Intip Hewan Liar di Cidaon

Sabtu, 06 Mei 2023, 06:30 WIB

Berbagai aktivitas bisa dilakukan selama berada di Pulau Peucang yang berada di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Setelah mendapat kamar dan beristirahat sejenak di Flora dan Fauna Resort setelah melalui perjalanan darat dan laut yang aktivitas bisa dilanjutkan dengan snorkeling.

Peserta open trip biasanya akan diajak untuk menjelajahi spot-spot yang ada. Terdapat 4 lokasi di sekitar Pulau Peucang yang memiliki taman karang yang cantik dan sehat. Spot pertama Villa Batik, kedua lokasi yang bernama Ciapus, ketiga Citerjun, dan keempat Sumino.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Seperti namanya, Spot Villa tepat berada di depan Villa Batik dekat dengan bibir pantai. Ciapus berada di sisi timur laut pulau ditarik dari titik paling tengah. Citerjun berada di sisi timur ahak ke selatan, dan Sumino di bagian tenggara pulau.

Untuk menghemat waktu tentu hanya dipilih satu dua karena banyak yang perlu dieksplorasi.

Setelah istirahat dan makan siang, aktivitas selanjutnya trekking menuju Karang Copong membelah hutan Pulau Peucang. Dalam perjalanan ini akan pemandu akan memberhentikan sejenak tepat di sebuah pohon kiara besar (Ficus Benjamina L).

Pohon dengan ketinggian mencapai 25 meter ini menurut keterangan Balai Taman Nasional Ujung Kulon selamat dari letusan Gunung Krakatau 26 Agustus 1883. Di usianya yang telah renta, tidak heran pohon raksasa ini memiliki akar yang tumpah di atas tanah menjalar ke mana-mana.

Kiara atau ara, dijuluki juga sebagai beringin pencekik. Masyarakat Sunda mengenalnya sebagai beringin pencekik kiara bodas atau kiara koneng, sedangkan orang Jawa menyebutnya grasak. Kiara adalah tumbuhan raksasa rimba berbatang besar, tajuknya rapat, daunya berbentuk lonjong dan pohon yang bisa mematikan pohon lain sebagai inangnya.

Dari pohon Kiara, trekking kembali dilanjutkan ke Karang Copong. Panjang jalur ini sekitar 3 kilometer dengan lebar 1 meter. Jika tidak tergesa-gesa, perjalanan rata-perjalanan ditempuh dalam waktu selama sekitar 1 jam, melawati hutan dengan permukaan tanah datar.

Karang Copong artinya karang yang bolong atau berlubang menjadi spot penting di sini. Di sini terdapat bukit karang besar yang bagian tengahnya berlubang karena terkikis ombak laut. Lokasinya berada di sisi utara pulau yang berupa tanjung.

Jika air laut pasang, bukit koral ini terpisah dari Pulau Peucang. Jika air laut surut, terdapat jalur yang menghubungkan Pulau Peucang dengan bukit karang. Karena menghadap ke arah barat, Karang Copong adalah salah satu lokasi terbaik untuk menikmati sunset di Pulau Peucang.

Trip selanjutnya di Pulau Peucang adalah merasakan sabana ala Afrika di yang berada di seberang laut tepatnya di daratan Pulau Jawa. Untuk menuju ke sabana bernama Cidaon ini memerlukan waktu 20 menit dengan perahu dari Pulau Peucang dengan jarak 2,7 kilometer.

Cidaon adalah sebuah area terbuka terhampar dengan luas sekitar 4 hektare yang menjadi lokasi berkumpulnya para satwa liar penghuni hutan yang berada di wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Momen berkumpulnya satwa liar di padang rumput ini menjadi incaran wisatawan yang mengikuti open trip di Pulau Peucang.

Satwa liar seperti banteng, sapi, rusa, kijang, kancil, babi Hhutan, merak hijau dan lain-lain adalah hewan liar penghuni Taman Nasional Ujung Kulon. Mereka berkumpul di padang rumput yang relatif sempit ini untuk mencari makanan. Badak Jawa bercula satu yang merupakan satwa asli dan primadona di Taman Nasional Ujung Kulon juga hidup di lokasi ini.

Pada pagi hari waktunya berburu sunrise di sebelah timur pulau. Di dermaga tempat perahu datang membawa pengunjung adalah tempat yang biasa menjadi titik pengamatan semburat jingga langit pagi hari. Setelah itu wisatawan harus bersiap melakukan perjalanan pulang, dengan perahu kayu menuju Dermaga Sumur.

Dalam perjalanan ke Dermaga Sumur, wisatawan dibelokkan ke Sungai Cigenter sejenak. Sungai ini memang menjadi salah satu bagian dari open trip di Pulau Peucang. aktivitas yang dilakukan mendayung perahu kecil atau berkano (canoeing).

Sungai ini berada di daratan Pulau Jawa di dekat Pulau Handeuleum. Pulau ini memiliki luas sekitar 220 hektare dan masih termasuk bagian dari Taman Nasional Ujung Kulon. Sungai Cigenter bermuara di dekat lautan sekitar pulau tersebut. Untuk menelusurinya digunakan perahu yang lebih kecil dengan yang mampu memuat 4-6 orang.

Dengan perahu tersebut wisatawan akan disuguhkan sungai sepanjang 12 kilometer. Dalam setiap perjalanan menyuguhkan pemandangan yang sama sekali berbeda dengan yang ada di Pulau Peucang sebelumnya.

Di sini akan ditemui ekosistem mangrove. Salah satu flora yang menonjol di sepanjang sungai ini adalah pohon nipah. Tidak sedikit orang yang menyebut keindahan Sungai Cigenter seperti Sungai Amazon di Brasil, Amerika Selatan. hay/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.