bunga AS - 20 Oktober 2026
-
Rupiah Terancam Melemah - 06 Oktober 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.