Pulau Peucang, Permata Tersembunyi di 'Sunset of Java'
Sabtu, 06 Mei 2023, 06:15 WIBMendatangi permata tersembunyi adalah cara wisatawan untuk berlari dari hiruk pikuk kota. Pulau Peucang di Ujung Kulon bisa menjadi tujuan menikmati alam liar dengan melihat alam beserta flora dan fauna yang terjaga dari kepunahan.
Kabupaten Pandeglang yang berada di ujung barat Pulau Jawa memiliki Taman Nasional Ujung Kulon yang menjadi salah satu Situs Warisan Dunia Unesco. Salah satu bagian dari wilayah yang dijuluki Sunset of Java adalah Pulau Peucang selain Pulau Panaitan dan Pulau Handeuleum, dimana pulau-pulau ini menawarkan keindahan juga keheningan.
Nama Pulau Peucang diambil dari nama sejenis siput yang sering ditemukan di pantainya. Siput itu oleh penduduk sekitar Taman Nasional Ujung Kulon disebut "mata peucang" atau mata kancil.
Pulau dengan luas 450 hektare ini lokasinya sangat terpencil dan jauh dari aktivitas warga. Letaknya yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon membuatnya relatif steril dari aktivitas masyarakat. Oleh karenanya pulau ini menjadi permata tersembunyi atau hidden gem bagi mereka yang ingin lari sejenak dari aktivitas rutin.
Saat ini sudah banyak agen perjalanan yang menawarkan open trip atau perjalanan bersama wisatawan lain yang tidak dikenal, dengan tempat dan waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Dari Jakarta misalnya berangkat dimulai dari hari Jumat malam hingga sampai di Jakarta kembali pada hari Minggu malam.
Di Pulau Peucang dapat ditemui bermacam satwa seperti rusa (Cervus timorensis), merak hijau (Pavo muticus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang, babi hutan (Sus verrucosus) dan biawak.
Yang unik baik rusa, babi hutan, merak dan monyet ekor panjang di sini cukup biasa berinteraksi cukup akrab dengan manusia.
Hewan-hewan di Pulau Peucang nyaris tidak ada yang berbahaya. tidak seperti Semenanjung Ujung Kulon, Pulau peucang tidak dihuni oleh binatang buas seperti macan tutul. Dengan demikian wisatawan merasa aman selama menikmati pesonanya.
Bagi yang hobi mengamati burung pulau tersebut menjadi rumah bagi 60 spesies burung. Bersama desau angin di pepohonan burung-burung itni menciptakan suara alam yang menciptakan suasana syahdu bagi mereka yang berkunjung.
Hutan Pulau Peucang yang dengan pepohonan yang rapat merupakan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah. Flora ada antara lain pohon merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus hasseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), dan ki hujan (Engelhardia serrata).
Di perairannya, Pulau Peucang juga dikelilingi oleh taman karang yang sangat sehat. Kawasan bawah lautnya sangat terjaga karena aturan ketat yang melarang eksploitasi lautan di kawasan ini kecuali hanya sekedar memancing dan kegiatan wisata seperti snorkeling dan diving.
Hanya berenang dari bibir pantai wisatawan dapat langsung menemukan taman koral yang menjadi tempat tinggal ikan karang yang cantik dan berwarna-warni seperti ikan nemo dan lainnya. Penyu juga masih dapat dijumpai dengan mudah di tempat ini. Bahkan beberapa orang mengaku pernah melihat dugong, salah satu mamalia laut yang keberadaannya di alam sangat terancam.
Terlindungi Tanjung
Pulau Peucang terlindungi oleh tanjung wilayah yang menjadi ujung barat dari Pulau Jawa. Tanjung ini melindungi dari gelombang pantai selatan yang cukup ganas. Oleh karenanya pantai di pulau ini terutama yang berada di sisi utara dan timur pulau cukup tenang untuk bermacam kegiatan.
Pantai pulau cukup menawan. Pasirnya yang putih bersih dan terkadang menyilaukan. Di atas pasir ini bisa dijumpai kelomang, baik besar atau kecil. Kelomang yang sering dijual sebagai mainan anak-anak adalah krustasea dekapoda dari superfamili Paguroidea.
Hewan ini memanfaatkan cangkang siput laut yang telah kosong atau mati sebagai rumahnya. Dan akan berpindah ke cangkang lain jika badannya sudah terasa sesak atau karena alasan lain. Bahkan menggunakan banyak benda yang tidak lazim digunakan oleh hewan sebagai rumahnya, seperti botol, rumput, batu, bulu babi, ataupun anemon.
Warna air hijau toska di bibir pantai lalu membiru di tengahnya menawarkan gradasi yang indah untuk latar foto yang menarik. Dari bibir pantai ini berbagai kegiatan seperti berenang, menyelam, memancing, atau snorkeling bisa dilakukan.
Untuk menjangkau Pulau Peucang dimulai dari Dermaga Sumur di Desa Kertajaya, Kecamatan Sumur. Perjalanan dengan perahu dari dermaga ini menuju dermaga di Pulau Peucang akan menempuh perjalanan sejauh 37,3 kilometer, dengan waktu tempuh selama 2 jam dengan perahu kayu dengan mesin diesel biasa.
Setelah sampai di Pulau Peucang, selanjutnya dilakukan check in berupa pembagian kamar. Di sini terdapat Flora dan Fauna Resort dua penginapan atau guest house yang bisa disewa untuk pengunjung. Bangunannya berupa rumah panggung yang sederhana dengan kapasitas terbatas. Justeru kesederhanaan ini menjadikan wisatawan dapat merasakan kemewahan berada di alam yang masih natural.
Selain resor tersebut, bangunan lainnya adalah bangunan Posko Balai Taman Nasional Ujung Kulon fasilitas bagi pengawas Pulau Peucang dan pusat informasi Taman Ujung Kulon. Jangan berharap ada warung yang menyediakan bermacam kebutuhan. Oleh karenanya perlu persediaan makanan dan minuman juga persiapan lebih matang sebelumnya. hay/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Bazar Ramadan Lebak Bulus: Upaya Pemprov DKI Majukan UMKM
-
Indonesia Kontra Malaysia, Ubed Turun Pertama, Ginting Ketiga
-
BMKG Ingatkan Nelayan Waspadai Gelombang Tinggi di Perairan Sumut hingga 19–22 April
-
Karya Lokal Mendunia, Ekspor Fesyen–Kriya Tembus Rp476 Triliun
-
Hari MRT 2026: Tarif Naik MRT Jakarta Hanya Rp243 pada 24 Maret
-
WALHI Kalbar Temukan 1.316 Titik Panas Karhutla di Lahan Gambut Sepanjang Februari 2026
-
Alumni Penerima Beasiswa LPDP Tak Bangga Jadi Orang Indonesia, Kemenkeu Harap untuk Hormati Rakyat Indonesia karena Itu Uang Rakyat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.