Ilmuwan AS Temukan Cara Mendiagnosis Penyakit Parkinson

Jumat, 14 Apr 2023, 00:00 WIB

PARIS - Penelitian terbaru oleh tim dari University of Pennsylvania di Amerika Serikat, pada Kamis (13/4), menemukan cara untuk mengetahui protein tertentu yang menumpuk di otak pada sebagian besar pasien parkinson. Temuan ini dipuji sebagai "pengubah permainan" potensial yang dapat menunjukkan cara untuk menguji penyakit itu.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), parkinson adalah penyakit neurodegeneratif kedua yang paling umum setelah alzheimer dan mempengaruhi lebih dari 8,5 juta orang di seluruh dunia.

Ket. Foto: Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif kedua yang paling umum setelah alzheimer. — Sumber: ISTIMEWA

Tidak ada obat atau cara untuk menguji penyakit ini, dan biasanya dokter hanya dapat mendiagnosis setelah muncul gejala. Namun, beberapa faktor telah dikaitkan dengan parkinson, termasuk di otak pasien sering terdapat akumulasi kelompok protein Alpha-synuclein yang "salah lipat".

Dikutip dari The Straits Times, penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Neurology, menggunakan teknik untuk memperkuat, kemudian menganalisis kelompok protein kecil tersebut.

Studi terbesar dari jenisnya mencakup lebih dari 1.100 peserta, hampir setengahnya sebelumnya telah didiagnosis menderita penyakit parkinson, sementara yang lain dianggap berisiko, serta kelompok kontrol yang sehat.

Sampel cairan serebrospinal yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang diambil dari masing-masing peserta. Teknik, yang disebut Syn-SAA, kembali positif untuk 88 persen dari semua yang sebelumnya didiagnosis dengan penyakit parkinson.

"Teknik tersebut dapat memiliki implikasi mendalam untuk cara kita menangani kondisi tersebut, berpotensi memungkinkan untuk mendiagnosis orang lebih awal," kata penulis utama studi tersebut, Andrew Siderowf, dalam sebuah pernyataan.

Kurang Berhasil

Teknik ini kurang berhasil untuk pasien yang membawa varian gen yang dikenal sebagai LRRK2 yang terkait dengan bentuk penyakit tertentu, dan mengidentifikasi hanya 68 persen pasien yang didiagnosis.

Tes sederhana untuk mendiagnosis penyakit parkinson masih jauh. Masih harus dilihat apakah teknik ini berhasil saat menggunakan sampel darah, yang jauh lebih mudah diekstraksi daripada cairan serebrospinal.

Daniela Berg dan Christine Klein, ahli saraf di Rumah Sakit Universitas Schleswig-Holstein Jerman, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan temuan tersebut "meletakkan dasar untuk diagnosis biologis penyakit parkinson".

"Teknik ini merupakan pengubah permainan dalam uji diagnostik, penelitian, dan pengobatan penyakit parkinson," tulis mereka dalam bagian komentar yang ditautkan.

Penyakit parkinson menyebabkan gerakan tak terkendali seperti gemetar, serta gangguan tidur dan kesehatan mental. Gejalanya memburuk dari waktu ke waktu, dan akhirnya pasien dapat kesulitan untuk berjalan atau berbicara.

Sementara itu, seperti dikutip dari Antara, spesialis saraf konsultan dr. Dyah Tunjungsari, Sp.S (K) mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penyakit parkinson yang dapat menyerang di usia muda.

"Mitos penyakit ini hanya dialami orang tua itu tidak benar adanya, sudah banyak dilaporkan di luar negeri, tidak hanya di Indonesia saja, kalau penyakit parkinson juga ditemukan di usia muda. Untuk itu, deteksi dini perlu dilakukan untuk mencegah komplikasi-komplikasi lain yang muncul," kata Dyah.

Dyah mengatakan gejala parkinson ditandai dengan hiperaktivitas atau peningkatan aktivitas yang terlalu tinggi di beberapa area di otak, yang membuat pengidapnya mengalami gerakan-gerakan berlebihan yang sulit dikendalikan.

Salah satu perwakilan komunitas parkinson, Sofyan Lesmana yang hadir dalam diskusi bertajuk "My Days with Parkinson" mengatakan gejala parkinson mulai dialami sejak usia 33 tahun.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.