Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Hasil Studi Baru Mengungkap dari Mana Oksigen di Bumi Berasal

📅 Jumat, 31 Mar 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis



Untuk mengukur kondisi oksidasi batuan magmatik ini yang terbentuk melalui pendinginan dan kristalisasi magma atau lava merupakan hal yang menantang. Peristiwa pasca-kristalisasi mungkin telah memodifikasi batuan ini melalui deformasi, penguburan, atau pemanasan di kemudian hari.

Jadi, kami memutuskan untuk melihat mineral apatite yang terdapat dalam kristal zirkon dalam batuan ini. Kristal zirkon dapat menahan suhu dan tekanan yang kuat dari peristiwa pasca-kristalisasi. Kristal-kristal ini menyimpan petunjuk tentang lingkungan tempat mereka terbentuk dan memberikan informasi usia yang tepat untuk batuan itu sendiri.

Kristal apatite kecil yang lebarnya kurang dari 30 mikron - seukuran sel kulit manusia - terperangkap di dalam kristal zirkon. Kristal-kristal tersebut mengandung belerang. Dengan mengukur jumlah sulfur dalam apatit, kita dapat menentukan apakah apatite tumbuh dari magma yang teroksidasi atau tidak.

Kami berhasil mengukur kapasitas oksigen dari magma Arkean asli - yang pada dasarnya adalah jumlah oksigen bebas di magma tersebut - dengan menggunakan teknik khusus yang disebut Spektroskopi Struktur Tepi Dekat Penyerapan Sinar-X S-XANES di Advanced Photon Source Synchrotron di Argonne National Laboratory di Illinois, Amerika Serikat.

Menciptakan Oksigen dari Air?

Kami menemukan bahwa kandungan sulfur dalam magma, yang awalnya berada di kisaran nol, meningkat menjadi 2.000 bagian juta menjadi sekitar 2705 juta per tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa magma telah bertambah banyak mengandung sulfur. Selain itu, dominasi S6+ - sejenis ion sulfer - dalam apatite menunjukkan bahwa belerang berasal dari sumber yang teroksidasi, sesuai dengan data dari inang kristal zirkon.

Temuan-temuan baru ini mengindikasikan bahwa magma teroksidasi terbentuk pada era Neoarkean tepatnya 2,7 miliar tahun yang lalu. Data menunjukkan bahwa kurangnya oksigen terlarut di reservoir samudra Arkean tidak mencegah pembentukan magma teroksidasi yang kaya akan belerang di zona subduksi. Oksigen dalam magma ini pasti berasal dari sumber lain dan pada akhirnya dilepaskan ke atmosfer ketika gunung berapi meletus.

Kami menemukan bahwa terjadinya magma yang teroksidasi ini berkorelasi dengan peristiwa mineralisasi emas berskala besar di Provinsi Superior dan Yilgarn Craton (Australia Barat), yang menunjukkan adanya hubungan antara sumber-sumber yang kaya akan oksigen ini dengan pembentukan endapan bijih kelas dunia secara global.

Implikasi dari penemuan magma yang teroksidasi ini melampaui pemahaman geodinamika Bumi purba. Sebelumnya, merupakan sebuah hal yang tidak mungkin bahwa magma Arkean dapat teroksidasi sementara air laut dan batuan atau sedimen dasar laut tidak teroksidasi.

Meskipun mekanismenya yang pasti belum sepenuhnya jelas, kemunculan magma ini menunjukkan bahwa proses subduksi, di mana air laut dibawa ratusan kilometer ke dalam planet kita, menghasilkan oksigen bebas. Hal ini kemudian mengoksidasi mantel di atasnya.

Penelitian kami menunjukkan bahwa subduksi Arkean mungkin merupakan faktor yang penting dan tak terduga dalam oksigenasi Bumi, oksigen awal pada 2,7 miliar tahun yang lalu dan juga Peristiwa Oksidasi Besar yang menandai peningkatan oksigen di atmosfer bumi sebesar 2% pada 2,45 hingga 2,32 miliar tahun yang lalu.

Sejauh yang kita ketahui, Bumi adalah satu-satunya tempat di tata surya - baik di masa lalu maupun sekarang - yang memiliki lempeng tektonik dan subduksi aktif. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini dapat menjelaskan sebagian dari kekurangan oksigen dan pada akhirnya, kehidupan di planet-planet berbatu lainnya di masa depan.

Demetrius Adyatma Pangestu dari Universitas Bina Nusantara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.The Conversation

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.