Hadapi Krisis Pangan, Pakar UGM: Pemerintah Perlu Mendorong Pengembangan Sumber Daya Genetik Baru untuk Tanaman Pangan

Kamis, 16 Mar 2023, 13:17 WIB

YOGYAKARTA - Produksi pangan nasional saat ini dan di masa mendatang dihadapkan pada tantangan besar berupa kenaikan populasi penduduk ditengah produksi pangan yang cenderung stagnan. Padahal jumlah produksi pangan harus diupayakan setidaknya dua kali lipat dibandingkan dengan produksi pangan saat ini untuk menghindari bencana kelaparan pada tahun 2050.

Namun upaya pemerintah untuk mendorong peningkatan produksi pangan dihadapkan pada persoalan pelemahan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, strategi pengembangan intensifikasi pertanian dan pengembangan material genetik baru untuk tanaman pangan sebagai terobosan untuk mengatasi ancaman bencana kelaparan.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Demikian beberapa hal yang mengemuka dalam Webinar Nasional dengan tema Sumber Daya Genetik untuk Produksi Pangan Berkelanjutan: Studi Kasus Pengembangan Padi Seri Gamagora, Kamis (16/3).

Webinar yang diselenggarakan oleh Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada ini menghadirkan Dosen Pemulia Tanaman, Fakultas Pertanian UGM, Dr. Taryono, peneliti Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Bandung, Prof. Agung Karuniawan, dan Manajer Laboratorium Proteksi Tanaman PT. BISI Internasional Tbk, Hoerussalam, M.Sc.

Taryono mengatakan peningkatan produksi pangan dapat dilakukan melalui dua skenario yaitu perluasan areal tanam atau ekstensifikasi dan optimalisasi operasional produksi atau intensifikasi. Namun demikian, skenario ekstensifikasi pada beberapa tahun ke depan terkendala akibat dari penguasaan lahan per petani yang terus menyempit. Ia menyebutkan pada tahun 1960, rerata penguasaan lahan per petani yaitu 5 ribu meter persegi.

Pada tahun 2020 penguasaan lahan per petani menurun signifikan jadi 2 ribu meter persegi. Berdasarkan atas kondisi tersebut, Taryono menilai diperlukan upaya pengembangan material genetik baru untuk jenis tanaman pangan dalam rangka mewujudkan peningkatan produksi pangan melalui skenario intensifikasi. "Program pengembangan material genetik baru merupakan terobosan utama untuk memecah kebuntuan dalam skenario peningkatan produksi pangan," kata kepala Pusat Inovasi Agrotenologi (PIAT) UGM ini, Kamis (16/3).

Menurutnya, bangsa Indonesia memerlukan upaya percepatan pemanfaatan sumber daya genetik Indonesia untuk mewujudkan material genetik baru tanaman pangan yang lebih produktif dengan mutu hasil tinggi, tahan berbagai tekanan lingkungan abiotik dan tahan terhadap tekanan lingkungan biotik seperti hama, penyakit dan gulma.

PIAT UGM bekerja sama dengan tim peneliti dari fakultas Pertanian UGM, kata Taryono, kini tengah melakukan serangkaian program pemuliaan untuk mendapatkan material genetik baru untuk beberapa jenis tanaman pangan seperti padi, bawang merah, tomat, cabai rawit, jagung, terong, mentimun, kedelai, kacang panjang, kacang hijau, kacang koro dan melon. "Salah satu material genetik baru tanaman padi yang sudah mendapatkan ijin pelepasan varietas dari Kementerian Pertanian RI yaitu Gamagora 7," paparnya.

Menurutnya, varietas padi ini dirancang untuk memiliki sifat produktivitas tinggi dengan potensi hasil gabah kering giling mencapai 9,80 ton per hektar per musim. Bahkan dari mutu citarasa menyamai beras pulen dan tahan dinamika cuaca ekstrim.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Agung Karuniawan, program pemuliaan tanaman melalui pemanfaatan kelimpahan sumber daya genetik merupakan terobosan utama untuk mewujudkan produktivitas pangan yang tinggi dan berkelanjutan. "Saya kira tren dalam program pemuliaan ke depan juga memasukkan aspek kekayaan metabolit di dalam produk untuk mendukung produksi pangan fungsional," jelasnya.

Sementara Hoerussalam, M.Sc. menyampaikan bahwa kebutuhan akan material genetik baru untuk tanaman pangan khususnya padi saat ini lebih dititik beratkan pada sifat produktivitas tinggi, mutu hasil baik, hemat air-nutrisi dan tahan hama-penyakit sehingga bisa mendorong peningkatan produksi pangan di tengah minimnya sempitnya luasan lahan yang dikelola petani kita.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

Berita Terbaru

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Event Budaya Lokal Dipadukan Sport dan Lifestyle Bakal Perkuat Pengembangan Mandalika

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.