Industri Sudah Semakin Percaya dengan Pendidikan Vokasi

Rabu, 08 Mar 2023, 01:10 WIB

JAKARTA - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, mengatakan industri semakin percaya untuk berkolaborasi dengan pendidikan vokasi. Tingkat kepuasan industri terhadap pendidikan vokasi sudah terbilang tinggi.

"Capaian kita ini tidak terlepas dari semakin percaya mitra industri untuk kerja sama kepada satuan pendidikan vokasi," ujar Nadiem dalam acara Unite for Education 2023, di Jakarta, Selasa (7/3).

Ket. Foto: Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim — Sumber: Antara

Nadiem mengatakan, pihaknya telah melakukan survei kepada sekitar 708 mitra industri pendidikan vokasi. Berdasarkan survei tersebut, tingkat kepuasan industri pada pendidikan vokasi mencapai 3,46 dari skala empat.

"Lumayan masih bisa ditingkatkan, tapi itu sudah peningkatan yang jauh dari sebelumnya. Peningkatan kepercayaan itu adalah modal penting untuk mematangkan upaya kita mewujudkan lulusan vokasi sebagai SDM unggul," jelasnya.

Investasi Industri

Nadiem mengungkapkan, ada dua program besar dalam pendidikan vokasi yaitu SMK Pusat Keunggulan (PK) dan Kampus Merdeka Vokasi. Dalam program tersebut, terdapat dua skema pendanaan yaitu Skema Pemadanan Dukungan untuk SMK dan Matching Fund untuk perguruan tinggi vokasi.

Di tahun 2022, sudah 1.400 SMK melaksanakan program SMK PK atau 30 persen dari seluruh anak SMK terlibat dalam program. Adapun jumlah investasi untuk SMK di atas 400 miliar rupiah. "Jadi kalau ada perusahaan yang ingin mengadopsi suatu SMK dengan dana yang ada, Kemendikbudristek akan memadamkan. Ini laris manis," kata Nadiem.

Dia menambahkan, untuk perguruan tinggi vokasi dengan skema matching fund, dana kolaborasi yang direkomendasikan pada tahun 2021 mencapai 65 miliar rupiah. Di tahun 2022 meningkat menjadi 133 miliar rupiah.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, Saryadi, mengatakan, Pemerintah Daerah (Pemda) diharapkan mampu mengarahkan SMK untuk bisa membuka program studi (prodi) baru. Prodi baru tersebut mesti relevan dengan kebutuhan industri.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.