Penyakit Kardiovaskular Lebih Banyak Terjadi di Negara Miskin-Menengah

Sabtu, 11 Mar 2023, 14:10 WIB

Penyakit kardiovaskular dilaporkan membunuh lebih banyak di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tak terkecuali Indonesia. Pada 2021, WHO melaporkan penyakit kardiovaskular merenggut sekitar 17,9 juta jiwa setiap tahunnya, di mana tiga perempat kematian dunia akibat CVD terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Di Indonesia sendiri, penyakit kardiovaskular menempati peringkat tertinggi penyebab kematian di Indonesia terutama pada usia-usia produktif.

Ket. Foto: Ilustrasi pasien dengan penyakit kardiovaskular. — Sumber: Official U.S. Navy Page

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), prevalensi penyakit kardiovaskular terus meningkat di Indonesia. Prevalensi hipertensi yang termasuk dalam penyakit kardiovaskular dilaporkan meningkat dari 25,8 persen pada 2013 menjadi 34,1 persen pada 2018. Begitu juga prevalensi penyakit gagal ginjal kronis yang meningkat menjadi 0,38 persen pada 2018 dari yang sebelumnya berkisar di angka 0,2 persen pada 2013. Sementara prevalensi penyakit jantung koroner tetap berada di angka 1,5 persen untuk periode yang sama.

Data Riskesdas 2018 juga melaporkan bahwa prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia mencapai 1,5 persen, dengan prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Utara 2,2 persen. Diikuti Daerah Istimewa Yogyakarta dan Gorontalo dengan masing-masing 2 persen. Penyakit jantung memang menjadi penyebab utama kematian di tingkat global selama 20 tahun terakhir, dan bahkan membunuh lebih banyak orang daripada sebelumnya. Dalam laporan "WHO reveals leading causes of death and disability worldwide: 2000-2019", jumlah kematian akibat penyakit jantung tercatat meningkat lebih dari 2 juta sejak tahun 2000, menjadi hampir 9 juta pada tahun 2019.

Menurut WHO, orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, seringkali tidak mendapatkan manfaat dari program perawatan kesehatan primer untuk deteksi dini dan pengobatan orang dengan faktor risiko penyakit kardiovaskular. Orang-orang di negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menderita penyakit kardiovaskular dan penyakit tidak menular lainnya juga kurang memiliki akses ke layanan perawatan kesehatan yang efektif dan adil yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Akibatnya, banyak orang meninggal pada usia yang lebih muda akibat penyakit kardiovaskular, seringkali pada tahun-tahun paling produktif mereka.

Orang termiskin di negara berpenghasilan rendah dan menengah paling terpengaruh. Di tingkat rumah tangga, muncul bukti bahwa penyakit kardiovaskular, dan penyakit tidak menular lainnya berkontribusi terhadap kemiskinan karena pengeluaran kesehatan yang sangat besar dan pengeluaran pengeluaran yang tinggi. Pada tingkat ekonomi makro, penyakit kardiovaskular, memberikan beban berat pada ekonomi negara berpenghasilan rendah dan menengah. Berdasarkan data BPJS Kesehatan pada 2021, pembiayaan kesehatan terbesar ada pada penyakit jantung sebesar Rp7,7 triliun. Perlu dicatat, angka itu hanya mencakup pembiayaan untuk penyakit jantung yang merupakan satu dari sekian penyakit.

Melansir laman Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, risiko penyakit kardiovaskular meningkat seiring dengan bertambahnya usia karena terganggunya sistem kardiovaskular. Menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NIH), penyakit kardiovaskular paling umum terjadi pada orang berusia di atas 50 tahun. Adapun faktor risiko terjadinya penyakit kardiovaskular paling sering yaitu hipertensi, diabetes Melitus, dislipidemia, obesitas, dan merokok. Konsumsi alkohol yang berlebihan juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dan tekanan darah, serta berkontribusi terhadap risiko terkena penyakit kardiovaskular.

Namun, faktor risiko yang disebutkan dapat dipengaruhi dan bertindak secara berbeda tergantung pada profil genetik yang berbeda dari individu dan usia. Artinya, risiko terkena penyakit kardiovaskular bisa jauh lebih tinggi pada beberapa individu. Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NIH) menuturkan seseorang yang memiliki riwayat keluarga penderita penyakit kardiovaskular juga lebih berisiko mengidap penyakit yang sama. Khususnya, mereka yang memiliki ayah atau saudara laki-laki yang didiagnosis menderita penyakit kardiovaskular sebelum mereka berusia 55 tahun. Juga, ibu atau saudara perempuan yang didiagnosis menderita penyakit serupa sebelum mereka berusia 65 tahun.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Suliana

Berita Terbaru

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

Manggala Agni Sumatra Berjibaku Padamkan Karhutla di 17 Desa

Polda Banten Ungkap Sindikat Curanmor Spesialis Pick-up di 14 Lokasi

Tetap Tunjukkan Dedikasi dan Keberanian, Perwira polisi Terluka Kena Pecahan Kaca saat Gerebek Gudang Uang Palsu di Tangsel

93.782 Ton Beras Siaga! BULOG Antisipasi Bencana NTT Hingga 10x Masa Darurat

Gubernur Bali Minta Peradi Siapkan Pendampingan Hukum Perkuat Desa Adat

Wagub Rano Buka Jakarta Beat Society 2026: Komitmen Perluas Ruang Kreatif Musisi Lokal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.