Pengunjuk Rasa dan Polisi Kembali Bentrok

Kamis, 30 Mar 2023, 02:25 WIB

PARIS - Bentrokan baru meletus di Prancis antara pengunjuk rasa dan polisi ketika puluhan ribu orang turun ke jalan untuk menunjukkan kemarahan mereka terhadap reformasi pensiun usulan Presiden Emmanuel Macron yang telah memicu krisis domestik besar.

Unjuk rasa dan pemogokan nasional yang telah berlangsung beberapa hari itu menentang undang-undang serikat pekerja yang salah satunya membahas wacana menaikkan usia pensiun dari 62 menjadi 64 tahun.

Ket. Foto: Beri Pertolongan | Polisi Prancis memberikan pertolongan pada seorang pria yang terluka saat terjadi bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa di Paris, Selasa (28/3). Bentrokan ini terjadi setelah serikat pekerja melakukan aksi mogok dan berunjuk rasa untuk menentang reformasi pensiun. — Sumber: AFP/Christophe ARCHAMBAULT

Aksi protes dan mogok kerja tersebut telah menjadi mimpi buruk bagi Macron yang memenangkan masa jabatan kedua dalam pemilu tahun lalu dan menjadi krisis terbesar dari mandat keduanya.

Sekitar 13.000 polisi dikerahkan di seluruh negeri pada Selasa (28/3) setelah pada Kamis (23/3) lalu terjadi bentrokan paling keras antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan.

Saat itu polisi Prancis telah dituduh menggunakan kekuatan berlebihan, baik oleh pengunjuk rasa maupun badan hak asasi manusia, dan semua ini semakin memicu kemarahan para demonstran.

Di Paris timur, polisi menembakkan gas air mata dan mengejar beberapa pengunjuk rasa setelah ada oknum pengunjuk rasa berpakaian hitam dengan wajah tertutup, menjarah toko bahan makanan dan menyalakan api saat kerumunan massa pengunjuk rasa mendekati Place de la Nation.

Polisi mengatakan sedikitnya 27 orang ditangkap di ibu kota pada sore hari dan polisi mengatakan mereka jadi sasaran pengunjuk rasa yang melempar batu dan botol.

Selain memicu bentrokan, para pengunjuk rasa juga menyebabkan kekacauan di Gare de Lyon, salah satu stasiun tersibuk di Paris, karena mereka berjalan di atas rel dan menyalakan suar yang mereka sebut sebagai pertunjukan solidaritas untuk staf kereta api yang kehilangan mata dalam protes sebelumnya.

Selain di Paris, bentrokan dan kericuhan juga dilaporkan terjadi di Kota Nantes dan Lille.

Lanjutkan Aksi

Setelah hampir dua pekan usai Macron memaksakan undang-undang pensiun baru di parlemen dengan menggunakan ketentuan khusus, serikat pekerja telah bersumpah tidak akan berhenti untuk turun ke jalan hingga pemerintah mundur.

Pada awal pekan ini, Macron membahas terjadinya krisis ini dengan Perdana Menteri Elisabeth Borne, menteri kabinet, dan anggota parlemen senior di Istana Elysee.

"Kita perlu terus mengulurkan tangan kepada serikat pekerja, meskipun presiden menolak revisi undang-undang pensiun," kata seorang pejabat yang hadir di pertemuan itu dan mengutip ucapan Macron.

Sementara itu dalam pernyataan bersamanya, serikat pekerja mengumumkan bahwa mereka akan kembali melakukan aksi pemogokan dan protes baru pada 6 April pekan."Tidak adanya tanggapan dari eksekutif telah menyebabkan situasi ketegangan yang sangat mengkhawatirkan di negara kami," demikian bunyi pernyataan mereka.

Pihak Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut bahwa jumlah pengunjuk rasa yang turun ke jalan secara nasional pada Selasa berjumlah sekitar 740.000 orang, turun dari 1,09 juta orang yang berunjuk rasa pada Kamis lalu.

Sementara pihak serikat pekerja CGT mengklaim ada lebih dari dua juta orang turun ke jalan. Angka partisipasi inijuga turun dari perkiraan jumlah massa yang turun kejalan sebanyak 3,5 juta orang pada aksi protes pada 23 Maret lalu.

Aksi protes dan mogok kerja ini juga membuat angkutan massal di Paris sangat terpengaruh, dengan lalu lintas baik di jalur kereta bawah tanah maupun kereta pinggiran kota terganggu. SB/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.